PEREMPUAN SEBAGAI SUBJEK DAN OBJEK SEKSISME DALAM FILM TILIK
Pengantar
Representasi perempuan sebagai sosok cerewet dan tidak rasional, kerap kita jumpai dalam berbagai media, khususnya film. Karakter tersebut telah menjadi tontonan yang seolah merepresentasikan realitas karakter perempuan dalam kehidupan nyata. Khalayak bahkan tidak lagi melihat hal itu sebagai sebuah pelecehan terhadap perempuan. Tayangan media secara terus menerus dengan pesan yang sama, mampu membius kesadaran individu dalam meresepsi sebuah tontonan. Alih-alih diprotes sebagai sebuah seksisme, representasi karakter itu justru dinikmati sebagai hiburan dan dipahami sebagai sesuatu yang wajar. Padahal, seksisme bisa terjadi dalam berbagai bentuk tayangan, dari yang bersifat terselubung hingga bahasa dan visual yang vulgar.
Ketidaksadaran individu terhadap tayangan seksisme, bukan satu-satunya persoalan. Hal lain yang lebih ironis adalah, kehadiran media, khususnya film yang tidak hanya menampilkan perempuan sebagai objek seksisme, yang notabenenya dilakukan laki-laki. Melalui film, laki-laki (baca; sutradara) meminjam tubuh perempuan untuk melakukan tindak seksisme terhadap kaumnya sendiri. Dalam kontek tersebut, perempuan menjadi objek sekaligus subjek dari praktik budaya patriarki. Akhirnya, peran ganda yang kerap dibicarakan tidak sekedar terkait peran perempuan di ranah publik dan domestik. Peran ganda juga merambah dunia pertunjukan. Sebuah peran yang menggambarkan perempuan sebagai korban sekaligus pelaku tindak pelecehan. Penggambaran dualisme peran itu, bisa ditemukan dalam berbagai film, salah satunya adalah film yang berjudul ‘Tilik’.
‘Tilik’ merupakan film pendek karya anak bangsa yang dirilis pertama kali tahun 2018. Tilik merupakan Bahasa Jawa yang berarti menjenguk. Film garapan sutradara Wahyu Agung Prasetyo itu, diproduksi oleh Ravacana Film bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tilik menceritakan tentang sekelompok ibu-ibu dari sebuah desa yang hendak menengok panutan mereka, Bu Lurah yang tengah dirawat di rumah sakit. Perjalanan yang ditempuh dengan naik truk – angkutan yang biasa dipakai penduduk desa karena murah-diwarnai berbagai cerita dan gosip. Mereka memperbincangkan sosok Dian, kembang desa yang terkenal cantik dan hidup mapan.
Film yang berdurasi 30 menit itu, didominasi oleh pemeran perempuan, dengan tokoh utama yang paling menonjol adalah Bu Tejo. Dari awal hingga akhir film, dialog para tokohnya fokus pada perbincangan tentang sosok Dian, baik terkait profesi, hubungan asmara, pendidikan, kesehatan, harta benda, penggunaan susuk, hingga kekayaan ibunya. Bu Tejo menggunakan informasi ini untuk meyakinkan ibu-ibu lain bahwa Dian adalah ‘gadis nakal’. Berbicara paling keras, dan memiliki mulut yang besar, Bu Tejo berada di tengah frame sebagian besar film, dan mendominasi film tersebut. Dia didukung oleh perempuan lain di dalam truk, Yu Sam dan Bu Tri, dan hanya satu yang menantangnya, Yu Ning. Sementara perempuan lainnya kebanyakan diam. Film tersebut memperlihatkan bagaimana perempuan bisa menekan perempuan lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Bu Tejo, Yu Sam, dan Bu Tri mengesampingkan Yu Ning yang mencoba menawarkan narasi yang berbeda tentang Dian.
Latar Belakang
‘Tilik’ terbilang film pendek yang sukses di pasaran. Selain meraih piala Maya, film yang diunggah di kanal Youtube 17 Agustus 2020 itu, menyedot perhatian pemirsa. Liputan6.com melansir, film ini ditonton 20 juta orang (https://www.liputan6.com/showbiz/read/4344625/film-tilik-tembus-20-juta-penonton-bu-tejo-dapat-gelar-ratu-gibah-indonesia). Kesuksesan film ‘Tilik’ menandakan bahwa film yang membingkai persoalan perempuan dan mengangkat tokoh perempuan masih cukup diminati khalayak pemirsa. Kondisi tersebut sejalan dengan hasil riset yang dilakukan Creative Artist Agency (CAA) dan Shift7, bekerjasama dengan Time’s Up, sebuah organisasi penentang pelecehan seksual di tempat kerja bentukan tokoh perempuan di industri hiburan Amerika. Dalam siaran persnya (https://shift7.com/media-research), CAA menyebutkan bahwa film dengan protagonis perempuan meraup pendapatan lebih banyak dibanding film dengan tokoh laki-laki. Riset itu dilakukan terhadap 350 film paling laris (box office) di dunia yang dirilis dalam kurun waktu 2014-2017.
Tilik memberikan gambaran budaya ‘ghibah’ atau menggunjing dan kebiasaan ‘ngrumpi, yang notabenenya sering dikaitkan dengan perempuan. Disisi lain, tokoh perempuan produktif, mandiri, dan berpikiran maju yang menjadi bagian dari alur cerita, justru tidak dimunculkan dalam film ini. Tilik lebih fokus pada penonjolan narasi yang mempertontonkan perempuan yang senang bergosip dan tidak rasional. Perempuan dalam wacana film Tilik dicitrakan sebagai sosok yang tidak mengedepankan nalar dalam melihat suatu persoalan, bahkan dengan sadar melakukan tindak ‘seksisme’ atas kaumnya sendiri.
