{"id":97,"date":"2019-03-28T04:43:02","date_gmt":"2019-03-28T04:43:02","guid":{"rendered":"http:\/\/zulfatunmahmudah.id\/?p=97"},"modified":"2019-03-28T04:49:56","modified_gmt":"2019-03-28T04:49:56","slug":"menyoal-kaderisasi-perempuan-nu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/?p=97","title":{"rendered":"MENYOAL KADERISASI PEREMPUAN NU"},"content":{"rendered":"\n<p>Gelora Bung Karno (GBK) nampak hijau manakala ratusan ribu\nperempuan berbaju hijau memadati area tersebut. Mereka adalah ibu-ibu dari\nseantero penjuru negeri yang tengah memperingati hari lahir Muslimat ke 73.\nSebagai bagian dari warga Nahdiyyin tentu saja kita patut bangga melihat\npemandangan itu. Tidak bisa dipungkiri keberadaan organisasi yang bernaung di\nbawah Nahdlatul \u2018Ulama (NU) ini merupakan salah satu organisasi perempuan\nterbesar di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n<p>Muslimat bukan satu-satunya organisasi perempuan di tubuh NU,\ndi dalamnya masih ada Fatayat. Bahkan untuk remaja putri, NU juga memberikan\nwadah berkiprah yang disebut Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul \u2018Ulama (IPPNU).\nSebagai salah satu ormas terbesar di tanah air, NU pantas berbangga karena\nmemiliki kader perempuan sangat besar yang terwadahi dalam orgnisasi yang\nmemiliki akar sangat kuat.<\/p>\n\n\n\n<p>Persoalannya adalah, apakah jumlah besar saja sudah cukup\nuntuk mewarnai kehidupan negeri ini? Apakah jumlah besar juga menjadi jaminan\neksistensi organisasi perempuan ini mewarnai gerakan perempuan yang ada? Sederhananya,\napakah jumlah besar bisa turut menentukan kebijakan \u201cgender mainstreaming\u201d di\nnegeri ini?<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk bisa mewarnai segala hal tersebut, tentu saja dibutuhkan\nperempuan yang mampu masuk ke berbagai bidang dengan keahlian dan pengetahuan\ntertentu. Pertanyaannya, berapa banyak kader yang duduk di legislatif dan\npemerintahan baik di pusat maupun di daerah. Berapa jumlah kader yang memegang\nkendali korporasi negeri ini? Hal yang tidak kalah penting juga, seberapa\nbanyak kader yang duduk di industri media ataupun menjadi pelaku media yang\nturut menentukan arah pemberitaan. Berapa banyak kader perempuan NU yang tampil\ndi dunia literasi seperti jurnal dan media ilmiah lainnya?<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk menjawab pertanyaan itu, barangkali tidak perlu sebuah\nriset atau survey yang canggih. Kita cukup melihat tokoh-tokoh perempuan di\nnegeri ini yang muncul dari organisasi perempuan ini. Memang benar, ada\nbeberapa tokoh yang lahir dari organisasi perempuan NU. Sebut saja Khofifah\nIndar Parawangsa dan Yenni Wachid yang memang kiprahnya sudah terakui hingga ke\nmancanegara. Namun demikian, jika dihitung secara prosentase, jumlah tokoh yang\nada masih belum mewakili jumlah kader perempuan yang ada di tubuh NU, yang\nnotabenenya mencapai ratusan ribu orang. <\/p>\n\n\n\n<p>Lantas apa yang menjadi inti persoalan? Barangkali hal yang\npaling mendasar adalah persoalan sudut pandang. Di era modern dan penuh\npersaingan saat ini, kita sudah harus berpikir untuk bisa tumbuh dan berkembang\ndi posisi dan situasi yang lebih komplek. Artinya, kita tidak cukup hanya besar\ndi kandang sendiri. Untuk bisa tumbuh dan berkembang di luar kandang, salah\nsatu prasarat adalah memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengimbangi\nkuatnya arus persaingan. <\/p>\n\n\n\n<p>Organisasi perempuan NU harus bisa membuat program kerja yang\nlebih komprehensif agar kadernya memiliki daya saing di luar organisasinya,\ntanpa harus menghilangkan program utama yang menjadi ciri khas ke-NU-an seperti\npengajian dan tahlilan.&nbsp; Tentu saja\nprogram tersebut harus dikelola dengan professional, bukan sebatas terpampang\ndi catatan rapat atau tertulis di buku kerja. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pengkaderan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Hal lain yang lebih krusial adalah terkait pengkaderan.\nBicara masalah pengkaderan, barangkali kita bisa membela diri bahwa hal itu\ntidak hanya melanda organisasi perempuan NU. Hampir semua organisasi yang\nprofessional sekalipun mengalami hal sama. Alasan itu tidak perlu dipungkiri,\nnamun kita tetap harus mencoba menjadikan proses pengkaderan ini sebagai hal\nserius yang harus ditangani. Kita perlu menyiapkan Khofifah dan Yenni baru,\nsehingga apa yang telah mereka perjuangkan sebelumnya bisa terus berlanjut.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengkaderan, sesungguhnya menjadi bagian penting dari\nkesuksesan seorang pemimpin. Oleh karena itu, tidak ada alasan yang tepat untuk\ntidak menerapkan hal ini menjadi program khusus yang ditangani secara serius. Dengan\nlangkah ini diharapkan organisasi perempuan NU tidak hanya besar dari\nkuantitas, namun juga mampu melahirkan tokoh-tokoh perempuan yang berkualitas.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk melahirkan tokoh berkualitas, dibutuhkan kedewasaan\nmemberikan panggung untuk eksis. Bisa jadi, saat ini NU memiliki banyak kader\nperempuan setingkat master dan doktor. Saatnya mereka diberi panggung untuk\nberkiprah tanpa melihat kader itu keturunan siapa. Sangat berbahaya bagi\nperkembangan organisasi jika praktik seperti ini mewarnai sistem pengkaderan.\nSebab, hal ini akan melahirkan sebuah diskriminasi yang berujung kepemimpinan\nhanya milik istri pembesar, tanpa melihat kemampuan dan potensi yang dimiliki\nseseorang.<\/p>\n\n\n\n<p>Kelangkaan kader yang siap memimpin, bisa melahirkan praktik\nkepemimpinan yang hanya mengikuti jabatan suami. Hal ini akan menjadi\npenghambat tersendiri bagi perkembangan organisasi. Oleh karena itu, praktik\nseperti ini harus dihindari jika organisasi NU ingin tumbuh besar baik dari\nsegi kuantitas maupun kualitas. Dengan kuantitas dan kualitas, diharapkan\norganisasi perempuan NU siap mewarnai segala aspek kehidupan di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gelora Bung Karno (GBK) nampak hijau manakala ratusan ribu perempuan berbaju hijau memadati area tersebut. Mereka adalah ibu-ibu dari seantero penjuru negeri yang tengah memperingati hari lahir Muslimat ke 73. Sebagai bagian dari warga Nahdiyyin tentu saja kita patut bangga melihat pemandangan itu. Tidak bisa dipungkiri keberadaan organisasi yang bernaung di bawah Nahdlatul \u2018Ulama (NU) [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ngg_post_thumbnail":0},"categories":[3],"tags":[],"gutentor_comment":0,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/97"}],"collection":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=97"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/97\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":98,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/97\/revisions\/98"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=97"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=97"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=97"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}