MERAJUT MASA DEPAN, MENGUBUR KENANGAN KELAM

Masa kecilnya yang kelam membuat ia tidak bisa mengenyam pendidikan formal. Cita-citanya menjadi guru Bahasa Inggris pun kandas di tengah jalan. Adalah Widyawati, perempuan yang berhasil menekuni wirausaha dengan bekal pendidikan seadanya. Sebagai sosok yang hanya mengenyam pendidikan bangku Sekolah Dasar (SD), Widyawati terbilang sukses menjalani usahanya. Tanpa bekal pendidikan memadai, perempuan yang biasa disapa Widya itu, mampu menorehkan omzet usaha hingga Rp 100 juta setiap bulannya dari usaha kue yang ditekuninya. Tak heran, jika ia mampu menyisihkan keuntungan puluhan juta, yang mengantarkannya hidup lebih sejahtera dibanding sebelumnya.

Perempuan kelahiran Nabire, Papua 1987 silam itu, tumbuh menjadi anak yang kurang beruntung. Tidak hanya karena keterbatasan ekonomi orang tuanya, ia bahkan tidak begitu merasakan kasih sayang ayahnya.  “Aku lahir dari keluarga kelas ekonomi menengah ke bawah. Hal yang lebih menyedihkan, orang tuaku berpisah sejak aku masih berumur tiga tahun,” kenangnya. Sejak perceraian itu, Widya ikut ibunya ke Tarakan, yang kala itu masih menjadi bagian dari Kalimantan Timur.

Di Tarakan, ibulah yang menjadi tulang punggung kehidupan dirinya. “Untuk membiayai hidup kami, mamak bekerja sebagai buruh pengupas udang, yang dikerjakan dari pagi hingga sore hari,” tutur Widya.  Meski dalam himpitan ekonomi, ibunya tetap berupaya menyekolahkan dirinya di Sekolah Dasar (SD) yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. SD adalah satu-satunya jenjang pendidikan yang dijalani Widya. Sayang, ketika ia masih duduk di kelas 5 SD, ibunya harus merantau ke Balikpapan, dan Widya diasuh oleh tantenya. “Ketika kelas 5 SD, ibuku menitipkan aku ke tante. Aku berhasil menyelesaikan pendidikan dasar,” paparnya.

Di rumah tantenya, Widya kecil menemukan buku Bahasa Inggris yang sudah usang, namun masih bisa dibaca. Membaca buku itu, ketertarikan dirinya untuk belajar Bahasa Inggris pun muncul. “Aku tidak hanya tertarik dengan Bahasa Inggris. Aku bahkan bercita-cita ingin menjadi guru Bahasa Inggris,” terang Widya. Sayang, hingga berumah tangga, cita-cita itu tidak pernah terwujud. Setelah lulus SD, Widya kecil dibawa tantenya pindah ke Samarinda. Di kota tersebut, perempuan berdarah Bugis  itu berkesempatan mengenyam pendidikan SMP, meski tidak sampai selesai.

“Pendidikan SMP hanya aku jalani satu semester. Mamak yang kala itu sudah pindah ke Balikpapan memintaku berhenti sekolah agar bisa membantu pekerjaan rumah,” kenang Widya akan masa lalunya. Gadis pendiam itupun tidak memiliki pilihan lain, kecuali mengikuti permintaan ibunya. Setelah berhenti sekolah, Widya tinggal bersama ibunya yang kala itu sudah memiliki suami baru. Di benaknya, terbersit keinginan untuk mengikuti program SMP terbuka yang kebetulan ada di dekat rumahnya. Namun rencana itu kembali gagal. “Kakak tertua melarangku sekolah. Aku marah, kecewa, dan pastinya sedih. Namun, usiaku yang masih anak-anak membuatku tak berdaya dan tak bisa berbuat apa-apa,” ungkap Widya. Ia pun pupus harapan dan mengubur dalam-dalam cita-cita yang pernah diangankannya.

Kondisi ekonomi ibunya yang tidak memadai, membuat Widya tidak mau memaksakan diri. Sementara berharap ke ayah tirinya yang berprofesi sebagai buruh angkut pelabuhan juga tidak memungkinkan. Sebab, pendapatannya dari buruh angkut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan keluarganya. Widya menceritakan, masa kecilnya sering membantu ibunya memisahkan beras dan kerikil sebelum dimasak. “Ayah tiriku kadang membawa pulang beras yang tercecer di tanah saat pengangkutan di pelabuhan. Beras itulah yang kami makan,” kenangnya.