Kondisi tersebut sangat berbeda dengan penggambaran laki-laki dalam dunia media, yang kerap dicitrakan sebagai sosok yang memiliki intergritas dan kemampuan penalaran yang baik. Friedan (1963) mengatakan bahwa laki-laki direpresentasikan lebih baik secara kualitatif dan kuantitatif dalam teks media. Perbedaan citra perempuan dan laki-laki tersebut tidak terlepas dari konsep gender. Menurut Tierney (1999: 165), gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat. Representasi perempuan dalam film yang kerap bias gender itu, menjadi perhatian tersendiri saat kemunculan jurnal feminis Woman and Film tahun 1972. Jackson dan Jones (2009: 364) menjelaskan bahwa kehadiran jurnal tersebut bersifat politis, yaitu melakukan perlawanan terhadap citra perempuan dalam film dan peran perempuan dalam industri film. Jackson dan Jones (2009) memandang representasi media sebagai citra yang keliru mengenai perempuan, stereotipe yang merusak persepsi diri perempuan, sekaligus membatasi peran sosial mereka.
Film Tilik yang notabenenya digarap oleh sutradara laki-laki, tidak bisa dilepaskan dari ideologi dominan (ideologi patriarki). Sosok Bu Tejo yang dihadirkan sebagai tokoh sentral merupakan bentukan karakter dari sudut pandang laki-laki. Tuchman (1978) menjelaskan bahwa media mencerminkan nilai-nilai dominan masyarakat dalam bentuk berbagai citra dan represenatsi. Selain itu, media juga bertindak sebagai agen sosialisasi yang menyampaikan berbagai citra mengenai peran jenis kelamin yang distereotipkan. Merujuk pendapat tersebut, Film Tilik tidak semata menjadi cerminan budaya dominan, tetapi sekaligus menjadi kepanjangan tangan budaya dominan dalam melakukan stereotyping perempuan.
Dalam Film Tilik, stereotipe perempuan bisa dilihat dengan mudah melalui teks dialog tokoh-tokoh film itu yang sarat ujaran seksisme. Eriyanto, dalam bukunya yang berjudul Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media (2001) menegaskan bahwa teks mengandung wacana dan ideologi. Teks bisa menjadi sarana sekaligus media yang digunakan suatu kelompok untuk mengunggulkan diri sendiri dan memarginalkan kelompok lain.
Kehadiran Film Tilik membuktikan bahwa ketidakadilan gender masih terus ditampilkan oleh media, meskipun paham feminisme telah ada sejak puluhan tahun sebelum film ini hadir di jagat maya. Berdasar pada berbagai pembahasan di atas, paper ini akan melihat; Bagaimana seksisme direproduksi dan dipraktikkan dalam Film Tilik? Bagaimana Film Tilik membingkai stereotype perempuan sebagai sebuah tontonan?
Representasi dan Media
Berbagai karakter yang dipertontonkan dalam film Tilik, seolah menjadi representasi karakter perempuan pada umumnya. Untuk memastikan hal tersebut, kita perlu melihat dengan cermat bagaimana sebuah media bekerja. Hall dalam sebuah video kuliahnya yang berjudul Represenatation and the Media (Jhally, 2005: 3) meyakini bahwa berbagai pesan yang dikomunikasikan oleh media bersifat kompleks dan terkait erat dengan relasi kuasa dan kepentingan ideologis tertentu. Mengacu pendapat tersebut, kita tidak bisa bersikap taken for granted dalam memaknai representasi yang diproduksi dan disebarkan oleh media.
Hall (1997: 2) menjelaskan representasi adalah proses produksi makna melalui bahasa. Dalam Shorter Oxford English Dictionary (dalam Hall, 1997: 2), kata representasi merujuk pada dua pengertian yang berbeda tetapi saling berkaitan. Pengertian pertama merujuk pada tindakan untuk mendeskripsikan, menggambarkan, dan menghadirkan sesuatu dalam ingatan baik melalui deskripsi, potret, maupun imajinasi. Sedangkan pengertian kedua merujuk pada upaya menyimbolkan, menggantikan, dan juga mewakili.
Jika dikaitkan dengan persoalan budaya, Du Gay (dalam Hall, 1997) melihat representasi sebagai salah satu elemen penting dalam sirkuit budaya. Dalam konteks ini, media tidak hanya dilihat dari proses produksi pesan, namun dipengaruhi oleh faktor luar media itu sendiri. Makna media dibentuk dari kehidupan sehari-hari yang dipengaruhi relasi kuasa dan norma dominan masyarakat yang kemudian direpresentasikan dalam sebuah teks. Melalui tulisannya yang berjudul The Work of Representation (1997), Hall juga menegaskan bahwa budaya merupakan aspek sentral dalam representasi. Menurut Hall (1997: xviii) budaya merupakan sebuah proses bukan produk. Merujuk hal tersebut, Hall (1997: 3) mendefinisikan representasi sebagai “the production of meaning of the concepts in our minds through language”. Melalui definisi ini, Hall menegaskan bahwa representasi bukan proses mimesis yang sekedar menangkap dan menampilkan kembali makna yang sudah ada sebelumnya (Hall dalam Jhally, 2005: 6).
Noviani (2020: 66) menjelaskan makna dihasilkan dari peta konseptual yang dianut dan dipahami bersama orang lain dan dipelajari dari kultur tempat individu hidup. Jadi, individu tidak memproduksi maknanya sendiri. Sebagai sebuah produksi makna, Hall (1997: 3-4) menjelaskan bahwa representasi memiliki dua tahapan, mental dan praktik penandaan. Tahap representasi mental terjadi ketika seseorang menghubungkan konsep yang ada dalam pikiran dengan objek, orang, atau peristiwa di sekitarnya. Selanjutnya individu akan menghubungkan konsep yang ada dalam pikiran dengan sejumlah tanda, seperti gambar, suara, dan kata-kata. Tahap inilah yang kemudian disebut sebagai praktik penandaan.
