{"id":315,"date":"2020-02-02T05:09:36","date_gmt":"2020-02-02T05:09:36","guid":{"rendered":"http:\/\/zulfatunmahmudah.id\/?p=315"},"modified":"2020-02-02T05:10:53","modified_gmt":"2020-02-02T05:10:53","slug":"menyongsong-kaltim-sebagai-ikon-indonesia-masa-depan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/?p=315","title":{"rendered":"Menyongsong Kaltim Sebagai Ikon Indonesia Masa Depan"},"content":{"rendered":"\n<p>Berbicara ibukota negara yang sebentar lagi\nakan pindah ke Kalimantan Timur, sesungguhnya masih belum ada gambaran jelas\nbagaimana mekanisme pelaksanaannya. Meski gambaran itu belum jelas, namun keputusan\nakan berpindahnya ibukota membuka peluang bagi Kalimantan Timur untuk lebih mewarnai\nIndonesia di masa depan. Diakui atau tidak, &nbsp;perjalanan bangsa Indonesia selama ini banyak\ndiwarnai oleh pulau Jawa. Bisa dikatakan Jawa adalah Indonesia masa kini. Hal\ntersebut wajar adanya karena disanalah pusat pemerintahan dan bisnis terjadi.<\/p>\n\n\n\n<p>Ibarat medan magnet, suatu daerah yang\ndidalamnya ada ibukota akan menjadi magnet tersendiri yang bisa menyedot\nberbagai hal. Pembangunan infrastruktur, aktivitas perekonomian, hingga\nmunculnya banyak pendatang bisa dipastikan akan tumbuh begitu cepat di daerah\nyang menjadi ibukota. Kalimantan Timur yang sudah resmi terpilih menjadi\nibukota baru Indonesia akan menuju ke kondisi tersebut. Tidak berlebihan jika\ndikatakan Kaltim akan menjadi ikon Indonesia masa depan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>SDM Unggul<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Menjadi ikon Indonesia masa depan tidak\nbisa dilepaskan dari perbincangan tentang kesiapan sumber daya manusia (SDM).\nKita tidak bisa hanya bangga akan menjadi pusat aktivitas negeri ini, khususnya\nterkait pemerintahan. Sebab, dibalik peluang itu ada banyak tantangan yang\nharus ditaklukkan, salah satunya adalah kesiapan SDM. <\/p>\n\n\n\n<p>Ketika Kaltim menjadi ibukota negara, SDM\ndi propinsi ini tidak hanya akan bersaing dengan sesama masyarakat yang ada di\npropinsi yang kaya akan sumber daya alam ini. Sebab, Kaltim akan menjadi daerah\ntujuan bagi siapa saja yang akan berurusan dengan pemerintah pusat, baik dari\ndalam negeri maupun mancanegara. Hal yang pasti adalah berpindahnya jutaan ASN\nyang semula berada di Jakarta, ke lokasi ibukota negara yang baru. Aktivitas\nbisnis bisa dipastikan juga akan meningkat. <\/p>\n\n\n\n<p>Untuk menghadapi situasi tersebut\ndiperlukan SDM unggul yang bisa berkompetisi dengan para pendatang untuk\nmenangkap setiap peluang yang ada. Penguasaan skill dan ilmu pengetahuan\nmenjadi syarat mutlak terciptanya SDM unggul. Empat tahun bukan waktu yang\npanjang untuk menyiapkan diri. Masyarakat di propinsi ini harus bisa\nmemaksimalkan berbagai sarana belajar untuk meningkatkan kompetensi diri. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Berkaca dari Era Industri 4.0<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sebelum jauh berbicara kesiapan SDM\nmenghadapi perpindahan ibukota negara, kita perlu menengok beberapa hal yang\nterjadi di era industri 4.0. Era ini memberikan kesempatan kepada siapa saja\nyang ingin mengasah skill dan ilmu pengetahuan dengan pembelajaran lewat\ninternet. Pertanyaannya berapa banyak masyarakat yang memanfaatkan kecanggihan\nteknologi tersebut untuk keperluan belajar? <\/p>\n\n\n\n<p>Dalam sebuah tulisan yang dilansir oleh\nKementerian Kominfo, jumlah pengguna internet di Indonesia hingga Juli 2019 mencapai\n171 juta orang. Dari jumlah tersebut, 64,8 % pengguna untuk akses hiburan,\n17,1% untuk akses game, dan 14% untuk akses situs busana dan buku. Data\ntersebut menunjukkan bahwa internet belum dioptimalkan sebagai sarana belajar. Padahal,\nmencetak SDM unggul sejatinya tidak bisa hanya mengandalkan kampus dan sekolah\nsebagai tempat belajar. Ilmu pengetahuan yang tersaji di berbagai website bisa\nmenjadi sumber belajar yang sangat memadai.