{"id":351,"date":"2020-11-27T22:56:29","date_gmt":"2020-11-27T22:56:29","guid":{"rendered":"http:\/\/zulfatunmahmudah.id\/?p=351"},"modified":"2020-11-27T23:11:53","modified_gmt":"2020-11-27T23:11:53","slug":"optimalisasi-peran-public-relations-dalam-mengawal-reputasi-industri-pertambangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/?p=351","title":{"rendered":"OPTIMALISASI PERAN PUBLIC RELATIONS DALAM MENGAWAL REPUTASI INDUSTRI PERTAMBANGAN"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>ABSTRAK<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><em>Industri pertambangan, khususnya\nbatu bara selalu disorot sebagai industri yang merusak lingkungan. Implementasi\ngood mining practice oleh sejumlah industri tambang terlihat belum mampu\nmengubah opini tersebut. Bahkan kontribusi industri ini terhadap negara dalam\nbentuk pajak dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP), masih belum bisa\nmendorong publik melihat tambang secara berimbang. Banyaknya program CSR dengan\npendanaan besar, juga belum mampu menutup opini negatif yang kerap muncul dalam\nsejumlah pemberitaan.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Opini negatif publik terhadap\nkehadiran tambang, berdampak signifikan terhadap reputasi industri ini. Padahal\nreputasi sebagai intangible asset, memiliki arti penting bagi sebuah korporasi.\nReputasi akan berimbas pada perolehan ijin sosial untuk beroperasi. Lantas\nbagaimana upaya industri pertambangan menjaga reputasinya? Salah satu cara yang\nbisa ditempuh adalah dengan optimalisasi peran public relations (PR). Di era\nkomunikasi saat ini, dimana informasi begitu cepat tersebar, PR menjadi bagian\npenting dalam pembentukan reputasi korporasi. Industri tambang sebagai industri\nyang sangat rentan dengan issu negatif, sudah seharusnya mengoptimalkan peran\nPR. PR tidak bisa ditempatkan hanya sebagai bayang-bayang operation, yang\ntertera dalam struktur korporasi hanya sebagai pelengkap saja.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Paper ini tidak dimaksudkan untuk\nmenguji pengaruh satu variable terhadap variable lain. Dalam paper ini\ndipaparkan alternatif komunikasi dan penanganan opini publik di industri\npertambangan, melalui peran PR. Metode penelitian yang dipilih adalah\nkualitatif deskriptif. Pemaparan didasarkan pada studi kasus penerapan PR di PT\nKaltim Prima Coal (KPC).Ada dua alternatif yang dipaparkan dalam paper ini.\nPetama, penerapan communication plan dalam bentuk program preventif dan\nkuratif. Kedua, penerapan model PR berbasis karyawan sebagai agen PR. Tulisan\nini juga dimaksudkan untuk melihat dampak langkah PR terhadap pemberitaan media\ndan kelancaran operasi tambang. Dengan langkah ini diharapkan pemberitaan\ntentang tambang lebih berimbang, sehingga reputasi industri pertambangan lebih\nbaik di masa mendatang.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Kata kunci: public relations,\nreputasi, industri pertambangan<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>ABSTRACT<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><em>The mining industry, particularly coal, has always been highlighted as\nan industry that damages the environment. The implementation of good mining practices\nby a number of mining industries seems unable to change this opinion. Even the\ncontribution of this industry to the state in the form of taxes and non-tax\nstate revenue (PNBP), still cannot encourage the public to view mining in a\nbalanced manner. The large number of CSR programs with large funding has not\nbeen able to close the negative opinion that often appears in a number of\nreports.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>The negative public opinion regarding the presence of mining has a\nsignificant impact on the reputation of this industry. In fact, reputation as\nan intangible asset has an important meaning for a corporation. More\nspecifically, reputation will have an impact on obtaining a social license to\noperate. So how is the mining industry&#8217;s efforts to maintain its reputation?\nOne way that can be taken is by optimizing the role of public relations (PR).\nIn the current era of communication, where information is so fast spreading, PR\nhas become an important part in building a corporate reputation. The mining\nindustry as an industry that is very vulnerable to negative issues, should\noptimize the role of PR. PR cannot be placed only as part of the operation,\nwhich is stated in the corporate structure only as a complement.