Hall (dalam Jhally, 2005: 14) mendefinisikan praktik penandaan sebagai proses penterjemahan konsep yang ada dalam pikiran ke dalam tanda, sehingga makna berbagai peristiwa dapat dikomunikasikan dan dipertukarkan. Selanjutnya, tanda-tanda yang mengandung makna itu, ditampilkan dalam bentuk bahasa agar bisa diakses individu lain. Pada tahap ini, bahasa berperan penting dalam mengkonstruksi dan memproduksi makna. Dalam praktik representasi, bahasa tidak hanya berupa ujaran dan tulisan semata. Representasi juga melibatkan bahasa dalam bentuk lain, seperti suara, citra visual, ekspresi wajah, gesture, emoji, dan juga fashion.
Dalam konteks representasi, Hall (1997: 10-11) menggunakan pendekatan konstruktif untuk melihat peran bahasa. Beradasar pendekatan ini, bahasa dinilai memegang peran penting dalam proses produksi makna. Hal ini berbeda dengan dua pendekatan lainnya, reflektif dan intensional. Dalam kacamata pendekatan reflektif, bahasa hanya merefleksikan makna dari suatu objek atau peristiwa. Sedang pendekatan intensional melihat peran bahasa dari sisi pembicara, dimana lawan bicara hanya sebagai pendengar dan akan mengikuti makna yang dibuat oleh pembicara. Menurut Hall (1997), representasi tidak bisa dilihat dengan kedua pendekatan itu. Sebab, bahasa bukan semata milik pembicara, melainkan milik bersama sesuai kesepakatan sosial yang berlaku. Seorang pembicara akan tetap tunduk pada aturan bahasa yang disepakati bersama.
Peran penting bahasa dalam ruang representasi, juga menjadi perhatian Rosemarie Buikema, khususnya terkait pembicaraan representasi perempuan. Dalam tulisannya yang berjudul “The Arena of Imaginings: Sarah Bartmann and the Ethics of Representation (2009: 72), Buikema menjelaskan language can be a means of making present whatever is absent. Menurut Buikema, perempuan tidak cukup hanya hadir, karena representasi tidak hanya persoalan hadir atau tidak hadir. Terkait hal ini, Noviani (2020: 75) menjelaskan bahwa bahasa adalah alat untuk membuat sesuatu yang sebelumnya absent menjadi present. Oleh karena itu, Noviani (2020) berpendapat, kita perlu memastikan; bahasa seperti apa yang digunakan untuk membicarakan perempuan, siapa yang membicarakan, dan dalam kontek apa perempuan dihadirkan dan diposisikan. Noviani (2020: 70) juga menegaskan, representasi bukanlah praktik yang netral dan bebas nilai, karena praktik produksi makna selalu melibatkan upaya seleksi, reduksi, penambahan, pembingkaian, dan berbagai tindakan lainnya. Dalam konteks Film Tilik misalnya, sekilas terlihat bahwa perempuan dibingkai menjadi pesohor yang mendominasi pemberitaan jagat maya. Namun demikian, kehadiran perempuan di film itu justru semakin melegitimasi perempuan sebagai sosok yang layak dihujat dan dimarginalkan.
Media dan Sexisme
Kekerasan terhadap perempuan dalam bingkai media kerap terjadi bahkan terus mengalami peningkatan. Berdasarkan data pengaduan yang diterima Komnas Perempuan tahun 2019 (https://nasional.tempo.co/read/1316317/kekerasan-terhadap-perempuan-naik-8-kali-lipat-dalam-12-tahun), pengaduan cyber crime mengalami kenaikan cukup signifikan, yakni sebanyak 281 kasus atau naik 300 persen dari tahun sebelumnya sebanyak 97 kasus. Komnas perempuan menyebut bahwa kekerasan tersebut terjadi dalam berbagai bentuk, salah satunya adalah humor seksis. Mills (2008: 140) mengatakan bahwa seksisme bisa berlindung di bawah wujud humor yang tidak disadari oleh auidens. Humor seksis memungkinkan audiens ikut serta dalam teks ketika mereka tertawa. Menurut Mills (2008 : 141), banyak penelitian yang menunjukkan bahwa perempuan adalah sasaran lelucon laki-laki. Humor juga menjadi salah satu sarana memperkuat hubungan kekuasaan yang setara antara sesama laki-laki.
Haraldsson dan Wängnerud (2018: 2) memaknai seksisme di media sebagai “the (re) production of societal sexism through under- and misrepresentation of women in media, leading to a false portrayal of society through a gendered lens”. Mengacu definisi seksisme tersebut, bisa disimpulkan bahwa misrepresentasi perempuan dalam media dikategorikan sebagai salah satu bentuk seksisme. Realitasnya, penggambaran perempuan di media kerap tidak merepresentasikan kondisi real perempuan. Terkait hal itu, Mulvey (dalam Sassatelli, 2011: 132) mengatakan bahwa tubuh perempuan yang beredar dalam gambar sangat berbeda dengan tubuh perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Citra perempuan dalam periklanan dan film misalnya, tidak selalu mengacu pada perempuan dalam kehidupan sebenarnya, tetapi didasarkan pada citra yang dapat diedarkan sebagai bagian dari komoditas budaya. Mulvey (1989: 15) menyatakan bahwa tanda perempuan dalam film adalah tanda yang dibentuk oleh dan untuk suatu budaya patriarkal, yang memungkinkan laki-laki untuk menuntaskan fantasi dan obsesinya, dengan memaksakan fantasi dan obsesi tersebut pada citra perempuan yang bungkam, namun masih terikat pada posisi perempuan sebagai pembawa makna, bukan pencipta makna.