 

Mengais Uang Jajan Dari Hasil Kerajinan

Di saat anak sebayanya pergi ke sekolah dengan riang gembira, Widya hanya bisa menghabiskan waktunya dengan bekerja membantu orang tua. Mengasuh adek-adek dari pernikahan kedua ibunya adalah salah satu tugas rutinnya. Jangankan hiburan, untuk sekedar jajan saja, ia harus berjuang mendapatkannya. “Kadang aku ingin membeli kebutuhan atau sekedar jajan. Tapi mamakku yang hanya pekerja kasar hanya sesekali bisa memberi. Pendapatannya yang tak seberapa hanya cukup untuk kebutuhan makan kami sehari-hari,” ungkapnya.

Gadis kecil yang ulet itupun tak hanya berdiam diri. Ia mencoba bikin kerajinan tangan berbahan manik-manik dengan motif khas Kalimantan. Kemampuan membuat kerajinan itu, ia dapatkan dari teman-temannya yang sama-sama putus sekolah. Selain untuk mengisi waktu luang, baginya aktivitas itu menjadi jalan menghasilkan uang.  Dengan modal seadanya pemberian ibunya, Widya membeli manik eceran ke warung. “Aku membuat sarung pulpen dan korek api berbahan manik. Kalau sudah selesai dan terkumpul, aku jual ke pengepul. Meskipun dibeli murah, tapi dari kerajinan itulah aku bisa jajan tanpa harus meminta ke mamak,” katanya. Dalam satu bulan, Widya bisa menghasilkan karya sekitar 100 biji. Harga setiap sarung pulpen dibandrol Rp 300,-sedangkan sarung korek Rp 500,-. Kala itu, ia tidak menyangka bahwa keuletannya berdagang kecil-kecilan itu menjadi pengalaman berharga kelak.

Waktu terus beralalu, namun aktivitas Widya hanya berkutat di rumah, bekerja dan bekerja. Perasaan bosan dan jenuh pun akhirnya muncul. Hingga suatu hari, kakaknya mengajak ‘kabur’ dari rumah untuk menemui ayahnya. Kerinduan pada sosok ayah yang terakhir dilihatnya ketika masih umur tiga tahun, membuat Widya tak berpikir panjang untuk menerima ajakan itu. “Kami pergi diam-diam tanpa izin mamak. Dari pada tidak dapat izin, aku dan kakakku memilih kabur, pergi tanpa pamit” terangnya. Widya mengaku, awal perjumpaan dengan ayahnya menjadi momen yang cukup menyenangkan, meski terasa asing. “Sebenarnya aku sudah kurang ingat wajah bapak, karena berpisah ketika aku masih usia tiga tahun, jadi ketika ketemu kembali malah seperti asing rasanya,” jelas Widya.

Meskipun cukup lama berpisah, namun kebersamaan Widya dengan ayahnya hanya berlangsung tiga tahun, tepatnya 2002 hingga 2005. “Aku tidak betah tinggal di rumah bapak di Nabire. Kala itu bapak sudah punya istri baru, dan istrinya bisa dikatakan bersikap seperti umumnya kisah seorang ibu tiri,” ungkap Widya. Ia pun nekad pulang sendiri untuk kembali menemui ibunya. Berbekal uang gaji yang diperoleh saat bekerja di koperasi unit desa yang ada di dekat rumah ayahnya, Widya membeli tiket kapal Dorolonda tujuan Balikpapan. Ia tinggalkan ibu tirinya demi kembali ke pangkuan ibu kandungnya.

Perjalanan laut dari Papua ke Baikpapan ditempuhnya selama 6 hari 5 malam. Setiba di Balikpapan, Widya langsung menempuh perjalanan darat menuju Karangan untuk menemui ibunya yang kala itu membuka lahan pertanian di daerah tersebut.  “Meski sangat melelahkan, namun perjalanan itu tetap aku tempuh demi ketemu mamak,” paparnya. Sepanjang perjalanan, Widya tak henti-hentinya berdoa agar perjalanan ke Karangan membawanya ke masa depan yang tidak lagi suram.