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>This paper is not intended to examine the effect of one variable on\nanother variable. In this paper, an alternative communication and handling of\npublic opinion in the mining industry is presented, through the role of PR. The\nresearch method chosen is descriptive qualitative. The presentation is based on\na case study of the application of PR in PT Kaltim Prima Coal (KPC). There are\ntwo alternatives that are described in this paper. First, the implementation of\na communication plan in the form of preventive and curative programs. Second,\nthe application of the employee-based PR model as a PR agent. This paper is\nalso intended to see the impact of PR measures on media coverage and the smooth\nrunning of mining operations. With this step, it is hoped that reporting on\nmining will be more balanced, so that the reputation of the mining industry\nwill be better in the future.<\/em><em><\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>A. PENDAHULUAN<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Industri pertambangan, khususnya\nbatubara selalu disorot sebagai industri yang merusak lingkungan. Munculnya\nfilm dokumenter \u201csexy killers\u201d semakin memperkuat tudingan tersebut. Film\ngarapan <em>watchdoc<\/em> itu mengulas sisi kelam dunia tambang, khususnya\nterkait kerusakan lingkungan akibat aktifitas penambangan. Tidak hanya\nmemaparkan kerusakan lingkungan. Film itu juga mempertontonkan tewasnya\nsejumlah bocah di bekas lubang tambang. Hal ini tergambar jelas&nbsp; pada menit-menit pertama penayangan film\ndokumenter itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Penggambaran tambang yang seperti\nitu, sejatinya sudah ada jauh sebelum <em>sexy\nkillers<\/em> muncul. Bedanya, penggambaran kali ini terstruktur dan jangkauan\nedarnya juga sangat luas karena memanfaatkan jaringan media sosial. Bahkan\nsejumlah pihak juga sempat menggelar acara nonton bareng. Film yang diunggah di\nkanal youtube 13 April 2019 itu, juga sempat menjadi topik diskusi di sejumlah\nkampus. <\/p>\n\n\n\n<p>Sayang film itu hanya menampilkan\nsatu sisi dunia pertambangan. Publikasi yang tak berimbang itu, tentu saja\nmerugikan sejumlah industri pertambangan, khususnya perusahaan yang menerapkan <em>good\nmining practice<\/em>. Perusahaan ini umumnya mengedepankan ketaatan pada\nregulasi dalam melakukan penambangan. Aspek lingkungan, keselamatan, hingga hak\nasasi manusia baik internal maupun eksternal perusahaan, menjadi perhatian\nutama. <\/p>\n\n\n\n<p>Melihat tambang, sejatinya tidak\nbisa hanya dari satu sudut pandang. Jika di satu sisi tambang menimbulkan\ndampak negatif, disisi lain tambang memberi kontribusi yang sangat besar bagi pembangunan.\nKontribusi tersebut dalam bentuk pajak dan penerimaan negara bukan pajak\n(PNBP), seperti royalti dan iuran tetap lainnya. Pada tahun 2018, PNBP Subsektor Minerba\nmencapai Rp. 50,01 triliun, melebihi target yang dicanangkan dalam tahun 2018\nyakni sebesar Rp. 32.1 triliun. Dengan rincian Rp. 0,5 triliun dari iuran tetap,\nRp. 29,8 triliun dari royalti, Rp. 19,3 triliun dari penjualan hasil tambang,\ndan Rp. 0,4 triliun dari pendapatan jasa tenaga kerja. Capaian tersebut disampaikan\nKementerian ESDM melalui siaran pers Nomor<strong>&nbsp;<\/strong>0035.Pers\/04\/SJI\/2019, &nbsp;9 Januari\n2019. <\/p>\n\n\n\n<p>Kontribusi industri pertambangan\ntidak berhenti pada pajak dan PNBP. Sejumlah\nperusahaan tambang juga menggelontorkan dana dalam jumlah milyaran rupiah\nsetiap tahunnya. Dana tersebut dialokasikan untuk kesejahteraan masyarakat\nsekitar tambang melalui program CSR. Sebut saja PT Kaltim Prima Coal (KPC).\nPerusahaan tambang batubara yang berlokasi di Sangatta, Kalimantan Timur itu\nmengeluarkan dana hingga 5 juta USD untuk CSR tiap tahunnya. Data tersebut\ntersaji lengkap dalam laporan keberlanjutan yang disampaikan kepada publik. Ironinya\nsemua yang telah dilakukan industri ini tidak berdampak pada pembentukan\nreputasi. Industri tambang tetap dipandang sebagai industry yang hanya merusak\nlingkungan. <\/p>\n\n\n\n<p>Maraknya pemberitaan negatif\ntentang tambang menuntut <em>Corporate Communication<\/em> di industri ini membuat\nperencanaan komunikasi yang tepat. <em>Public Relations<\/em> (PR) pertambangan\nharus tampil &nbsp;menciptakan opini tambang\nlebih berimbang. Misalnya, membuat publikasi yang menonjolkan kontribusi\ntambang bagi pembangunan. Industri tambang tidak boleh <em>defense<\/em> ataupun melakukan sikap konfrontatif ketika ada publikasi\nyang menyudutkan. Sebab, konfrontasi hanya akan memunculkan kesan bahwa kita\nmelakukan pembelaan atas hal-hal yang dianggap menjadi kebenaran umum. <\/p>\n\n\n\n<p>Di era industri 4.0 ini, &nbsp;organisasi dituntut mampu mengkomunikasikan\naktivitasnya kepada para <em>stakeholder<\/em>. Persoalannya adalah saluran\nkomunikasi mana yang umumnya digunakan organisasi, khususnya perusahaan tambang\nyang kental dengan terjangan issue negatif. Sejumlah perusahaan nampak lebih\nsenang memanfaatkan komunikasi formal dalam membentuk reputasi perusahaan.