Mulvey (dalam Kellner, 2006: 246) menegaskan bahwa di dunia yang ditata oleh ketidakseimbangan seksual, kenikmatan dalam menonton telah memisahkan antara penonton aktif (laki-laki) dan penonton pasif (perempuan). Dalam konteks ini, perempuan menjadi objek tatapan. Tubuh perempuan dierotiskan dan difragmentasi untuk memenuhi kepuasan penonton. Dalam sebuah film, mata kamera diibaratkan sebagai mata laki-laki sehingga tampilan perempuan dalam media cenderung patuh pada kontrol tatapan mata laki-laki. Posisi laki-laki merupakan subjek aktif, sedangkan perempuan sebagai objek pasif. Perempuan tidak diposisikan sebagai subjek yang memiliki kuasa atas dirinya sendiri, tetapi seringkali diposisikan sebagai objek bagi hasrat laki-laki (male gaze). Pembagian antara penonton aktif (laki-laki) dan penonton pasif (perempuan) berimbas pada pembentukan struktur narasi film. Pahlawan laki-laki dalam film dianggap sebagai pembawa cerita, sedang perempuan berperan sebagai tontonan erotis yang mengganggu. Lebih lanjut Mulvey menjelaskan bahwa kode-kode sinematik tidak hanya membentuk pemahaman melalui citra-citra visual tetapi juga melalui kemampuan film mengendalikan dimensi ruang dan waktu, melalui tahapan pemilihan gambar, pembingkaian, penyuntingan, dan narasi.
Menurut Mulvey (ibid: 345) kenikmatan visual dalam sinema memiliki dua aspek. Pertama bersifat voyeuristic, sebuah tatapan aktif terhadap citra perempuan yang dierotiskan. Kedua bersifat narsistik, sebuah kenikmatan dalam mengidentifikasi berdasar ego ideal kita sendiri berupa sosok yang sempurna, lengkap dan kuat. Lebih lanjut Mulvey (ibid: 352) menyebutkan kekuasaan dan kenikmatan film dikonstruksi melalui tiga tatapan yang berbeda dalam sebuah sinema; kamera saat merekam persitiwa, karakter, dan penonton.
Kerja ideologis media dalam meneguhkan seksisme, juga menjadi perhatian Gaye Tuchman. Melalui tulisannya yang berjudul “The symbolic annihilation of women by the mass media” (1978), Tuchman berpendapat media mencerminkan nilai-nilai dominan masyarakat dalam berbagai citra dan representasi. Media bertindak sebagai agen sosialisasi yang menyampaikan berbagai citra peran jenis kelamin yang distrereotipkan. Tuchman menilai media telah melakukan pemusnahan simbolis terhadap perempuan. Pemusnahan tersebut dilakukan dalam tiga cara, yaitu omission, trivialization, condemnation. Omission dimaksudkan sebagai tindakan yang menganggap kehadiran perempuan tidak penting, sehingga perempuan sengaja tidak ditampilkan. Kalaupun perempuan dimunculkan, keberadaannya sebatas sebagai pelengkap tanpa memiliki peran atau yang dikenal dengan trivialization. Di sisi lain, ketika perempuan dimunculkan, kehadirannya justru tidak lebih untuk dipersalahkan ataupun didiskriditkan.
Tuchman mengembangkan konsep symbolic annihilation dari pemikiran Gerbner “absence means symbolic annihilation” dengan memasukkan konsep condemnation dan trivialization. Tuchman mengamati bahwa dalam masyarakat Amerika, perempuan dianggap tidak penting kecuali mungkin di dalam rumah. Meski keberadaan perempuan dianggap penting di dalam rumah, namun laki-laki tetap dianggap yang terbaik. Dalam analisis Tuchman, perempuan secara representasi hadir, digambarkan secara positif sebagai sosok penyayang dan sosok yang baik, tetapi masih dianggap tidak penting ketika disandingkan dengan laki-laki yang digambarkan sebagai sosok yang bijak dan kuat.
Sementara Claire dalam Jackson dan Jones (2009: 367) mengatakan dalam suatu ideologi yang seksis dan sinema yang didominasi laki-laki, perempuan ditampilkan sebagaimana ia tampil untuk laki-laki. Perempuan ditampilkan sebagai potongan gambar dalam film, tetapi perempuan sebagai perempuan seringkali tidak hadir. Menurut Claire, perempuan dalam film berfungsi sebagai tanda, tetapi tanda tersebut bukan didasarkan realitas kehidupan perempuan.
Stereotype dan Praktik Penandaan
Melalui sebuah tulisan yang berjudul stereotyping, Dyer (dalam Kellner, 2006: 355) menjelaskan tentang stereotype dengan terlebih dahulu menjabarkan konsep type. Dyer mengatakan bahwa type adalah sebuah karakterisasi yang sederhana, jelas, mudah dipahami, mudah diingat, dan dikenal secara luas. Type akan membantu individu dalam memahami individu lain, baik terkait peran, keanggotaan dalam kelompok, maupun kepribadian. Dengan type, individu juga bisa memahami berbagai karakter yang ada di sekitarnya, baik yang dilakukan melalui tindakan, bahasa tubuh, suara, maupun gaya bicara. Merujuk pendapat Orrin E. Klapp dalam bukunya yang berjudul Heroes, Villains and Fools (1962), Dyer membagi type dalam dua kategori, yaitu social type dan stereotype, dengan mendefinisikan sebagai berikut :
“. . . stereotypes refer to things outside one’s social world, whereas social types refer to things with which one is familiar; stereotypes tend to be conceived as functionless or dysfunctional (or, if functional, serving prejudice and conflict mainly), whereas social types serve the structure of society at many points.”
Definisi di atas menunjukkan bahwa stereotype merujuk pada segala sesuatu atau pihak-pihak yang dieksklusikan dari aturan sosial tertentu, sedangkan social type merujuk pada pihak-pihak yang hidup dengan aturan sosial yang ada. Aturan sosial tersebut membangun sebuah konsep yang disebut sebagai normalitas. Terkait hal tersebut, Dyer (ibid: 355-356) mengatakan bahwa stereotype ditujukan pada pihak-pihak yang dikonstruksi sebagai sosok yang hidup di luar batas normalitas, sedang social type merujuk pada pihak-pihak yang berada dalam batas normalitas. Standar normalitas social type dan stereotype didasarkan kepada kelompok dominan, yang memunculkan mode masyarakat sesuai dengan pandangan, sistem nilai, dan sensibilitas mereka sendiri. Dalam stereotype, kelompok dominan melegitimasi eksistensinya dengan menerapkan norma-norma tertentu kepada kelompok yang tersubordinasi. Dyer juga menjelaskan bahwa pihak dominan membangun karakter dan karakteristik stereotype sebagai sesuatu yang seolah realistis, yang sangat dekat dengan keseharian.