 

Mengejar Upah Berharap Berkah

 Setelah melalui jalan yang panjang dan berliku, akhirnya Widya menemukan secercah harapan. Karangan menjadi medan pertempuran baru dalam menata kehidupannya. Terlintas di benaknya untuk berjualan makanan. Namun ia menyadari bahwa dirinya belum memiliki modal awal yang memadai. “Aku harus bekerja mengumpulkan uang jika ingin berdagang,” tekadnya. Pendidikannya yang hanya lulusan SD, membuatnya tidak punya banyak pilihan. “Kerja kantoran gak mungkin bagiku. Mereka pasti akan menanyakan latar belakang pendidikanku. Demi mendapatkan uang, aku bertekad akan kerja apa saja yang penting halal,” tutur Widya. Beruntung di Karangan ada perusahaan kelapa sawit. Tahun 2009, ia pun melamar sebagai buruh harian di perusahaan itu dan diterima bekerja sebagai karyawan lapangan.

Sejak diterima kerja, aku harus bangun lebih pagi untuk menyiapkan berbagai urusan rumah sebelum berangkat kerja. “Aku bangun jam 03.00 dini hari, memasak dan menyiapkan bekal anak ke sekolah. Setelah sholat shubuh, aku pergi kerja karena jam 05.30 brieefing pekerjaan sudah dimulai,” jelas Widya. Di perusahaan itu, berbagai tugas dan peran aku jalankan. Aku pernah tergabung dalam tim yang bertugas menebas, menyemprot, memupuk, dan pernah juga tergabung dalam tim panen buah. Sore hari, aku baru bisa pulang ke rumah,” ungkap Widya mengenang masa lalunya. Pekerjaan yang menguras energi itu tentu saja sangat melelahkan. Namun ia sadar, tidak ada hal lain yang bisa ia kerjakan saat itu. Kala lelah mendera, Widya mencoba menghibur dirinya dengan membayangkan enaknya menjadi pedagang kue.

Kala itu, keinginan Widya untuk membaca berbagai resep membuat kue tak terbendung lagi. Masih segar dalam ingatannya ketika dirinya kerap memungut majalah atau buku yang dibuang orang. Selain keterbatasan uang untuk membeli, di daerah tempat tinggalnya juga tidak ada toko yang menjual buku atau majalah. “Aku mulai membuka-buka majalah atau buku yang kutemukan, berharap ada resep kue di salah satu halamannya. Kala itu, tutorial membikin kue masih sangat jarang ditemukan di YouTube,” ungakpnya.

Demi mewujudkan angan itu, ia pun mencoba menyisihkan sebagian dari  jerih payahnya untuk ditabung sebagai modal usaha. Ia juga mulai membeli peralatan membuat kue, seperti alat baking. Meski baru mampu membeli alat sederhana, namun perempuan yang gigih berjuang itu mengaku bersyukur dengan pencapaiannya. Dari pekerjaan itu, Widya bisa memenuhi kebutuhannya. Meski demikian, setelah lima tahun berjibaku dengan kerasnya pekerjaan di kebun sawit, Widya berhenti dan memutuskan berjualan kue dari rumah. Ibu tiga anak ini pun mencoba peruntungan baru. Kini hari-harinya disibukkan dengan membuat kue basah dan menjajakannya keliling kampung dengan harapan akan mendapatkan untung.

 

Ketika Angan Tak Seindah Kenyataan

 Mendapat keuntungan, pastinya menjadi harapan setiap orang, terutama bagi mereka yang menekuni dunia usaha. Sayangnya bayangan itu belum tentu menjadi kenyataan. Narasi tersebut agaknya tepat untuk untuk menggambarkan pengalaman Widya. Kue basah yang dijualnya keliling kampung ternyata kurang laku. Ia mengaku hasil penjualan tidak sebanding dengan modal yang dikeluarkan. Meski demikian, Widya tidak putus asa. Kegiatan membuat kue basah tetap dilanjutkan.