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak hanya memberikan kesempatan belajar.\nInternet juga memberikan kesempatan seseorang untuk menggeluti E-commerce,\nberdagang secara online. Lagi-lagi berapa banyak orang yang memanfaakan\nkesempatan tersebut. Kita lebih senang menjadi penikmat dan objek jualan pihak\nlain. Berdasar data Global Web Index 2018, sebanyak 86 persen pengguna internet\ndi Indonesia memanfaatkan internet untuk belanja online. Budaya konsumtif dan\nkonsumeris berkembang pesat di kalangan pengguna internet.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak sekedar penikmat dagangan online. Sebagian\nbesar pengguna internet Indonesia lebih senang menikmati sajian video para\nyoutuber dibanding menjadikan dirinya sebagai seorang kreator. Padahal\nkesempatan untuk membuat karya di kanal youtube juga terbuka bagi semua\npengguna internet. Alhasil kesempatan untuk mendapatkan finansial melalui karya\nyang diposting di jaringan internet hanyak dimiliki oleh segelintir orang.<\/p>\n\n\n\n<p>Informasi di atas bisa menjadi pelajaran penting\nketika masyarakat Kaltim menghadapi era perpindahan ibukota. Ketidaksiapan\nmenghadapi era ini, telah menempatkan mereka menjadi objek kemajuan tekonologi.\n<\/p>\n\n\n\n<p>Jika hal tersebut tidak menjadi pelajaran,\ntidak menutup kemungkinan ketika Kaltim menjadi ibukota nanti kita hanya akan\nmenjadi penonton dari setiap kemajuan dan peluang yang ada. Masyarakat lokal akan\nterpinggirkan oleh kemajuan peradaban yang dibawa pendatang. Lantas apa yang\nharus disiapkan?<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Generasi Muda di Ibukota Negara<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Mengingat perpindahan ibukota negara masih\nbeberapa tahun ke depan, maka pihak yang paling harus dipersiapkan adalah para\ngenerasi muda. Sebab, merekalah generasi yang paling terdampak pada saatnya\nnanti. Untuk menyiapkan mereka, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. <\/p>\n\n\n\n<p>Pertama, merubah paradigma berpikir. Generasi\nmuda diharapkan lebih terbuka terhadap semua peluang profesi dan pekerjaan.\nTidak bisa dipungkiri, hingga saat ini banyak generasi muda yang mengejar\nsekolah tinggi demi menjadi pegawai negeri. Padahal kesempatan di sektor lain\njustru lebih terbuka, seperti menjadi seorang enterpreuner ataupun aktif di\nindustri kreatif. <\/p>\n\n\n\n<p>Kedua bidang tersebut terbukti telah\nmengantarkan kesuksesan bagi sejumlah orang. Sebut saja Susi Pudjiastuti,\npemilik Susi Air, Anne Avantie, desainer kondang dan I Gusti Ngurah Anom,\nmilyarder pemilik jaringan outlet Krisna di Bali. Meski pendidikan mereka hanya\ntamat SMP, tapi ketekunannya di dunia enterprenuer dan industri kreatif\nmengantarkan mereka menjadi orang sukses.