\nMengikuti ajang penghargaan, membuat advertorial, dan <em>ceremony<\/em> formal\nlainnya untuk mengkampanyekan diri sebagai perusahaan yang baik kerap\ndilakukan. Tentu saja cara tersebut tidak salah, karena pengakuan formal juga\ntetap diperlukan.<\/p>\n\n\n\n<p>Persoalannya adalah, sejauh mana\nefektifitas komunikasi formal itu? Sementara opini buruk tambang terlanjur\nmelegitimasi di berbagai lapisan masyarakat. Industri pertambangan harus\nmemulai mendesain PR model baru, dengan menjadikan semua karyawan sebagai juru\nbicara perusahaan. Dengan pola PR tersebut, jaringan komunikasi diharapkan lebih\nmerata dan menyentuh semua lapisan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n<p>Untuk mengimplementasikan hal ini,\nsyarat mendasarnya adalah komunikasi berbagai program perusahaan harus\ndilaksanakan secara terstruktur. Komunikasi ke sejumlah <em>stakeholder <\/em>juga harus\ndibarengi dengan komunikasi ke internal karyawan. Pemahaman yang menyeluruh\nterkait apa yang telah dan akan dilakukan perusahaan untuk bangsa dan\nmasyarakat menjadi hal penting. Dengan pemahaman tersebut, karyawan memiliki\npengetahuan yang tepat untuk meluruskan informasi yang berkembang di\nmasyarakat. <\/p>\n\n\n\n<p>Tulisan ini dimaksudkan untuk\nmemberikan alternatif penanganan komunikasi di industri pertambangan. Ada dua\nalternatif yang dipaparkan dalam paper ini. Petama, penerapan <em>communication\nplan<\/em> dalam bentuk program preventif dan kuratif. Kedua, penerapan model\nkomunikasi berbasis karyawan. Dalam hal ini karyawan difungsikan sebagai agen\nPR. Lebih lanjut, tulisan ini juga dimaksudkan untuk mengetahu dampak langkah\nPR terhadap pemberitaan media dan kelancaran operasi tambang. Dengan langkah\nini diharapkan pemberitaan tentang tambang lebih berimbang, sehingga reputasi\nindustri pertambangan lebih baik di masa mendatang.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>B. LITERATUR <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam buku <em>Crisis Communication A Stakeholder Approach<\/em> karya Ndlela (2019, p.\n26), Ferguson menjelaskan, hidup di era informasi,&nbsp; organisasi dituntut untuk mampu\nmengkomunikasikan aktivitasnya kepada para stakeholder. Umumnya aktivitas\nkomunikasi sebuah perusahaan dijalankan oleh tim <em>Public Relations<\/em> (PR).\nPR memegang peranan penting dalam membangun komunikasi organisasi dengan <em>stakeholder<\/em>nya.\nKomunikasi yang baik akan berdampak pada pembentukan reputasi. Reputasi\nmenurut <em>The Penguin English Dictionary<\/em> dalam Griffin (2014, p. 2)\ndimaknai sebagai kualitas ataupun karakter yang dilihat, dinilai, dan diakui\noleh pihak lain. Oleh\nkarena itu, pengetahuan terkait manajemen PR mutlak diperlukan. <\/p>\n\n\n\n<p>Beragam definisi PR dipaparkan oleh\npara ahli. Definisi yang paling terkenal disampaikan oleh Grunig dan Hunt\n(1984) yang dijabarkan oleh Harrison (2011, p.5). PR dimaksudkan sebagai\nmanajemen komunikasi antara organisasi dan publik. Dengan melibatkan publik,\ndiharapkan komunikasi yang dibangun perusahaan sampai ke publik dan bisa diterima\ndengan baik. <\/p>\n\n\n\n<p>Menurut\nGordon (1997) dalam <a>Tench dan Yeomans (2006, p.5) <\/a>\u201c<em>PR\nis about managing communication in order to build good relationships and mutual\nunderstanding between an organization and its most important audiences<\/em>\u201d.&nbsp; Kutipan tersebut menggambarkan PR terkait\nerat dengan manajemen komunikasi untuk membangun hubungan yang baik dan saling\npengertian antara organisasi dan auidennya. Dengan hubungan yang baik itu,\ndiharapkan muncul opini dan persepsi yang baik terhadap organisasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain\nmembina hubungan baik, PR juga berfungsi untuk menyampaikan pesan perusahaan\nkepada public. Terkait hal ini, Grunig (1984) dalam Harrison (2011, p. 87)\nmembagi PR dalam empat model, yaitu <em>press agentry\/publicity, public\ninformation, two-way asymmetrical, dan two-way symmetrical. <\/em>&nbsp;Model PR mana yang dipilih sangan bergantung\npada tujuan komunikasi yang ditetapkan perusahaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika\nsebuah perusahaan ingin melakukan propaganda, maka <em>press agentry\/publicity<\/em>\nadalah model yang paling tepat. Model ini merupakan komunikasi satu arah tanpa\nmempertimbangkan kepercayaan publik. Sementara itu, ketika perusahaan bermaksud\nmenyampaikan penyebaran informasi, maka model yang tepat adalah <em>public\ninformation<\/em>. Model ini bersifat satu arah, namun perusahaan tetap\nmempertimbangkan kepercayaan publik. Jika sebuah perusahaan menghendaki langkah\npersuasif dalam menyampaikan pesan ke publik. <em>two-way asymmetrical <\/em>menjadi\nmodel yang tepat. Sebaliknya, jika perusahaan menghendaki pola komunikasi yang\nbersifat <em>mutual understanding<\/em>, perusahaan harus menggunakan model <a><em>two-way &nbsp;symmetrical PR<\/em>.