KETIKA PEREMPUAN HANYA MENJADI JEJAK: POLITIK REPRESENTASI DALAM RUANG NARATIF CERPEN LELAKI-LELAKI TANPA PEREMPUAN
Lelaki-Lelaki tanpa Perempuan. Cerita pendek (cerpen) karya Haruki Murakami itu, mengisahkan pergumulan batin seorang laki-laki. Ceritanya diawali dari sambungan telepon yang mengabarkan kematian seorang perempuan. Bukan kematian biasa. Perempuan itu dikabarkan mati bunuh diri. Kabar duka itu menjadi titik awal cerita. Alurnya bergerak melalui kilas balik yang mengungkap masa silam tokoh utama.
Kematian perempuan itu membuat sang tokoh merasakan gejolak emosi, penyesalan, dan kesedihan yang mendalam. Melalui pergumulan batin itu, Murakami menyampaikan bahwa perempuan itu bukan sosok biasa. Ia adalah mantan kekasih tokoh cerita yang telah lama meninggalkannya. Sekilas tidak ada yang perlu dipersoalkan dari alur tersebut. Lazimnya sebuah karya sastra, Murakami seolah ingin mengajak pembaca larut dalam situasi yang dialami tokoh cerita.
Namun, jika ditelisik lebih dalam, ada satu hal yang cukup menggelitik. Meskipun kata perempuan terpampang dalam judul, namun cerpen tersebut menghadirkan dunia yang hampir semuanya diisi kaum pria. Kehadiran perempuan di ruang naratif itu, tidak lebih hanya melalui ingatan dan kenangan tokoh cerita. Cerpen yang terbit tahun 2014 itu, menempatkan perempuan sebagai sesuatu yang dirujuk dalam ketiadaannya. Frasa “tanpa perempuan” seakan menegaskan bahwa perempuan menjadi pusat makna, namun direduksi hanya sebagai jejak cerita.
Pilihan kata “tanpa” dalam judul misalnya, bisa jadi bukan sekedar penanda ketiadaan fisik. Kata itu bisa menjadi strategi naratif yang menghadirkan perempuan hanya sebagai penanda krisis dan pencarian identitas laki-laki. Melalui tokoh, alur, dan sudut pandang, Murakami menata batas-batas siapa yang layak bicara. Cerpen tersebut bertutur tentang M, mantan kekasih tokoh cerita. Siapa M, bagaimana karakternya, dan bagaimana perasaan dan pendapatnya tentang laki-laki yang menjadi pacarnya, tergambar dari perspektif laki-laki.
Sangat jelas terlihat, bahwa perempuan menjadi pusat konflik. Namun ia tidak tidak pernah mendapatkan posisi sebagai subjek yang mengartikulasikan pengalaman hidupnya sendiri. Paradoks inilah yang menjadi titik kritik terhadap cerpen Lelaki-Lelaki tanpa Perempuan. Di satu sisi, perempuan menjadi pusat grafitasi cerita. Di sisi lain, ia menjadi sosok yang seolah tak layak bicara. Berbagai tafsir atas teks tersebut, tentu saja bukan tentang benar atau salah.
Barthes (1977) menjelaskan bahwa makna teks muncul melalui aktivitas pembaca. Dalam konteks itu, pembaca memiliki peran aktif untuk menterjemahkan maksud teks sesuai pengalaman, pengetahuan, dan konteks sosialnya. Selain itu, bahasa tidak pernah menjadi private game sepenuhnya. Hall (1997) menjelaskan, makna bahasa bukan milik ataupun hak prerogative pembicara. Bahasa juga bukan sekedar mengekspresikan niatan pembicara. Sebab, bahasa yang digunakan oleh pembicara bukanlah milik pribadi, melainkan hasil kesepakatan sosial yang dimiliki bersama.
Ideologi dalam Karya Sastra
Dalam perspektif kritik sastra, karya sastra tidak dianggap lahir dalam ruang sosial yang kosong. Pengalaman dan pengetahuan pengarang masuk ke dalam karya sastra melalui bahasa yang digunakannya. Oleh karena itu, sastra dapat dipahami sebagai produk sekaligus arena ideologi. Eagleton (2008) dalam bukunya Literary Theory: An Introduction menegaskan bahwa karya sastra selalu mengandung ideologi. Representasi tokoh cerita, konflik, dan juga nilai-nilai yang dibangun dalam karya sastra menjadi bagian pertarungan ideologi.
Mengacu pendapat tersebut, ketidakhadiran perempuan dalam teks bukanlah sekedar teknis penceritaan. Ia hadir sebagai sebuah praktik representasi yang memproduksi makna melalui bahasa, struktur naratif, tokoh, dan berbagai kode budaya. Melalui ketidakhadiran suara perempuan, cerpen itu memperlihatkan bagaimana relasi kuasa bekerja dalam produksi makna. Alur cerita itupun menjadi pintu masuk untuk mempertanyakan: siapa yang diberi hak bertutur, siapa yang menjadi pusat narasi, dan siapa yang hanya dibiarkan menjadi jejak di dalam cerita.
