{"id":337,"date":"2020-09-18T07:07:15","date_gmt":"2020-09-18T07:07:15","guid":{"rendered":"http:\/\/zulfatunmahmudah.id\/?p=337"},"modified":"2020-09-18T08:22:14","modified_gmt":"2020-09-18T08:22:14","slug":"memahami-sejarah-definisi-dan-fungsi-pr","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/?p=337","title":{"rendered":"MEMAHAMI SEJARAH, DEFINISI, DAN FUNGSI PR"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Sejarah Singkat PR<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Istilah PR muncul kali pertama tahun 1807 dikenalkan oleh Thomas\nJefferson, dalam sebuah Kongres di Amerika. Sebelum istilah ini muncul, para\nahli mencatat bahwa tahun 49 SM, aplikasi PR telah dilakukan oleh Julius\nCaesar. Ia membuat publikasi kisah kemenangannya dalam bentuk penerbitan. Melihat\nsejarah tersebut bisa disimpulkan bahwa PR telah berkembang bersamaan dengan\nperadaban manusia. Bahkan sesungguhnya para nabi juga telah menerapkan prinsip\nPR dalam mendakwahkan ajarannya. <\/p>\n\n\n\n<p>PR sebagai sebuah departemen telah ada sejak tahun 1889. Pendirian\ntersebut dilakukan oleh Westinghouse ketika dirinya menghadapi Thomas Edison\ndalam sebuah isu yang muncul saat itu. <\/p>\n\n\n\n<p>Istilah public pelations ditemukan\nuntuk pertama kalinya dalam pengantar buku yang berjudul <em>Yearbook of Railway Literature<\/em>.\nTahun 1897\nini juga dikenal sebagai tahun kebangkitan &#8220;Corporate PR&#8221;.\nOrganisasi-organisasi berbasis bisnis mulai menggunakan atau mempraktekan PR\ndalam menjalankan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam rentang waktu antara 1900-1920, press release resmi, untuk pertama kalinya ditulis oleh seseorang yang bernama Ivy Lee. Siaran pers tersebut dibuat untuk membantu Pennsylvania Railroad, sebuah perusahaan kereta api dalam menangani sebuah kecelakaan kereta listrik yang tetjadi saat itu. Melalui sebuah <em>press release<\/em>, Ivy Lee menjelaskan ke publik apa yang sesungguhnya terjadi. Kala itu, Lee menggunakan istilah publisitas untuk mendiskripsikan PR. Lee mendapat julukan \u201cBapak PR Modern\u201d karena ia menyumbangkan banyak pemikiran, teknik, dan prinsip publisitas sebagai bagian dari komunikasi publik.<\/p>\n\n\n\n<p>Dunia PR terus berkembang hingga muncul apa yang disebut agen PR. PR\nAgency pertama kali didirikan pada tahun 1953 oleh John Hill dan Harold Burson.\nMaraknya penggunaan internet di era 1990-an mendorong munculnya public\nrelations di era internet atau yang dikenal PR 2.0.&nbsp; Di Indonesia praktik PR diakui keberadaannya\nsecara formal sejak terbentuknya Bakohumas 13 Maret 1971. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>What is Public Relations?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Memahami pengertian <em>Public Relation<\/em> (PR)\nmerupakan hal penting, sebelum kita membahas lebih lanjut tentang fungsinya. &nbsp;Hagley (1999, p. 34),\nseorang praktisi PR yang telah berkecimpung di dunia tersebut lebih dari 30\ntahun mengatakan, \u201c<em>if you can&#8217;t define what you do, you can&#8217;t measure what\nyou do. And if you can&#8217;t measure what you do, you can&#8217;t evaluate what you do\u201d. <\/em>Mengacu\npendapat tersebut, penting bagi kita untuk memahami terlebih dahulu definisi PR\nagar kita memahami apa yang akan kita lakukan dan bagaimana melakukan evaluasi\nterhadap apa yang kita kerjakan.<\/p>\n\n\n\n<p>Mengacu berbagai literatur, istilah PR bukan merupakan\nsatu-satunya istilah yang dipakai dalam kajian PR. Ada istilah lain seperti <em>Corporate\nCommunication<\/em> yang juga sering dikaitkan dengan kajian PR. Pada kesempatan\nini, kita hanya akan fokus pada istilah PR. <em>Public Relations Institute of<\/em>\nAustralia (PRSA) mendefinisikan PR sebagai upaya yang disengaja, direncana, dan berkelanjutan untuk membangun sekaligus\nmemelihara hubungan yang didasari saling pengertian antara organisasi atau\nindividu dan publik. Sementara itu, Scott M.