Kali ini ia mencoba peruntungan lain dengan menitipkan kue bikinanya ke warung penjual nasi kuning. Upaya ini membuahkan hasil. Kue Widya selalu ludes diserbu pembeli. Sayangnya, keberuntungan itu tak berlangsung lama. “Awalnya hanya aku yang nitip kue di warung itu. Akhirnya banyak pedagang kue lain yang ikut nitip juga, bahkan mereka menawarkan harga yang lebih murah dengan ukuran lebih besar. Akibatnya kue bikinanku gak laku,”jelasnya. Beruntung, saat itu di desanya dibuka pasar baru. Secepat kilat, Widya mengambil langkah berjualan kue basah di pasar tersebut. Sayangnya pasar tersebut tidak banyak dikunjungi warga, bahkan akhirnya tutup dan tidak beroperasi. Bayangan meraup rupiah dari jualan kue pun sirna, hingga akhirnya Widya memutuskan tidak berjualan kue basah lagi.

Berbagai kegagalan itu tidak membuat Widya menyerah. Ia mencoba peluang lain dalam bentuk penjualan kue ulang tahun. Keahlian membuat kue ulang tahun itu sendiri diperolehnya secara otodidak. Widya menuturkan anak pertamanya kerap melihat anak sebayanya memotong kue ulang tahun di hari jadinya. Ia pun meminta hal yang sama. “Waktu itu, kami gak memiliki cukup  uang untuk membeli kue ulang tahun karena harganya relatif mahal. Pendapatan suamiku, Usman yang berprofesi sebagai tukang kayu hanya pas untuk kebutuhan sehari-hari,” paparnya.

Beruntung kala itu, jaringan internet sudah masuk di daerahnya. Berbekal pengetahuan dari buku resep dan tutorial di media sosial, akhirnya Widya mencoba membuat sendiri kue tersebut. Berawal dari ulang tahun anaknya, istri Usman itu mampu membuat kue ulang tahun. Kemampuan Widya membuat kue ulang tahun perlahan mulai diketahui banyak orang.  Tak disangka momen itu menjadi tonggak baru bagi usaha yang ditekuninya saat ini.

 

Mendulang Rizki Membangun Relasi

Kemampuan Widya membuat kue ulang tahun memunculkan secercah harapan. Ia mengaku,  menjadi pembuat sekaligus penjual kue ulang tahun sebenarnya tidak pernah terlintas dibenaknya. “Awalnya, tidak pernah terpikirkan kalau aku akan punya usaha seperti ini. Sebab, aku sama sekali tidak punya minat dan bakat dalam bidang perbakingan. Selain itu aku tidak punya ilmu dagang sama sekali. Terbukti usaha kue basah saja gagal total,” ungkap Widya. Namun desakan ekonomi membuat dirinya ingin mencoba.

Langkah pemasaranpun dilakukannya. Berbagai upaya untuk mengenalkan kue ulang tahun bikinannya dilakukan. Kala itu, adiknya yang masih duduk di bangku SMP mencoba mengenalkan kue bikinan Widya ke teman sekolah. Alhasil, ada beberapa pelajar yang mulai memesan kue ulang tahun bikinannya. Tentu saja, pemesanan itu hanya saat momen ulang tahun tiba. Artinya, tidak ada pendapatan masuk yang berkesinambungan. Promosi dari mulut ke mulut oleh pelanggannya dirasa kurang membawa hasil signifikan.

Widya yang sudah mengenal facebook, akhirnya  mencoba memposting kue bikinannya. Ia ingin menyimpan kenangan karyanya dalam bentuk digital, sekaligus membangun relasi ke publik yang lebih luas. Di luar dugaan banyak masyarakat Karangan yang merespon positif postingan Widya. Kue ulang tahun berbentuk bunga mawar dan karakter animasi seperti doraemon dan helly Kitty menjadi daya tarik tersendiri. Sejak saat itu kue ulang tahun Widya mulai dikenal luas, tidak hanya di kalangan pelajar SMP. Tidak hanya kue ulang tahun. Widya mencoba membuat kue lain seperti donat, brownies kukus dan roti manis.