<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Jika\ndikaitkan dengan merebaknya opini negatif tentang tambang, perusahaan perlu\nmempertimbangkan pola komunikasi yang tidak hanya searah. Sebab, kesuksesan\noperasi perusahaan juga sangat dipengaruhi hubungan perusahaan dengan publik,\nkhususnya para stakeholdernya. Seperti dikatakan Ndlela (2019, p. 17) <em>\u201ct<\/em><em>he central idea in\nstakeholder theory is that an organization\u2019s success is dependent on how well\nit manages the relationships with key groups such as customers, employees,\nsuppliers, communities, financiers and others that can affect the realization\nof its purpose\u201d. <\/em>Kutipan\ntersebut menjabarkan kesuksesan organisasi bergantung pada seberapa baik\norganisasi mengelola hubungan dengan sejumlah kelompok yang dapat mempengaruhi\ntercapainya tujuan organisasi. Mengacu pendapat tersebut, sangat tepat jika\nmodel komunikasi dua arah atau <em>two-way symmetrical PR<\/em> menjadi pilihan bagi perusahaan tambang.<\/p>\n\n\n\n<p>Komunikasi dua arah, harus\ndilakukan perusahaan sepanjang waktu, tidak hanya ketika perusahaan dihantam\nissue ataupun krisis. Perusahaan tambang sebagai industri yang memiliki risiko\ntinggi harus sudah&nbsp; membangun komunikasi\nsejak awal. Sebab, risiko yang tidak tertangani dengan baik bisa eskalasi\nmenjadi issue ataupun krisis. Hubungan antara risiko, issu, dan krisis\ndigambarkan dalam bagan berikut:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"\"><tbody><tr><td>\n    \n    Dikutip dari slide\n    presentasi corporate communication LSPR, Jakarta\n    by SyafiqB.\n    Assegaff, MA, MD, CBM, IAPR\n    \n    <\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p>Jika dikaitkan dengan persoalan\nrisiko, bisnis pertambangan merupakan salah satu jenis bisnis yang memiliki\nrisiko tinggi. Sebab, banyak aktivitas pertambangan yang cukup membahayakan,\nseperti proses <em>blasting<\/em> dan munculnya lubang terbuka pasca penambangan.\nOleh karena itu, manajemen risiko menjadi hal penting bagi perusahaan tambang. <a>Field (2008) dalam Walaski (2011, p. 7) <\/a>mengatakan <em>\u201crisk\nis the probability (or likelihood) that a harmful consequence will occur as a\nresult of an action\u201d.<\/em> Pendapat Field ini menekankan bahwa risiko adalah probabilitas\nmunculnya bahaya sebagai akibat dari suatu tindakan. <\/p>\n\n\n\n<p>Di era industri 4.0 saat ini,\nperusahaan bisa memanfaatkan berbagai sarana komunikasi untuk menyampaikan\npesan kepada publik. Salah satu sarana tersebut adalah media sosial. Keunggulan\nmedia ini adalah penyebarannya yang sangat luas dan cepat. Seperti dikatakan <a>Austin at al. (2017, p. 58),<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><em>Social media speed the\ndevelopment of critical situations because they enable rapid sharing of\ninformation on a hugely unimaginable scale in real time. People use social\nmedia to seek updated information on critical situations, to share experiences,\nand to get emotional support. <\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Mengacu pendapat di atas, media\nsosial memiliki berbagai macam keunggulan. Selain sebagai wahana penyebaran\ninformasi yang sangat cepat dan efektif, media sosial juga sarana menciptakan\ndukungan emosional. Selain memanfaatkan media massa, perusahaan perlu memiliki\nwacana baru. PR tidak lagi dilihat sebagai tanggungjawab departemen PR semata.\nSaatnya perusahaan melihat bahwa setiap karyawan adalah PR bagi perusahaannya.\nTentu saja ada strategi tersendiri yang harus tetap diperhatikan agar wacana\nmemaksimalkan karyawan sebagai PR berdampak positif bagi perusahaan. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>C. Metodologi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Paper ini tidak dimaksudkan untuk\nmenguji pengaruh satu variable terhadap variable lain. Penelitian ini hanya dimaksudkan\nuntuk memaparkan sebuah alternatif komunikasi bagi industri pertambangan. Metode\npenelitian yang dipilih adalah kualitatif deskriptif. Menurut <a>Nazir (1988, p. 63),&nbsp;<\/a>metode\ndeskriptif merupakan suatu metode yang digunakan untuk meneliti suatu sistem\npemikiran. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat\ndeskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat\nmengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang\ndiselidiki.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih\nspesifik, metode deskriptif yang dipilih adalah &nbsp;<em>Participatory Action Research<\/em> (PAR). Menurut Koshy (2010), <em>a<\/em><em>ction\nresearch is a method used for improving practice<\/em>. Sedangkan Meyer (2000) mengatakan,\n<em>\u201caction research\u2019s strength lies in its focus on generating solutions to\npractical problems and its ability to empower prac\u00adtitioners, by getting them\nto engage with research and the subsequent development or implementation\nactivities<\/em>.