Dalam film, Dyer (ibid: 357-358) menjelaskan bahwa stereotype dibangun melalui ikonografi dan struktur film. Dalam ikonografi, stereotype dibentuk melalui serangkaian tanda visual dan aural, seperti lewat suara, bahasa tubuh, bagian tubuh dan atribut-atribut lain yang ditempelkan pada karakter. Sedangkan stereotype dalam struktur film, dibangun melalui struktur statis dan struktur dinamis. Struktur statis merujuk pada bagaimana dunia yang disajikan dalam film itu diorganisir sedemikian rupa. Sedangkan struktur dinamis terkait bagaimana cerita dalam film disampaikan, yang biasa dikenal dengan istilah plot. Dyer (ibid: 361) menambahkan bahwa stereotype juga bisa dibentuk melalu karakter cerita. Dalam sebuah film, karakter dikonstruksi melalui berbagai medium, seperti naratif film yang terjadi dalam satu ruang dan waktu, serta acting individu dalam film tersebut.
Seksisme dan Stereotyping Perempuan dalam Film Tilik
Representasi seksisme dalam Film Tilik ditemukan dalam berbagai bentuk, seperti Bahasa dan pembungkaman atas subjek perempuan yang dianggap beda. Pembungkaman tersebut dilakukan dengan cara tidak dimunculkan dan hanya dijadikan objek gunjingan semata. Seksisme juga muncul dalam bentuk male gaze baik berupa visual gambar, karakter tokohnya, maupun plot film. Representasi tersebut ditampilkan secara terus menerus dalam berbagai dialog dan adegan dari awal hingga akhir film. Penggambaran seksisme tersebut sekaligus mengkonstruksi stereotyping perempuan yang dibingkai dalam sebuah tontonan.
Bahasa Seksis
Berdasarkan teks yang tersaji, diketahui ada beberapa percakapan yang secara jelas mengandung kalimat seksis dalam film Tilik. Di awal adegan (menit 01:22-01:25), tokoh utama, Bu Tejo membuka percakapan “Dian ini kerjanya apa, ya? Kok, ada yang bilang kerjaanya enggak bener.” Untuk meyakinkan kalimat tersebut, Bu Tejo memaparkan bahwa pekerjaan Dian sering keluar masuk hotel dan mall. Percakapan ini mengindikasikan bahwa perempuan dicitrakan ‘enggak bener’ hanya karena aktivitasnya keluar masuk hotel dan mall.
Pada menit 02:17-02:24, ditampilkan adegan Bu Tejo yang tengah menunjukkan foto melalui ponselnya dan mengatakan Dian berdempetan, yang membuat ibu-ibu lain semakin tidak simpati pada Dian. Pada saat yang bersamaan Bu Tejo mengatakan, “Makanya kalau punya HP jangan cuma buat mejeng doang, tapi buat cari informasi.” Ucapan Bu Tejo yang disetujui ibu-ibu lain itu, memberikan gambaran bahwa perempuan memanfaatkan teknologi komunikasi untuk hal-hal yang kurang positif. Sebab, konteks pencarian informasi dalam dialog itu adalah terkait gosip kedekatan Dian dengan orang lain (mungkin ‘laki-laki’ karena tampilan layar HP tidak diperlihatkan ke pemirsa), yang sesungguhnya tidak lebih baik jika dibandingkan kebiasaan memanfatkan HP untuk mejeng semata. Artinya, pemanfaatan teknologi HP oleh perempuan dikonotasikan untuk hal-hal negatif dan tidak produktif.
Pelecehan terhadap Dian terus berlanjut. Pada menit 04:27- 04:28, tokoh lain yang bernama Bu Tri mengatakan “kalau Dian kerjaannya jelas, nggak mungkin punya barang yang seperti itu.” Kalimat ini muncul akibat profokasi Bu Tejo yang mengatakan bahwa Dian memiliki banyak barang baru dan mahal, padahal baru mulai kerja. Dialog ini menunjukkan bahwa perempuan selalu pada posisi mencuriga perempuan lain yang sukses. Sebaliknya, kesuksesan perempuan juga belum tentu diapresiasi sebagai sebuah prestasi, bahkan dicurigai.
Tilik tidak hanya membingkai seksisme terhadap perempuan yang dianggap ‘nakal’ seperti Dian. Yu Ning, sosok perempuan yang memiliki pemikiran kritis dan mencoba menawarkan narasi berbeda dengan Bu Tejo, juga menjadi objek seksisme. Pada menit 04:44-04:48, Bu Tejo mengatakan “makanya Yu Ning, rajin-rajin baca berita dari internet dong.” Kalimat tersebut muncul akibat Yu Ning mencoba menegur ibu-ibu lain agar tidak percaya begitu saja dengan berita yang beredar. Menurutnya informasi internet belum bisa dipastikan kebenarannya. Karakter Yu Ning sebagai perempuan yang tidak mudah termakan issue justru diposisikan sebagai “the other” sebagai liyan. Yu Ning dicitrakan tidak seperti perempuan pada umumnya, hanya karena tidak percaya dengan sebuah gosip yang belum tentu kebenarannya. Dalam konteks ini, telah terjadi internal seksisme, dimana subjek perempuan turut mengamini pandangan seksis yang bersifat male-biased, bahwa perempuan cenderung tidak mengenal teknologi dibanding laki-laki.