Semua proses dikerjakan sendiri dengan alat yang masih sederhana. “Waktu itu, aku hanya mampu membeli mixer pengaduk adonan skala rumah tangga, karena aku belum punya uang. Akibatnya hanya dalam beberapa bulan sudah rusak,” kenangnya saat kondisinya masih sangat terbatas. Perlahan namun pasti, Widya bisa menyisihkan keuntungan untuk membeli peralatan. “Dari hasil usaha, akhirnya aku bisa membeli peralatan rakitan yang lebih tahan lama dengan harga Rp 7 juta. Selain itu, aku juga tidak harus jalan kaki lagi untuk mengantarkan pesanan. Ada motor bekas seharga Rp 4 juta yang aku beli dari menyisihkan keuntungan,” papar Widya. Bagi orang lain, nilai-nilai tersebut bisa jadi sangat kecil. Tapi bagi sosok yang sejak kecil hidup dalam himpitan ekonomi, membelanjakan uang senilai tersebut adalah sebuah pencapaian yang besar.

Kepercayaan diri Widya untuk memposisikan dirinya sebagai pengusaha mulai tumbuh. Mengusung brand Nanamy Cake, ia mantap melangkah untuk mengais rizki. Nanamy Cake memiliki arti tersendiri bagi Widya. Nama itu merupakan singkatan dari ketiga nama anaknya, Nabil, Nail, dan Mikail. Melalui nama itu ia berdoa agar anak-anaknya memiliki kebanggaan tersendiri pada kehidupannya, tidak seperti masa kecilnya yang penuh derita. Spanduk bertuliskan Nanamy Cake pun dipasang di depan rumahnya. Tulisan itu tidak sekedar sebagai petunjuk pagi pembelinya. Spanduk itu menjadi lambang keberanian sekaligus keyakinan Widya akan jalan yang ditempuhnya.

 

Terobosan Baru: Antara Tuntutan dan Tantangan

 Hari-hari Widya disibukkan dengan membuat dan memasarkan kue. Berbeda dengan saat jualan keliling, kali ini Widya hanya menerima pesanan kue modern, seperti kue ulang tahun, donat dan brownis kukus. Semua usaha dijalankan secara online dan diproduksi dari rumah. Widya hanya membuat kue ketika ada pesanan. Bernagai kendala pun muncul saat itu. Ia menuturkan, peminat kuenya seringkali membatalkan pesanan karena mereka menginginkan kue yang ready stock. Lokasi jualan yang dijalankan dari rumah juga menjadi persoalan baru. “Rumahku berbentuk panggung yang terletak di paling ujung dari deretan rumah yang ada.  Kadang orang yang ingin memesan kue mengalami kesulitan dan bahkan takut masuk rumah karena tangganya cukup tinggi tanpa ada pegangannya,” kenangnya.

Sosok pekerja keras itupun mulai berpikir bahwa rumahnya tidak strategis untuk usaha. Tahun 2018, dengan modal yang hanya Rp 10 juta, Widya mencoba terobosan baru. Ia menyewa toko di pinggir jalan dan mulai memajang kue di etalase, tidak semata jualan secara online. Keputusan itu mengundang reaksi sejumlah pihak yang menganggapnya sebagai tindakan bodoh. “Cibiran itu sedikit banyak mempengaruhiku. Aku mulai ketakutan jika tidak laku, bahkan aku beberapa hari sempat gak bisa tidur,” ungkap Widya. Ketakutannya bukan tanpa alasan. Semua uangnya sudah dijadikan modal dan tidak ada sumber lain yang bisa jadi cadangan hidup keluarganya. Beruntung, suamiku selalu menenangkan dirinya, dan meminta Widya agar fokus dengan usahanya, sambil terus berusaha dan berdoa.

Berkat nasehat suaminya, sosok yang sabar itu mencoba melupakan cibiran-cibiran yang kerap mengganggu konsentrasinya dan fokus pada usahanya. Pada awal kepindahan itu, Widya merasakan beban yang begitu berat. Meski sudah berada di pinggir jalan, namun orang yang lewat jarang yang mampir ke tokonya. Di sisi lain, penjualan online belum mampu menutup biaya-biaya yang harus dikeluarkannya. Karena penjualan sepi, ia mencoba jualan di pasar malam yang digelar sebuah perusahaan sawit di Karangan. Jarak yang cukup jauh dan jalanan berlumpur, menjadi masalah serius kala itu. “Kami membawa dagangan dengan motor. Akibat jalanan yang rusak parah seringkali mika penyimpan kue jatuh dan pecah. Kue pun rusak sebelum tiba di tujuan,” kenang Widya. Ia mengaku selama ikut jualan di pasar malam, usahanya justru mengalami kerugian.