\u201d Mengacu pendapat tersebut, keunggulan <em>action research<\/em>\nfokus dalam menemukan solusi\nuntuk masalah-masalah praktis dan kemampuannya untuk memberdayakan praktisi,\ndengan mengajak mereka terlibat dengan penelitian. <\/p>\n\n\n\n<p>Menurut <strong>&nbsp;<\/strong><a>Ferrance (2000, p.\n9),&nbsp; <\/a>ada lima fase dalam penelitian\nmetode PAR. Fase tersebut mencakup identifikasi problem, pengumpulan data,\ninterpretasi data, pengambilan langkah sesuai data, dan evaluasi. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Penelitian dilakukan di PT Kaltim Prima Coal (KPC) perusahaan\ntambang yang berlokasi di Sangatta, Kalimantan Timur. Pengumpulan data dilakukan melalui\nobservasi, interview, dan analisa dokumen. Peneliti melakukan observasi dengan\nmengamati langsung model komunikasi yang diterapkan di perusahaan ini. Untuk\nmemperkuat hasil observasi, peneliti melakukan wawancara. Wawancara dilakukan\ndengan tim PR dan juga kayawan lain yang tidak memiliki mandatori sebagai tim\nPR. Dokumen yang dianalisa terkait dengan berbagai kegiatan ke-PR-an yang telah\ndilakukan perusahaan. <\/p>\n\n\n\n<p>Analisis data dalam penelitian ini\ndimulai dengan pendiskripsian seluruh dokumen. Data penelitian dianalisa dalam\ntiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data dan kesimpulan atau verifikasi\ndata. Penyajian data dilakukan dalam teks naratif. Miles et al. (2014, p.13)\nmengatakan <em>\u201cthe most frequent form of display data for qualitative research\ndata in the past has been narrative text\u201d. <\/em>Kutipan tersebut menggambarkan\nbahwa penyajian data dalam penelitian kualitatif adalah dalam bentuk teks\nnaratif.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>D. HASIL DAN PEMBAHASAN<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Langkah PR KPC <\/strong><strong><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>PT Kaltim Prima Coal (KPC)\nmerupakan salah satu perusahaan tambang batubara terbesar di dunia yang\nterletak di Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Wilayah tambang\nperusahaan ini mencapai kurang lebih 90 ribu hektar. Berdasarkan data <em>Sustainable\nReport<\/em> KPC 2019, produksi perusahaan ini di tahun tersebut mencapai 60,9\njuta ton.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai perusahaan besar, sangat\nmemungkinkan perusahaan ini menjadi sorotan publik, khususnya media massa.\nBerdasarkan data media analisis yang ada, jumlah pemberitaan KPC di media massa\nJanuari-Desember 2019 mencapai 600 pemberitaan. Data tersebut menunjukkan bahwa\npraktik penambangan KPC berpotensi menjadi issue dan krisis jika tidak dikelola\ndengan baik. Mengantisipasi hal tersebut, berbagai langkah PR diambil perusahaan\nini. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Langkah tersebut dilakukan mengacu model <em>two-way\nsymmetrical<\/em> PR. KPC memilih model kampanye dialogis yang melibatkan\nmasyarakat. Untuk mengantisipasi issue bahaya lubang tambang, KPC menggelar\nsosialisasi yang melibatkan pihak ketiga, dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup,\nCamat dan Kapolsek setempat. Sasaran sosialisasi adalah masyarakat desa di dua\nkecamatan, Sangatta Utara dan sangatta Selatan yang berdampingan langsung\ndengan operasi tambang. Sosialisasi yang bersifat dialogis tersebut, dihadiri\nsemua ketua RT yang diharapkan akan menjadi penyambung informasi kepada warga.\nLangkah ini dikategorikan sebagai bagian dari manajemen risiko.<\/p>\n\n\n\n<p>KPC juga membuka diri kepada\nmasyarakat yang ingin melihat langsung proses penambangan dan reklamasi sebagai\nbagian kampanye PR. Keterbukaan ini berlaku untuk semua lapisan masyarakat,\nseperti pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, hingga mahasiswa dan pelajar.\nBerdasarkan data yang ada, jumlah kunjungan ke tambang KPC dalam tahun 2019\nmencapai 153, dengan total individu mencapai 5.276 orang. Kunjungan tersebut\nhampir merata setiap bulan, dengan sebaran sebagai berikut :<\/p>\n\n\n\n<p>Tabel 1. Jumlah kunjungan tamu KPC tahun\n2019<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"\"><tbody><tr><td>\n  <strong>Januari-Desember 2019<\/strong>\n  <\/td><\/tr><tr><td>\n  <strong>Bulan<\/strong>\n  <\/td><td>\n  <strong>Jan<\/strong>\n  <\/td><td>\n  <strong>Peb<\/strong>\n  <\/td><td>\n  <strong>Mar<\/strong>\n  <\/td><td>\n  <strong>Apr<\/strong>\n  <\/td><td>\n  <strong>May<\/strong>\n  <\/td><td>\n  <strong>Jun<\/strong>\n  <\/td><\/tr><tr><td>\n  <strong>Jumlah<\/strong>\n  <\/td><td>\n  13\n  <\/td><td>\n  18\n  <\/td><td>\n  14\n  <\/td><td>\n  20\n  <\/td><td>\n  9\n  <\/td><td>\n  7\n  <\/td><\/tr><tr><td><\/td><\/tr><tr><td>\n  <strong>Bulan<\/strong>\n  <\/td><td>\n  <strong>Jul<\/strong>\n  <\/td><td>\n  <strong>Aug<\/strong>\n  <\/td><td>\n  <strong>Sep<\/strong>\n  <\/td><td>\n  <strong>Okt<\/strong>\n  <\/td><td>\n  <strong>Nov<\/strong>\n  <\/td><td>\n  <strong>Des<\/strong>\n  <\/td><\/tr><tr><td>\n  <strong>Jumlah<\/strong>\n  <\/td><td>\n  14\n  <\/td><td>\n  10\n  <\/td><td>\n  7\n  <\/td><td>\n  13\n  <\/td><td>\n  13\n  <\/td><td>\n  15\n  <\/td><\/tr><tr><td>\n  <strong>Total Kunjungan : 153<\/strong>\n  <\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p>Selain itu, untuk menjembatani\nmunculnya keluhan dan persoalan yang muncul di masyarakat, KPC mendesain\nprogram <em>Community Feedback System<\/em> (CFS). Program ini dimaksudkan untuk\nmendokumentasikan keluhan masyarakat. Keluhan yang sudah didokumentasikan,\nselanjutnya ditindaklanjuti secara proporsional sesuai prosedur yang berlaku. Hasil\nakhir yang ingin diraih dari program ini adalah terciptanya hubungan harmonis\ndengan masyarakat, yang berujung perolehan ijin sosial untuk beroperasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Bentuk keluhan disampaikan melalui\nberbagai cara, seperti surat, masyarakat datang langsung ke kantor, atau bahkan\nberaksi di area kerja tambang. Berdasarkan data 2015-2019, jumlah pengaduan\nyang masuk mencapai 41 kasus. Keluhan tersebut bisa digolongkan pada dua\nkelompok, yaitu dampak penambangan terhadap lingkungan dan persoalan sosial.\nBerdasar data yang masuk, persoalan lingkungan yang menjadi fokus keluhan\nmasyarakat mencakup issue banjir, <em>blasting<\/em>, debu tambang, kualitas air\ndari kolam tambang. Sedangkan issue sosial umumnya terkait dengan issue tenaga\nkerja lokal, kontraktor lokal, &nbsp;dan issue\nlahan. Sebaran masing-masing issue bisa dilihat dalam table berikut:<\/p>\n\n\n\n<p>Tabel 2. Data community\nfeedback system 2015-2019 KPC<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"\"><tbody><tr><td>\n  <strong>Issue<\/strong>\n  <\/td><td>\n  <strong>Tahun<\/strong>\n  <\/td><td>\n  <strong>Status<\/strong>\n  <\/td><\/tr><tr><td>\n  <strong>2015<\/strong>\n  <\/td><td>\n  <strong>2016<\/strong>\n  <\/td><td>\n  <strong>2017<\/strong>\n  <\/td><td>\n  <strong>2018<\/strong>\n  <\/td><td>\n  <strong>2019<\/strong>\n  <\/td><\/tr><tr><td>\n  Banjir\n  <\/td><td>\n  3\n  <\/td><td>\n  3\n  <\/td><td>\n  3\n  <\/td><td>\n  &#8211;\n  <\/td><td>\n  &#8211;\n  <\/td><td>\n  solved\n  <\/td><\/tr><tr><td>\n  Blasting\n  <\/td><td>\n  1\n  <\/td><td>\n  11\n  <\/td><td>\n  3\n  <\/td><td>\n  2\n  <\/td><td>\n  1\n  <\/td><td>\n  solved\n  <\/td><\/tr><tr><td>\n  Debu Tambang \n  <\/td><td>\n  &#8211;\n  <\/td><td>\n  &#8211;\n  <\/td><td>\n  &#8211;\n  <\/td><td>\n  &#8211;\n  <\/td><td>\n  &#8211;\n  <\/td><td>\n  &#8211;\n  <\/td><\/tr><tr><td>\n  Kualitas Air\n  <\/td><td><\/td><td>\n  2\n  <\/td><td><\/td><td>\n  1\n  <\/td><td><\/td><td>\n  solved\n  <\/td><\/tr><tr><td>\n  Tenaga Kerja Lokal\n  <\/td><td>\n  &#8211;\n  <\/td><td>\n  &#8211;\n  <\/td><td>\n  &#8211;\n  <\/td><td>\n  &#8211;\n  <\/td><td>\n  &#8211;\n  <\/td><td>\n  &#8211;\n  <\/td><\/tr><tr><td>\n  Kontraktor Lokal\n  <\/td><td>\n  &#8211;\n  <\/td><td>\n  &#8211;\n  <\/td><td>\n  &#8211;\n  <\/td><td>\n  &#8211;\n  <\/td><td>\n  &#8211;\n  <\/td><td>\n  &#8211;\n  <\/td><\/tr><tr><td>\n  Lahan\n  <\/td><td>\n  2\n  <\/td><td>\n  3\n  <\/td><td>\n  2\n  <\/td><td>\n  3\n  <\/td><td>\n  1\n  <\/td><td>\n  solved\n  <\/td><\/tr><tr><td>\n  TOTAL\n  <\/td><td>\n  6\n  <\/td><td>\n  19\n  <\/td><td>\n  8\n  <\/td><td>\n  6\n  <\/td><td>\n  2\n  <\/td><td>\n  &nbsp;\n  <\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p>Selain menggunakan model <em>two-way symmetrical<\/em>,\nmodel lain yang digunakan adalah <em>public information. <\/em>Langkahini\ndiimplementasikan dalam bentuk publikasi media, termasuk media sosial. KPC menggandeng\nsejumlah media lokal untuk mempublikasikan kinerja dan capaiannya. <em>&nbsp;<\/em>Penyebaran informasi juga dilakukan ke\ninternal karyawan melalui majalah yang diterbitkan berkala. Selain media\nkonvensional, langkah publikasi juga dilakukan melalui media sosial. KPC\nmenyadari bahwa di era digital saat ini, media sosial menjadi alternatif\npenyebaran informasi yang sangat efektif.<\/p>\n\n\n\n<p>Media sosial KPC yang saat ini ada adalah facebook (PT\nKaltim Prima Coal), instagram (kaltimprimacoal), dan youtube (prima tube). KPC\nmempublikasikan semua kegiatan terkait operasi penambangan, program lingkungan,\ndan program sosial kemasyarakatan di media social tersebut. