MEMBACA SENYUM PURBAYA

Dalam sebuah pidatonya, Presiden Prabowo mengatakan,  jika Purbaya masih tersenyum, maka kondisi keuangan negara ada dalam keadaan aman. Ia juga menegaskan, fluktuasi nilai tukar dolar tak perlu terlalu dikhawatirkan oleh masyarakat di tingkat desa. Pernyataan tersebut disampaikan presiden saat meresmikan 1.061 Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, 16 Mei silam.
(https://news.detik.com/berita/d-8490924/prabowo-selama-purbaya-bisa-senyum-tenang-aja-mau-dolar-berapa-ribu-kek).

Pernyataan tersebut merepresentasikan dua pesan. Pertama, tidak ada masalah dengan keuangan negara kita, yang kerap diberitakan mengalami defisit. Kedua, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, bukan sesuatu yang perlu dirisaukan. Luar biasanya, ‘Senyum Purbaya’ seolah menjadi garansi untuk meyakinkan publik bahwa kondisi ekonomi masih aman terkendali.

Sebagai orang desa, yang profesinya hanya sebagai ibu rumah tangga, jujur otak saya tidak mampu menterjemahkan pesan-pesan tersebut. Saya bukan seorang ekonom. Saya juga bukan pemain saham, yang bisa jadi terkait langsung dengan naik turunnya nilai rupiah. Namun, ada pertanyaan besar yang berkutat di benak saya. Jika kedua hal tersebut tidak menjadi masalah, mengapa harga kebutuhan pokok selalu naik dari waktu ke waktu?

Apakah semua itu akibat tingginya dolar? Ekonom mengatakan, ketika dolar naik, imbasnya akan kemana-mana. Sebab, sejumlah barang yang beredar di pasaran merupakan hasil impor, yang tentu saja harus dibayar pakai dolar. Ketika dolarnya tinggi, secara otomatis modal rupiah yang harus disiapkan juga lebih besar. Akibatnya, kenaikan harga juga tidak bisa dihindari.

Mendengar paparan ekonom tersebut, dengan keterbatasan pikiran yang ada, saya pun mencoba mencari benang merahnya. Mungkinkah senyum Purbaya merepresentasikan kondisi sebenarnya? Bahwa ekonomi Indonesia baik-baik saja? Atau justru di balik senyum itu ada ‘hidden agenda’, bahwa rakyat harus dibuat tenang di tengah kondisi ekonomi yang cukup sulit saat ini.

 Antara Front Stage dan Back Stage

Erving Goffman, seorang sosiolog berpengaruh abad ke-20 yang dikenal sebagai penggagas teori dramaturgi mengatakan, kehidupan sosial ibarat sebuah panggung, dimana orang-orang merupakan aktor yang memanfatkan pertunjukan untuk membuat kesan tertentu pada audiens.

Dalam konteks teori ini, identitas manusia dapat berganti-ganti secara drastis tergantung situasi dan lawan interaksinya. Sementara manusia merupakan aktor yang memainkan berbagai peran tergantung jalan cerita dan settingnya di hadapan audiens.

Dalam analogi teatrikal ini, Goffman menyebutkan adanya dua posisi, yaitu panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage). Front stage merupakan pertunjukan yang menggambarkan situasi aktor yang sedang disaksikan oleh audiens. Sedangkan back stage merupakan bagian belakang layar, dimana aktor melakukan berbagai persiapan, latihan, dan kegiatan lain untuk mendukung peran yang dimainkan di atas pentas.

Goffman mengatakan, panggung depan cenderung terlembagakan yang mewakili kepentingan kelompok atau organisasi. Ketika aktor melaksanakan perannya, peran tersebut telah ditetapkan lembaga tempat dia bernaung.

Jika dibaca dari sudut pandang teori dramaturgi di atas, ada pertanyaan yang mengusik akal. Mungkinkan ‘Senyum Purbaya’ sebatas tampilan panggung depan? Logika orang awam, khususnya orang desa seperti saya, melihat ada kejanggalan antara situasi yang dihadapi dengan bahasa tubuh pak menteri.

Di tengah tingginya nilai dolar, yang menurut ekonom berpengaruh terhadap harga komoditas, pak menteri masih santai dengan senyumnya. Sebagai rakyat biasa, tentu saja saya sangat senang dengan senyum ramah dan model komunikasi yang ada. Kita sebagai rakyat merasa dimanusiakan dan dihargai, karena tidak adanya sekat antara rakyat dan pejabat.

Persoalannya adalah, ketika senyum itu kemudian ditafsirkan sebagai pertanda ekonomi kita baik-baik saja, tentunya perlu dianalisis dengan cara berbeda. Ketika seluruh dunia berkerut kening mencari solusi untuk keluar dari krisis ekonomi dan persoalan geopolitik yang kian tidak menentu, makna senyum itu justru bisa berubah menjadi bentuk penyederhanaan terhadap persoalan.

Senyum itu tidak lagi mengirim sinyal ketenangan, ketika rakyat justru berwajah muram karena sulitnya memenuhi kebutuhan harian. Senyum itu justru seolah mengisyaratkan perbedaan situasi yang dihadapi antara pejabat dan rakyat. Dalam situasi sulit, pejabat masih bisa bercanda tawa, sementara rakyat terbenam dalam situasi yang sulit dicari jalan keluarnya.

Masyarakat Tontonan (The Society of Spectacle)

Jika ‘Senyum Purbaya’ tidak lagi merepresentasikan realitas yang ada, maka orang desa seperti saya pun bertanya. Siapa dan di era apa kita ini sebenarnya? Guy Debord, filosof asal Prancis mengatakan, kehidupan sosial modern tidak lagi dijalani secara langsung melalui pengalaman nyata, melainkan telah bergeser menjadi sekadar tontonan atau representasi.

Menurutnya, media massa, iklan, dan budaya konsumerisme digunakan oleh kaum penguasa untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari realitas sosial yang ada. Dalam situasi tersebut, masyarakat seolah terhipnosis oleh tampilan dan citra yang dibangun seseorang. Guy Debord menyebut situasi itu sebagai “Masyarakat Tontonan” (the society of spectale).

Masyarakat tenggelam dalam sajian manis yang mengesankan situasi baik-baik saja. Disinilah hegemoni penguasa bermain untuk menggeser kesadaran masyarakat terhadap realitas yang dihadapinya. Kini, saya sebagai masyarakat desa yang diminta tidak khawatir dengan fluktuasi nilai tukar dolar, menanti aksi nyata. Semoga senyum pak Purbaya berimbas pada penguatan rupiah sekaligus penurunan harga.

error: Content is protected !!