Meski rugi, namun Widya tetap bersyukur karena dari pasar malam itulah orang mulai mengenal Nanamy Cake. Mereka mulai mendatangi tokonya ketika membutuhkan kue, dan Widya tidak perlu lagi jualan di pasar malam. “Alhamdulillah penjualan mulai meningkat, meski masih dikemas dalam bentuk sederhana,” ungkapnya. Peningkatan penjualan membuat Widya tidak mampu menangani semua sendiri. Ia pun merekrut dua orang yang membantu dari mulai proses produksi hingga penjualan.

Sesaat, Widya bisa bernafas lega. Usahanya berjalan sesuai harapannya. Sayang kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Pemilik ruko memintanya pindah dengan alasan ruko akan ditempati sendiri. Dalam kebingungannya, pemilik zodiak Leo itu melihat ada ruko terbengkelai yang ditinggal pemiliknya. Widya memutuskan menyewanya, meski kondisinya saat itu tidak layak untuk usaha dan harus banyak direnovasi. Secara posisi, ruko itu juga sangat rendah dan ketika hujan lebat kerap terendam banjir. “Aku tidak punya pilihan lain. Agar usaha tetap berjalan, aku putuskan pindah dengan pertimbangan 10 tahun terakhir tidak ada banjir di daerah tersebut,” katanya.

Perkiraan Widya ternyata meleset. Musibah bisa datang kapan saja. Setelah satu dekade tidak ada banjir, akhir tahun 2020, tiba tiba banjir besar melanda daerah tersebut. Air merendam seluruh ruangan dan sejumlah bahan kue rusak terendam air. Beruntung alat-alat pembuatan kue sempat diselamatkannya, sehingga ketika banjir surut Namany Cake kembali bisa beroperasi. Banjir bahkan tidak hanya terjadi sekali. “Tahun 2021, musibah banjir terjadi sampai tiga kali,” ungkapnya. Belum selesai dengan persoalan banjir, ujian lain datang menghampiri. Pemilik toko berencana menjual toko yang ia tempati dan tidak akan menyewakannya kembali. Toko tersebut dibandrol dengan harga Rp 1 milyar, jika Widya ingin membelinya agar tetap bisa berjualan di toko tersebut.

Sebagai pelaku usaha yang masih merintis awal, uang 1 milyar tentu saja jumlah yang terlalu besar baginya. Modal usaha yang pas-pasan membuat Widya mencari rumah lain yang sesuai dengan kemampuan keuangannya. “Saat itu, tabunganku hanya berkisar Rp 100 juta, sedangkan harga rumah di angka Rp 350 juta.  Akhirnya rumah itu berhasil aku beli, meski harus pinjam sana-sini,” ungkapnya.

Keberhasilan Widya menaklukkan segala tantangan dan memanfaatkan setiap peluang membuat usahanya semakin mapan. Dari modal awal yang hanya Rp 10 juta, kini omzet Namany Cake tembus di angka ratusan juta per bulan. Widya mengaku meraup keuntungan bersih hingga 30 persen dari omzet yang ada setiap bulannya. Dari keuntungan itu, Widya bisa membantu orang tuanya dan menguliahkan adeknya hingga wisuda. Sosok yang dulunya hanya mampu mengejar upah di kebun sawit itu, kini bahkan bisa membuka lapangan kerja. “Saat ini, aku baru mampu merekrut lima orang pekerja. Jika usahaku terus berkembang, tidak menutup kemungkinan jumlah tersebut akan bertambah,” harap Widya.

Perjuangan Widya yang tidak mengenal lelah dan putus asa itu, pada akhirnya mengantarkan dirinya pada posisi sejajar dengan pelaku UMKM lainnya. Widya mengaku semua perjuangannya didasari keinginan untuk memberikan yang terbaik kepada anak-anaknya. “Aku tidak ingin anak-anakku merasakan kepedihan yang sama seperti yang aku alami. Mereka harus mengenyam pendidikan setinggi mungkin untuk menggapai masa depan yang lebih baik dari orang tuanya,” tegasnya. Kini, si anak yang putus sekolah itu bisa tersenyum bangga, karena bisa menggapai masa depan meski tanpa embel-embel gelar. Perjalanan hidupnya menjadi madrasah yang memberinya pengetahuan sekaligus keterampilan untuk bertahan dalam segala keadaan.

error: Content is protected !!