Selain M yang dihadirkan sebagai pusat narasi, cerpen ini juga menghadirkan perempuan lain. Ia adalah istri tokoh utama. Meski hanya sebagai pelengkap cerita, namun dialog di ruang naratif itu cukup untuk membuktikan bahwa perempuan tidak memiliki suara. Hal itu terlihat ketika istri tokoh utama mempertanyakan tentang kabar yang diterima suaminya dari sosok yang tidak dikenalnya. “Telepon soal apa? Siapa yang mati?,” Tanya istrinya. “Tidak ada yang mati. Salah sambung,” jawab suaminya. Sang istri dinarasikan diam saja, dan tidak melakukan upaya apapun untuk menggali informasi.
Pada paragraf itu, Murakami hanya menarasikan bahwa istri tokoh utama nampak tidak percaya dengan jawaban suaminya. Namun, narasi itu sebatas ungkapan narator, karena tidak ada ungkapan apapun yang keluar dari mulut sang istri. Alur dialog itupun mempertontonkan sebuah stereotyping terhadap perempuan. Dialog itu seolah menegaskan bahwa perempuan adalah sosok yang “nerimo”, pasrah, bahkan tidak memiliki daya kritis. Ia akan menelan begitu saja, informasi yang diterimanya, meski belum tentu masuk logika.
Stereotyping bahkan tidak hanya terlihat dalam alur cerita. Sejumlah teks menuliskannya dengan bahasa yang lugas. Dalam salah satu paragraph misalnya, Murakami menulis: “Dia hanya terjebak dalam bujukan manis pelaut berpengalaman, terpaksa naik kapal besar dan terbawa ke tempat jauh. Soalnya, ia orang yang selalu gampang percaya.” Melalui kalimat itu, Murakami memberikan gambaran tentang M, sebagai perempuan yang lebih mendasarkan pada rasa bukan logika dalam bertindak.
Dalam konteks representasi perempuan di ruang naratif, bahasa memiliki peran penting, Buikema (2009) dalam bukunya berjudul The Arena of Imaginings: Sarah Bartmann and the Ethics of Representation menjelaskan “language can be a means of making present whatever is absent.” Menurut Buikema, perempuan tidak cukup hanya hadir, karena representasi tidak hanya persoalan hadir atau tidak hadir.
Kita perlu memastikan; bahasa seperti apa yang digunakan untuk membicarakan perempuan, siapa yang membicarakan, dan dalam kontek apa perempuan dihadirkan dan diposisikan. Sebab, representasi bukanlah praktik yang netral dan bebas nilai, karena praktik produksi makna selalu melibatkan upaya seleksi, reduksi, penambahan, pembingkaian, dan berbagai tindakan lainnya.
Tuchman (1978) dalam tulisannya yang berjudul “The symbolic annihilation of women by the mass media” berpendapat, media mencerminkan nilai-nilai dominan masyarakat dalam berbagai citra dan representasi. Tuchman menilai media telah melakukan pemusnahan simbolis terhadap perempuan. Kehadiran perempuan seringkali dianggap tidak penting, sehingga perempuan sengaja tidak ditampilkan. Kalaupun perempuan dimunculkan, keberadaannya sebatas sebagai pelengkap tanpa memiliki peran.
Mendobrak Hegemonic Masculinity
Ketidakhadiran suara perempuan, bukan satu-satunya pesan yang bisa digali dari cerpen ini. Ada paradoks representasi yang terbaca di dalamnya. Murakami terlihat tengah menegosiasikan konsep “hegemonic masculinity”. Sebuah konfigurasi praktik gender yang menjadi bentuk maskulinitas yang paling diterima. Laki-laki yang seringkali digambarkan sebagai sosok kuat dan keras, mengutamakan logika, dan tidak tenggelam dalam rasa. Namun penggambaran tersebut tidak terlihat dalam cerpen ini.
Dari awal hingga akhir cerita, laki-laki digambarkan sebagai sosok melankolis. Ia tenggelam dalam nostalgia masa lalu. Penggambaran sosok melankolis, yang umumnya disematkan pada perempuan, seolah menjadi bentuk negosiasi tehadap konsep maskulinitas. Dalam sebuah teks tertulis, “Ketika diberitahu tentang kematian M, aku dibuat merasa menjadi lelaki paling kesepian nomor dua di dunia.” Dengan lugas Murakami juga menulis, “Dan sekali menjadi lelaki-lelaki tanpa perempuan, warna kesepian itu meresap dalam-dalam di tubuhmu.”
Kalimat yang mengesankan rapuhnya jiwa lelaki tergambar dari awal hingga akhir cerita. Disinilah paradoks itu terjadi. Di satu sisi, cerpen ini mereduksi suara perempuan. Di sisi lain, melalui cerpen ini, Murakami seolah tengah menggugat dominasi konsep gender, khususnya terkait maskulinitas. Maskulinitas tidak selalu tentang laki-laki yang garang dan tegas. Maskulinitas juga bukan sifat bawaan laki-laki. Seperti disampaikan oleh Connell dan Messerschmidt, (2005) melalui tulisan mereka “Hegemonic Masculinity: Rethinking the Concept” sebagaimana konsep gender, maskulinitas juga dibentuk melalui praktik sosial.