\nCutlip, Allen H. Center, Glen M. Broom (dalam Harrison, 2011, p. 8) menjelaskan PR merupakan\nfungsi manajemen yang membangun dan memelihara hubungan yang saling\nmenguntungkan antara organisasi dan publik, yang menjadi sandaran kesuksesan\ndan kegagalannya. Selain kedua penjelasan tadi, masih banyak definisi lain yang\ntertuang dalam berbagai literatur.<\/p>\n\n\n\n<p>Meskipun definisi PR dijabarkan dalam tulisan yang\nberbeda-beda, tetapi berbagai definisi tersebut sesungguhnya memiliki muara\nyang sama. PR terkait erat dengan bagaimana seseorang atau organisasi\n(institusi dan korporasi) berkomunikasi dan membangun hubungan dengan publik. Sesuai\nnamanya, komunikasi dan hubungan dalam kontek PR lebih difokuskan kepada publik\nbukan masyarakat dalam arti luas. <\/p>\n\n\n\n<p>Dalam kontek PR, Rahmat Kriyantono (2008)\nmembedakan makna masyarakat dan publik. Publik dipahami sebagai sekumpulan\norang atau kelompok masyarakat yang memiliki perhatian dan kepentingan sama\nterhadap suatu hal. Kepentingan dan perhatian tersebut mengikat anggota publik\nsecara emosional. Publik bisa saja tidak mengenal satu sama lain dan berada\ndalam wilayah yang berbeda. <\/p>\n\n\n\n<p>Ketika kita berbicara tentang korporasi, seringkali\npembicaraan tentang PR tidak hanya dikaitkan dengan publik. Secara spesifik pembicaraan\ntentang PR akan terkait erat dengan <em>stakeholder <\/em>atau pemangku kepentingan.\nMenurut Grunig dan Repper dalam Ndlela (2019, p. 17), publik dan stakeholder didefinisikan\nsebagai sesuatu yang memiliki kesamaan. Stakeholder sendiri dimaknai sebagai orang\natau kelompok yang dipengaruhi oleh keputusan sebuah organisasi dan sebaliknya\nmereka juga bisa mempengaruhi keputusan organisasi. Di sisi lain, stakeholder\nyang memiliki perhatian tertentu terhadap keputusan organisasi bisa disebut\nsebagai publik. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Siapa yang termasuk publik atau stakeholder<\/strong>?<\/p>\n\n\n\n<p>Stakeholder ataupun publik yang menjadi target PR\nbisa bersifat internal dan external. Bagi sebuah perusahaan misalnya,\nstakeholder external bisa berupa pemerintah, LSM, tokoh masyarakat, Ormas,\nsupplier, customer, dan media. Sedangkan stakeholder internal antara lain\nkaryawan, investor, Serikat Pekerja dan Serikat Buruh. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Penentuan publik atau stakeholder sangat bergantung\npada tipe, ruang lingkup, dan tujuan organisasi. Perlu dipahami bahwa yang\ndimaksud organisasi dalam kontek ini, bisa berupa korporasi, institusi\npemerintah, lembaga pendidikan, dan lembaga-lembaga lainnya. <\/p>\n\n\n\n<p>Keberadaan stakeholder sangat penting bagi sebuah\norganisasi. Begitu pentingnya, hingga dikatakan bahwa kesuksesan organisasi\nsangat bergantung pada bagaimana organisasi tersebut mampu membangun hubungan\nbaik dengan para stakeholdernya. Ndlela (2019, p. 17) mengatakan \u201c <em>the\ncentral idea in stakeholder theory is that an organization\u2019s success is\ndependent on how well manages the rekationship with key groups&nbsp; such as customers, employees, suppliers,\ncommunities, financiers and others that can affect the realization of its\npurpose\u201d.