Pada adegan selanjutnya, di menit 06:34 – 06:33, Bu Tejo kembali bergosip tentang Dian, yang dianggapnya hamil. “Itu kalau bukan muntah gara-gara hamil, kenapa juga dia harus pergi.” Kalimat ini memperkuat citra Dian yang dianggap sebagai perempuan ‘nakal’, sehingga memungkinkan hamil di luar nikah. Padahal, dalam film ini, Dian diceritakan sebagai perempuan yang belum bersuami. Ketika dimunculkan tudingan hamil, artinya kehamilan itu terjadi disetting sebagai kehamilan di luar pernikahan. Dalam konteks budaya Indonesia, perempuan yang hamil di luar nikah cenderung dinilai bermoral rendah. Kehamilan di luar nikah juga kerap dipakai untuk menunjukkan bahwa seksualitas perempuan kotor sehingga perempuan yang hamil di luar nikah dianggap hina. Dengan penggambaran tersebut, Tilik memberi ruang bahwa perempuan layak dihujat dan dimarginalkan.
Pelecehan terhadap perempuan yang ditampilkan dalam Tilik, juga terkait ketidakmampuan perempuan memimpin. Pada menit 11:59, Bu Tejo mengatakan “udah waktunya kampung kita punya lurah yang cekatan.” Ungkapan tersebut disampaikan Bu Tejo untuk memprofokasi ibu-ibu lain, bahwa suaminya (laki-laki) bisa lebih baik jika dipercaya menjadi Lurah. Dalam Tilik, perempuan yang terpilih menjadi pemimpin juga dicitrakan belum tentu didasari kemampuan. Hal ini terlihat dari dialog supir truk, Gotrek pada menit 12.06, yang mengatakan “yang jadi Lurah Dian aja gimana? bapak-bapak pasti milih semua.” Alasan memilih Dian yang disampaikan tidak terlepas dari perbincangan Dian sebagai kembang desa yang banyak memikat laki-laki. Tidak ada penjelasan tambahan yang disampaikan Gotrek, khususnya terkait kecakapan yang dimiliki Dian yang memungkinkan masyarakat, khususnya laki-laki memilihnya. Dialog ini menyiratkan pola pikir seksis bahwa perempuan adalah objek tatapan laki-laki. Kapasitas perempuan sebagai pemimpin pada akhirnya akan direduksi pada sekedar penampilan fisik yang membuat bapak-bapak terpikat.
Pada menit 15:07, Bu Tejo menyindir Dian dengan kalimat “orang udah seumurannya, kok belum nikah.” Tilik mencitrakan perempuan berumur yang belum menikah sebagai sesuatu yang pantas dipersoalkan. Alasan yang digunakan Bu Tejo adalah, teman-teman seumuran Dian sudah menikah semua. Perkataan Bu Tejo didasari oleh kekhawatiran jika Dian tidak menikah akan menggoda suami-suami mereka. Hal ini terlihat dalam dialog menit 15:41- 15:46, Bu Tejo mengatakan “Dian itu perempuan nakal yang bisa menggoda suami-suami kita.” Daya pikat Dian juga digambarkan bukan dilandasi kecantikan dan kepribadiaannya, tapi karena susuk yang digunakannya. Hal ini ditampilkan dalam dialog Bu Tejo di menit 16:35 “si Dian pakai susuk gak ya?”. Tilik menggambarkan bahwa kehadiran perempuan dengan segala keunggulannya justru menjadi ancaman dan monstrous bagi pihak lain.
Berbagai kutipan teks di atas memperlihatkan bahwa seksisme yang ditampilkan melalui bahasa dalam film Tilik terjadi secara massif dalam sebagian besar adegan. Dalam berbagai dialog terlihat dengan jelas, perempuan tidak hanya diposisikan sebagai objek seksisme. Film ini memberikan gambaran, subjek pelaku seksisme adalah perempuan itu sendiri. Tentu saja, mereka hanyalah pembawa makna, bukan pencipta makna. Kehadiran perempuan baik sebagai subjek maupun objek seksisme, tidak terlepas dari peran laki-laki sebagai pemegang kuasa atas jalannya cerita.
Tilik dengan jelas mempertontonkan perempuan sebagai sosok yang gemar menggunjing, bergosip, cerewet, dan bahkan tidak rasional. Selain itu, Tilik juga memberikan gambaran kehidupan perempuan yang diselimuti oleh persaingan, rasa curiga, dan kekhawatiran yang tidak beralasan. Meski konstruksi karakter dan karakterisasi itu belum tentu akurat, tetapi khalayak kerap membenarkan dan menganggap hal tersebut “relate” dengan realitas kehidupan keseharian perempuan. Mengacu pendapat Dyer, disinilah kerja ideologis dalam stereotyping. Representasi tersebut dibuat se’realistis’ mungkin, sangat dekat dengan sekeharian, sehingga khalayak terbius seolah melihat sesuatu yang nyata. Persoalannya adalah realitas itu sendiri tidak muncul dengan sendirinya. Sebuah realitas yang lahir akibat konstruksi budaya yang berkembang dalam masyarakat.
Symbolic Annihilation
Selain melalui teks, seksisme dalam film Tilik juga ditampilkan melalui ketidakhadiran sosok Dian dan Bu Lurah. Kedua tokoh ini yang sesungguhnya memiliki sisi kehidupan lain sebagai perempuan mandiri, sukses, dan produktif justru tidak dimunculkan. Keduanya lebih dihadirkan sebagai perempuan yang layak digunjing, dipersalahkan, dan secara terus menerus menjadi objek seksisme, yang dilakukan oleh sesama perempuan. Tilik lebih mengedepankan cerita hal-hal negatif yang bisa terjadi ketika perempuan berhasil meraih kesuksesan. Melalui tokoh utama yang dimunculkan, Tilik menawarkan narasi bahwa kecantikan dan kemandirin perempuan adalah sebuah ancaman, tidak hanya bagi laki-laki tapi juga perempuan. Hal ini dibuktikan dengan narasi yang dibangun oleh ibu-ibu dalam film itu, bahwa Dian bisa membuat resah rumah tangga dan desa mereka. Melalui tokoh utama, Tilik menggiring opini bahwa perempuan cantik dan mandiri, perlu diwaspadai.