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Karyawan Sebagai Agen PR <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Penyebaran informasi yang begitu cepat di era digital\nsaat ini, membutuhkan gerak cepat seluruh elemen. Secara mandatori, tugas\nterkait komunikasi dan publikasi memang berada di tim PR. Namun demikian,\njumlah tim PR yang kadang terbatas berpengaruh pada kecepatan dan jangkauan\nkomunikasi perusahaan. Selain keterbatasan tersebut, kinerja tim PR memiliki\nkecenderungan formal. Disisi lain, di era industri 4.0 saat ini, komunikasi harus\nbisa dilakukan dengan berbagai pendekatan, salah satunya adalah komunikasi\ninformal.<\/p>\n\n\n\n<p>Menangkap kondisi tersebut, KPC memberdayakan seluruh\nkaryawan sebagai agen PR. Tentu saja, juru bicara dalam kontek ini bersifat\nnon formal, seperti obrolan santai warung kopi. Juru bicara dalam arti formal,\nyang dikenal dengan istilah \u201c<em>spoke person<\/em>\u201d\ntentu saja harus dikeluarkan dari satu pintu yang tertumpu pada manajemen yang\nmemang ditugasi untuk hal tersebut. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari\nkesalahan komunikasi tentang suatu isu antara pihak korporasi dengan publik.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan langkah ini diharapkan publikasi KPC bisa menjangkau\nsemua lapisan, dari komunitas warung kopi hingga kaum professional. Melibatkan karyawan\nsecara keseluruhan untuk menjadi agen PR, tentu saja harus disertai langkah\nmembekali mereka dengan informasi terkait perusahaan. Karyawan harus memiliki\npemahaman yang komperehensif tentang kegiatan dan capaian yang ada. Pemahaman\ntersebut menjadi bekal penting ketika mereka akan berbincang ataupun menyanggah\npendapat kurang tepat yang beredar di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Materi mendasar yang harus dipahami karyawan mencakup\ninformasi produksi, pengelolaan lingkungan, kegiatan sosial kemasyarakatan, dan\njuga nilai-nilai yang dianut korporasi. Pemasyarakatan informasi tersebut\ndilakukan melalui beberapa kegiatan, seperti <em>sharing session<\/em>, <em>value\ntalk<\/em>, <em>safety talk<\/em>, program induction karyawan baru, dan pemanfaatan\nmedia sosial dan majalah internal. Media komunikasi tersebut tidak selalu\nbersifat <em>top down<\/em>, dari manajemen untuk karyawan. <em>Sharing session<\/em>\nmisalnya, menjadi ajang sesama karyawan dari berbagai divisi untuk berbagi\ninformasi kegiatan dan capaian divisi. Program ini digelar berkelanjutan\nsebagai bagian dari kegiatan internal training.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>KPC dalam Pemberitaan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Berbagai langkah PR yang ditempuh berdampak signifikan\npada opini publik terhadap KPC. Dalam tulisan ini, peneliti tidak melakukan\nsurvey opini secara khusus. Data opini publik terhadap KPC diambil dari data\nanalisa berita yang ada di media massa, baik media cetak maupun elektronik.\nPertimbangannya adalah, opini yang muncul terkait KPC muncul dari berbagai\nlapisan masyarakat, seperti pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, para\nakademisi, dan masyarakat umum dari berbagai profesi. <\/p>\n\n\n\n<p>Analisa opini berdasarkan pemberitaan media massa\ntelah dilakukan KPC sejak tahun 2003. Dalam tulisan ini, data opini publik\ndiambil dari data media analisis Januari -Desember 2019. Pemilihan rentang\nwaktu tersebut didasarkan pertimbangan penyajian data opini terbaru. Hal\ntersebut diharapkan menggambarkan opini yang saat ini ada. Data yang\nditampilkan dibatasi pada analisa pada media massa lokal cetak dan online yang\npenyebarannya seputar Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur. Pertimbangannya,\nopini lokal akan terkait dan berdampak langsung pada operasi perusahaan. Berikut\ndata opini publik yang terlihat dalam media analisis 2020. <\/p>\n\n\n\n<p>Tabel 3. Data media monitoring KPC tahun 2019<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" width=\"627\" height=\"290\" src=\"http:\/\/zulfatunmahmudah.id\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/image.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-353\" srcset=\"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/image.png 627w, https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/image-300x139.png 300w\" sizes=\"(max-width: 627px) 100vw, 627px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Data tersebut menunjukkan bahwa opini positif terhadap\nKPC masih pada rating yang sangat tinggi. Ini membuktikan bahwa meski secara\numum opini publik tentang tambang terpapar informasi negatif, namun opini\nterhadap KPC sebagai sebuah korporasi tetap baik. Upaya KPC menyebarkan\ninformasi kinerja dan prestasinya, &nbsp;berdampak\nsignifikan pada pemahaman publik terhadap KPC. <\/p>\n\n\n\n<p>Opini positif terhadap KPC tidak hanya tercermin dalam\npemberitaan semata, namun bisa dilihat dalam realita. Operasi penambangan KPC\nterbilang sangat kondusif, terbukti tidak adanya demonstrasi ataupun\npenghentian operasi perusahaan oleh kelompok-kelompok tertentu. Berdasarkan\ndata yang ada, demonstrasi yang berakibat terhentinya operasi perusahaan\nterjadi terakhir tahun 2000. Sejak tahun 2001 hingga sekarang, kondisi tersebut\ntidak ditemui di perusahaan yang sudah berusia 37 tahun ini. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>KESIMPULAN<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dari semua pembahasan di atas, bisa disimpulkan bahwa PR\nberperan besar dalam membentuk opini publik. Opini positif publik menjadi modal\nbesar bagi pembentukan reputasi korporasi. Reputasi pada akhirnya akan\nberpengaruh terhadap kelancaran operasi korporasi. Dengan bekal opini positif\ndan reputasi baik, korporasi akan mudah mendapatkan ijin sosial untuk\nberoperasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Berbagai langkah PR yang dilakukan KPC berdampak signifikan\nterhadap opini positif publik. Hal ini dibuktikan dengan jumlah pemberitaan\npositif KPC di media massa. Selain itu, tidak ada unjuk rasa masyarakat yang\nberdampak pada penghentian operasi perusahaan. <\/p>\n\n\n\n<p>Pelibatan karyawan sebagai agen PR harus terus\ndioptimalkan. Sebab, komunikasi aktif dengan stakeholder tidak bisa hanya\nmengandalkan staf PR dalam kontek formal. Karyawan adalah juru bicara di\ntingkat lapangan yang turut mempengaruhi pembentukan opini public terhadap\nkorporasi.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Austin,\nL. &amp; Jin, Y. (2017). <em>Social media and crisis communication<\/em>. New\nYork, Amerika: Routledge<\/p>\n\n\n\n<p>ESDM. (2019). <em>Capaian\nKinerja Minerba 2018: Akselerasi Perizinan Clean and Clear, PNBP Lebihi Target<\/em>,&nbsp; data diperoleh melalui situs internet &nbsp;<a href=\"https:\/\/www.esdm.go.id\/id\/media-center\/arsip-berita\/capaian-kinerja-minerba-2018-akselerasi-perizinan-clean-and-clear-pnbp-lebihi-target-divestasi-freeport-tuntas\">https:\/\/www.esdm.go.id\/id\/media-center\/arsip-berita\/capaian-kinerja-minerba-2018-akselerasi-perizinan-clean-and-clear-pnbp-lebihi-target-divestasi-freeport-tuntas<\/a>,\ndiunduh\ntgl\n5 September 2019<\/p>\n\n\n\n<p>Ferrance,\nE. (2000). <em>Action Research<\/em>. New York: Brown University<\/p>\n\n\n\n<p>Griffin, A. (2014). <em>Crisis,\nissues and reputation managemen. <\/em>UK: British Library Cataloguing-in-Publication Data<\/p>\n\n\n\n<p>Harrison, Kim. (2011). <em>Strategic\nPublic Relations<\/em>: A Practical guide to succes. Sydney: Palgrave Macmillan<\/p>\n\n\n\n<p>Meyer, J. (2000). <em>Qualitative\nresearch in health care Using qualitative methods in health related action\nresearch. <\/em>Diperoleh dari\nhttps:\/\/www.researchgate.net\/publication\/12679212_Qualitative_research_in_health_care_using_qualitative_methods_in_health_related_Action_Research<\/p>\n\n\n\n<p>Miles, M. B., Huberman,\nA. B., &amp; Saldana, J. (2014). <em>Qualitative\ndata analysis a methods sourcebook (3<sup>rd<\/sup> ed.). <\/em>California, USA:\nSage.<\/p>\n\n\n\n<p>Nazir,\nM. (1988). <em>Metode Penelitian<\/em>. Jakarta: Ghalia Indonesia<\/p>\n\n\n\n<p>Ndlela,\nM. N. (2019).&nbsp; <em>Crisis Communication A\nStakeholder Approach<\/em>. Switzerland: Library Congress<\/p>\n\n\n\n<p><a>Tench,\nR. &amp; Yeomans, L. (2017). <em>Exploring public relations global strategic\ncommunication<\/em>. Edenburg, UK: Pearson Educated Limited.<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Walaski, P. (2011). <em>Risk\nand crisis communications : methods and messages<\/em>. London, UK: Library of\nCongress Cataloging-in-Publication Data.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ABSTRAK Industri pertambangan, khususnya batu bara selalu disorot sebagai industri yang merusak lingkungan. Implementasi good mining practice oleh sejumlah industri tambang terlihat belum mampu mengubah opini tersebut. Bahkan kontribusi industri ini terhadap negara dalam bentuk pajak dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP), masih belum bisa mendorong publik melihat tambang secara berimbang. Banyaknya program CSR dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ngg_post_thumbnail":0},"categories":[4],"tags":[],"gutentor_comment":0,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/351"}],"collection":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=351"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/351\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":359,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/351\/revisions\/359"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=351"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=351"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=351"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}