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Fungsi Public Relation<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pada dasarnya fungsi utama PR adalah untuk menumbuhkan dan mengembangkan hubungan yang baik antara organisasi dengan\npubliknya. Agar hubungan baik itu tercipta, maka seorang staf PR harus bisa\nmelakukan fungsi berikut:<\/p>\n\n\n\n<ul><li>Mampu mengantisipasi dan menganalisa berbagai hal\nyang melatarbelakangi sikap atau persepsi publik yang muncul, sehingga\norganisasi bisa bertindak dengan tepat.<\/li><li>memberikan\nkonsultasi maupun memberikan masukan-masukan kepada level manajemen pada sebuah\norganisasi atau institusi bisnis.<\/li><li>melakukan\n<em>research<\/em>. Juga melakukan evaluasi terhadap semua kegiatan-kegiatan\nkomunikasi yang dilakukan oleh institusi atau organisasi bisnis.<\/li><li>membuat\nperencanaan sebuah program komunikasi<\/li><li>membuat goal dan objective dari setiap kegiatan PR<\/li><li>membuat perencanaan anggaran<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Untuk bisa menjalankan fungsi tersebut dengan baik, <em>International\nPublic Relation Association<\/em> (IPRA) menegaskan ada lima persyaratan mendasar\nyang harus dimiliki orang PR.<\/p>\n\n\n\n<ul><li>Kemampuan berkomunikasi. Skill komunikasi menjadi hal utama dalam melakukan hubungan dengan pihak lain. Oleh karena itu, seorang PR staf sebagai representasi organisasi dituntut bisa berkomunikasi secara efektif dan efisien dengan publik. Komunikasi yang dimaksud dalam kontek ini adalah komunikasi baik lisan maupun tertulis. Sebab, seorang PR staf juga dituntut mampu membuat publikasi dlam bentuk tulisan sebagai bagian dari komunikasi.<\/li><li>Kemampuan manajerial. <\/li><li>Kemampuan bergaul dengan orang lain<\/li><li>Memiliki integritas dan kepribadian yang baik<\/li><li>Memiliki ide dan kreatif. Untuk mewujudkan seorang yang kretaif dan memiliki ide-ide cemerlang, staf PR dituntut memiliki wawasan yang luas. Pengetahuan tentang sosiologi, psikologi, bahkan politik akan sangat membantu staf PR dalam menjalankan fungsinya. <\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Catatan:<\/p>\n\n\n\n<p><strong>&#8220;Public Relations adalah &#8216;cerita&#8217; tentang Anda atau perusahaan Anda, dan bagaimana Anda menyajikan cerita tersebut kepada public\u201d.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Seorang PR tidak akan pernah membiarkan orang lain memegang\nkendali atas cerita yang ingin disampaikannya, baik itu mengenai dirinya\nataupun organisasi yang diwakilinya.<\/strong><strong><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Untuk keperluan cetak, silakan download <a href=\"https:\/\/drive.google.com\/file\/d\/12KRqd-HE2ydcFKpHdUgPYheJ7wWBRItr\/view?usp=sharing\">disini<\/a>.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejarah Singkat PR Istilah PR muncul kali pertama tahun 1807 dikenalkan oleh Thomas Jefferson, dalam sebuah Kongres di Amerika. Sebelum istilah ini muncul, para ahli mencatat bahwa tahun 49 SM, aplikasi PR telah dilakukan oleh Julius Caesar. Ia membuat publikasi kisah kemenangannya dalam bentuk penerbitan. Melihat sejarah tersebut bisa disimpulkan bahwa PR telah berkembang bersamaan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ngg_post_thumbnail":0},"categories":[7],"tags":[],"gutentor_comment":0,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/337"}],"collection":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=337"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/337\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":339,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/337\/revisions\/339"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=337"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=337"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=337"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}