Sekilas, Tilik memberikan porsi sangat besar terhadap perempuan untuk eksis mewarnai dunia sinema. Ini terlihat dari dominasi pemeran perempuan dalam film tersebut. Sayangnya kehadiran sosok perempuan dengan karakter seperti Bu Tejo, Bu Tri, dan Yu Sam justru menempatkan perempuan sebagi sosok yang layak dihujat dan dimarginalkan. Kehadiran mereka yang direpresentasikan dengan kebiasaan bergosip dan ‘nyinyir’ terhadap perempuan yang sukses, justru semakin menegaskan citra buruk perempuan.
Hal ini berbeda dengan representasi laki-laki. Dalam film tersebut, Gotrek yang digambarkan turut ‘nguping’ dan menikmati gosip ibu-ibu, bukanlah karakter yang ideal dalam budaya patriarkhi. Laki-laki yang senang ‘ngrumpi’ dieksklusikan dari karakter laki-laki pada umumnya. Gotrek menjadi sosok ‘aneh’ dan lucu, karena dianggap tidak mewakili stereotype laki-laki yang dinilai sebagai sosok rasional dan produktif. Dalam hal ini, Gotrek dikategorikan sebagai “the other”. Posisi ini sangat berbanding terbalik dengan Yu Ning, yang di ‘liyan’ kan karena dirinya tidak suka bergosip.
Pemusnahan simbol perempuan juga ditampilkan Tilik pada adegan perlawanan perempuan terhadap aparat polisi. Label ‘the power of mak-mak’ yang sering muncul di berbagai perbincangan media diperlihatkan dengan jelas ketika Bu Tejo dan ibu-ibu lainnya berhasil memperdaya dan memaksa polisi agar tidak menilang pelanggaran yang mereka lakukan. Perempuan dihadirkan dengan ‘power’nya yang berkonotasi negatif untuk melawan segala sesuatu yang menghalangi langkahnya. Label tersebut diperkuat dengan ucapan Bu Tejo “pokoknya kami akan tilik bu Lurah, titik.” Kata ‘pokoknya’ sangat mencerminkan cara berpikir yang tidak rasional, dan itu diidentikkan dengan perempuan. Adegan polisi di menit 23:35 yang kewalahan menghadapi mak-mak, menggambarkan perempuan bisa melakukan apapun dengan ‘power’ dan ‘kenekadan’ yang dimilikinya.
Male Gaze
Seksisme dalam film Tilik tidak hanya direpresentasikan melalui bahasa dan pemusnahan simbol (symbolic annihilation) perempuan. Seksisme juga ditemukan dalam berbagai visual gambar yang dihasilkan dari kerja kamera. Melalui tatapan kamera, penggambaran karakter cerewet, bawel, dan nyinyir divisualkan melalui mulut ‘monyong’ dan bibir ‘dower’ perempuan. Melalui gambar-gambar tersebut, Tilik memberikan kesenangan visual kepada penonton, yang bisa jadi melihatnya sebagai sebuah humor yang menghibur. Selain itu, gambar tersebut menjadi penguat representasi watak perempuan yang distereotypekan, seperti bawel, cerewet, dan seksis terhadap perempuan lain. Visualisasi itu terlihat dalam berbagai adegan, terutama saat mereka mengatakan bahasa seksis, seperti dalam potongan gambar berikut ini.
Gambar tatapan kamera yang fokus pada mulut dan bibir perempuan dalam film Tilik
(sumber : Film Tilik (2018) –youtube)
Selain ditampilkan secara visual, karakter perempuan dibingkai sedemikian rupa, sehingga mengesankan watak perempuan yang cenderung negatif. Senang gosip, bertumpu pada perasaan, dan lebih ironisnya lagi adalah tega melecehkan kaumnya sendiri. Male gaze tidak hanya dimunculkan melalui tatapan kamera dan karakter tokohnya. Alur cerita Tilik dibingkai dengan ‘ending’ cerita yang bersifat memperkuat berbagai narasi dan visual seksisme yang ditampilkan dalam berbagai dialog dan adegan sebelumnya.
Yu Ning yang sejak awal selalu mengingatkan ibu-ibu lain agar bijak dalam menerima informasi, justru diposisikan sebagai orang yang salah dalam menyampaikan informasi tentang Bu Lurah. Kondisi tersebut dimanfaatkan Bu Tejo untuk semakin menekan Yu Ning. Pada menit 28:28 Tilik menampilkan dialog Bu Tejo yang mengatakan “jadi, nyebarin kabar yang enggak jelas itu termasuk fitnah enggak, ya? Kalimat tersebut diucapkan Bu Tejo, hanya karena dia dan ibu-ibu lainnya tidak berhasil menjenguk Bu Lurah yang masih dirawat di ICU. Kata fitnah yang sesungguhnya tidak tepat konteknya menjadi senjata ampuh untuk memposisikan Yu Ning yang sejak awal di ‘liyan’ kan dari karakter perempuan lainnya.
Puncak seksisme terjadi pada akhir adegan film. Dian digambarkan berpacaran dengan mantan suami Bu Lurah yang secara penampilan dan usia lebih tepat sebagai ayahnya. Tentu saja, persoalannya bukan pada boleh atau tidaknya perempuan menjalin hubungan dengan laki-laki yang usianya jauh lebih tua. Pembingkaian akhir cerita itu, secara tidak langsung menjadi legitimasi tindak seksisme yang dilakukan oleh Bu Tejo ke Dian, sebagai tindakan yang tidak salah. Hal ini sekaligus mencitrakan bahwa perempuan muda yang mendadak bisa hidup mapan, tidak bisa dilepaskan dari keberadaan laki-laki, baik sekedar sebagai pacar atau istri simpanan. Stereotype ini dibingkai sangat kuat, baik melalui bahasa, visual gambar, maupun alur cerita. Hal ini bisa dilihat dalam menit 29:26-30.10, ketika Dian menceritakan dirinya tidak nyaman dengan status hubungannya yang terus dirahasiakan. Tatapan kamera difokuskan pada tangan laki-laki tua yang menggenggam erat tangan Dian. Dalam kegalauan itu, Dian pun menyandarkan dirinya di pundak laki-laki tua yang menjadi pacarnya.