<\/p>\n\n\n\n<p>Peluang menjadi enterprenuer muda akan\nterbuka ketika Kaltim menjadi ibukota negara. Kebutuhan akan oleh-oleh khas\nKaltim misalnya, dimungkinkan akan meningkat. Berkaca dari kesuksesan Krisna di\nBali, generasi muda Kaltim bisa mencoba menyiapkan diri mengambil peluang\ntersebut. Tour guide, profesi yang sebelumnya kurang popular di Kaltim, pada\nsaatnya nanti bisa menjadi sebuah kebutuhan. Generasi muda yang senang\npetualang bisa menyiapkan diri untuk menggeluti profesi tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Kedua, lembaga pemerintah dan swasta\ntermasuk ormas dan OKP harus mendukung dan membantu terciptanya perubahan\nparadigma tersebut. Caranya fokus dengan membuat program kerja dan kegiatan\nyang mengarah pada pembelajaran skill dan peningkatan ilmu pengetahuan. Hindari\nmembuat kegiatan yang hanya bersifat seremoni apalagi sebatas pencitraan.\nDengan cara ini, dana organisasi akan terserap ke hal-hal yang lebih positif\ndan bermanfaat bagi pengembangan generasi muda.<\/p>\n\n\n\n<p>Cara kedua ini juga bisa dilakukan oleh\ndunia kampus yang ada di semua wilayah Kaltim. Kurikulum yang hanya bersifat\nteori saatnya dipadukan dengan praktek di lapangan. Selain itu, dunia kampus\nbisa menfasilitasi berbagai kegiatan yang lebih mengarah pada penyiapan\nketerampilan. Suka atau tidak suka, kampus-kampus di wilayah Kaltim harus\nbekerja keras menyiapkan kemungkinan banyaknya ilmuwan dan praktisi yang akan\nmembanjiri ibukota baru nanti. Kampus sebagai pusat pembelajaran harus bisa\nmenyiapkan lulusannya untuk bersaing secara global. <\/p>\n\n\n\n<p>Ketiga, ciptakan link. Relasi dan kemampuan\nkomunikasi menjadi faktor penting dalam mendukung kesuksesan seseorang. Di era\nkomunikasi seperti sekarang, kedua hal tersebut menjadi komponen penting yang\nakan mempermudah langkah dalam menaiki tangga kesuksesan. Generasi muda Kaltim\nharus berani menciptakan \u201cpersonal branding\u201d yang bisa membuat pihak lain\ntertarik dengan kapasitas yang dimiliki. Hal ini sangat mudah dilakukan, karena\nsebagian besar generasi muda adalah pengguna internet aktif.<\/p>\n\n\n\n<p>Keempat, pemerintah sebaiknya merancang\nkebijakan penyerapan masyarakat lokal dalam pengembangan ibukota baru nanti. Kebijakan\ntersebut diterapkan dalam berbagai sektor yang nantinya akan dikembangkan di\narea ibukota baru. Dengan demikian masyarakat lokal yang memiliki keterampilan\ndan pengetahuan bisa terserap dalam berbagai lapangan kerja yang ada. Hal ini\nakan mengurangi munculnya persoalan sosial yang bisa muncul sewaktu-waktu.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan\nmasyarakat Kaltim, khususnya generasi mudanya bisa mengambil peran optimal saat\nperpindahan ibukota negara nanti. Langkah tersebut sekaligus untuk mengantisipasi\nterpinggirkannya masyarakat lokal, seperti yang terjadi di ibukota negara saat\nini. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berbicara ibukota negara yang sebentar lagi akan pindah ke Kalimantan Timur, sesungguhnya masih belum ada gambaran jelas bagaimana mekanisme pelaksanaannya. Meski gambaran itu belum jelas, namun keputusan akan berpindahnya ibukota membuka peluang bagi Kalimantan Timur untuk lebih mewarnai Indonesia di masa depan. Diakui atau tidak, &nbsp;perjalanan bangsa Indonesia selama ini banyak diwarnai oleh pulau Jawa. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ngg_post_thumbnail":0},"categories":[3],"tags":[],"gutentor_comment":0,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/315"}],"collection":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=315"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/315\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":316,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/315\/revisions\/316"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=315"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=315"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=315"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}