Visualisasi dan ending cerita itu mengandung pesan bahwa kebahagiaan dan kedamaian perempuan tidak bisa dilepaskan dari sosok laki-laki, yang dicitrakan sebagai sosok kuat dan mampu menjadi pelindung. Penggambaran ini tidak berebeda dengan citra perempuan yang ada di sejumlah film box office lainnya, terutama film-film yang menggambarkan para ‘princess’ yang mengejar kebahagiaan dari belaian seorang pangeran. Sebuah stereotype yang secara terus-menerus ditampilkan dalam dunia sinema sehingga melekat dalam memori pemirsanya.

Dialog akhir cerita film Tilik (sumber : Film Tilik (2018) –youtube)
Menciptakan alur sebuah film tidak terlepas dari berbagai kepentingan. Ada relasi kuasa dan norma dominan masyarakat yang kemudian direpresentasikan dalam sebuah teks. Sangat disayangkan jika sebuah alur film dibuat sebatas mengikuti fantasi laki-laki (sutradara) semata. Meminjam pendapat Mulvey (1989), Film Tilik menciptakan suatu tatapan, suatu dunia, dan suatu objek, yang menghasilkan suatu ilusi, yang dipotong sesuai hasrat laki-laki. Tatapan sentral laki-laki terjadi sedemikian rupa, sehingga kita melihat sebagian besar peristiwa melalui matanya dan mengidentifikasi diri dengan tatapannya.
Kesimpulan
Tilik mengkonstruksi dua karakter, perempuan baik dan perempuan buruk (nakal) dalam bingkai seksisme. Penonton digiring untuk mengamini bahwa problem seksisme adalah problem perempuan sendiri bukan problem laki-laki.
Seksisme dalam film Tilik direproduksi dan dipraktikkan dalam berbagai bentuk, seperti bahasa, ketidakhadiran tokoh perempuan (symbolic annihilation), dan male gaze baik berupa visual gambar, karakter tokohnya, maupun plot film. Tindak seksisme tersebut dilakukan oleh sesama perempuan, yang akhirnya menempatkan perempuan sebagai objek sekaligus subjek seksisme. Representasi tersebut ditampilkan secara terus menerus dalam berbagai dialog dan adegan dari awal hingga akhir film.
Penggambaran seksisme tersebut sekaligus mengkonstruksi stereotyping perempuan yang dibingkai dalam sebuah tontonan. Tilik mencitrakan perempuan sebagai sosok yang gemar menggunjing, bergosip, cerewet, dan bahkan tidak rasional. Selain itu, Tilik juga memberikan gambaran kehidupan perempuan yang diselimuti oleh persaingan diantara sesama perempuan. Hal yang lebih ironis adalah, munculnya stereotyping bahwa kebahagiaan perempuan sangat bergantung pada kehadiran sosok laki-laki yang menjadi sandaran hidupnya. Stereotyping ini muncul di akhir cerita, menjadi pesan utama sekaligus kesimpulan akhir bagaimana perempuan dicitrakan dalam media.
Daftar Pustaka
Buikema, R. (2009). “The Arena of Imaginings: Sarah Bartmann and the Ethics of Representation”. Dalam Rosemarie Buikema dan Iris van der Tuin (ed.), Doing Gender in Media, Art and Culture, hlm. 70-85. London dan New York: Routledge.
Dyer, R. (2006). “Stereotyping”. Dalam Durham, M.,G. & Kellner, D., M, Media and Cultural Studies KeyWorks, hlm. 353-365. UK: Blackwell Publishing.
Friedan, B. (1963). The Feminine Mystique. London: Penguin Books
Hall, Stuart. (1997). The Work of Representation. Dalam Stuart Hall, Jessica Evans, dan Sean Nixon (ed.), Representation, hlm. 1-47. London: SAGE
Haraldsson, A & Wängnerud, L. (2018). The effect of media sexism on woman’s political ambition: evidence from a worldwide study. Jurnal Feminist Media Studies.
Jackson, S. & Jones, J. (2009). Pengantar Teori-Teori Feminis Kontemporer (terjemahan). Yogyakarta: Jalasustra
Jhally, S. (2005). Stuart Hall: Represenatation and the Media (transkrip). Northhampton: Media Education Foundation.
Mills, Sara. (2008). Language and Sexism. Cambridge, New York: Cambridge University Press
Mulvey, L. (1989). “Visual Pleasure and Narrative Cinema”. Dalam Laura Mulvey, Visual and Other Pleasures, hlm. 14-28. London: Macmillan.
Mulvey, L. (2006). “Visual Pleasure and Narrative Cinema”. Dalam Durham, M.,G. & Kellner, D., M, Media and Cultural Studies KeyWorks, hlm. 342-352. UK: Blackwell Publishing.
Noviani, R. (2020). “Politik Representasi di Era Serbamedia”. Dalam Wening Udasmoro, Gerak Kuasa: Politik Wacana, Identitas, dan Ruang/Waktu dalam Bingkai Kajian Budaya dan Media, hlm. 59-84. Jakarta: Gramedia.
Sassatelli, R. (2011). Interview with Laura Mulvey Gender, Gaze and Technology in Film Culture Roberta Sassatelli. Jurnal Theory Culture & Society.
Tierney, Helen. (1999). Women’s studies encyclopedia. New York, USA: Green Wood Press
Tuchman, G. (1978). Introduction: The symbolic annihilation of women by the mass media. Dalam Tuchman, G., Daniels, A. K., & Benét, J. (Eds.), Hearth and home: Images of women in the mass media (pp. 3-38). New York : Oxford University Press.