{"id":254,"date":"2019-06-18T04:12:13","date_gmt":"2019-06-18T04:12:13","guid":{"rendered":"http:\/\/zulfatunmahmudah.id\/?p=254"},"modified":"2019-06-18T04:15:51","modified_gmt":"2019-06-18T04:15:51","slug":"pemulihan-reputasi-pasca-krisis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/?p=254","title":{"rendered":"PEMULIHAN REPUTASI PASCA KRISIS"},"content":{"rendered":"\n<p>Reputasi menurut <em>The Penguin English Dictionary<\/em> dalam\nGriffin (2014, p. 2) adalah keseluruhan kualitas ataupun karakter yang dilihat,\ndinilai dan diakui oleh pihak lain. Sedangkan krisis menurut <em>Publicly Available Specification<\/em> (PAS\n200) adalah suatu kondisi yang tidak normal, tidak stabil, dan bersifat\nkompleks yang mengancam reputasi dan keberadaan sebuah organisasi (Griffin, 2014,\np. 32). <\/p>\n\n\n\n<p>Oleh\nkarena itu pembicaraan tentang krisis tidak bisa dilepaskan dari persoalan\nreputasi. Sebab, jika tidak ditangani dengan baik, krisis akan berdampak pada\nrusaknya reputasi, baik reputasi institusi maupun individu. Krisis yang menimpa\nFirst Travel, sebuah biro penyelenggara haji dan umroh, menjadi contoh nyata\nkehancuran reputasi akibat krisis. Tidak hanya kehancuran reputasi, seperti\ndilansir oleh Kompas.com (<a href=\"https:\/\/nasional.kompas.com\/read\/2018\/05\/31\/07290021\/lima-fakta-dalam-sidang-vonis-bos-first-travel\">https:\/\/nasional.kompas.com\/read\/2018\/05\/31\/07290021\/lima-fakta-dalam-sidang-vonis-bos-first-travel<\/a>), Direktur Utama First Travel pun dijatuhi\nhukuman penjara 20 tahun dan denda sebesar Rp 10 miliar. <\/p>\n\n\n\n<p>Kehancuran\nreputasi pasca krisis juga dialami oleh Mario Teguh. Sang motivator yang\ndilaporkan ke polisi atas tuduhan \u201ctidak mengakui\u201d anak kandungnya memutuskan\nmundur dari profesi yang telah melambungkan namanya. Kasus tersebut menimbulkan\nhilangnya kepercayaan masyarakat dan batalnya sejumlah kontrak mengisi acara yang\ntelah disepakati dengan berbagai pihak. Akibatnya, Mario Teguh mengalami\nkerugian hingga milayaran rupiah, seperti disampaikan kuasa hukumnya, Vidi\nSyarief kepada Beritasatu.com<a> (<\/a><a href=\"https:\/\/www.beritasatu.com\/hiburan\/388100\/dampak-pengakuan-ario-terhadap-kehidupan-mario-teguh-3\">https:\/\/www.beritasatu.com\/hiburan\/388100\/dampak-pengakuan-ario-terhadap-kehidupan-mario-teguh-3<\/a>).<\/p>\n\n\n\n<p>Meski banyak organisasi ataupun\nindividu yang tumbang karena krisis, tidak berarti organisasi pasti hancur\nketika krisis menerpa. Penanganan krisis yang baik berpotensi mengembalikan\nkepercayaan publik baik kepada perusahaan, para pemimpinnya, nilai-nilai yang\ndianutnya, maupun pada produk yang dihasilkannya. Contoh penanganan krisis yang\ntepat telah ditunjukkan oleh Johnson &amp; Johnson. Perusahaan manufaktur yang\nbergerak dalam pembuatan dan pemasaran obat-obatan dan alat kesehatan itu\nterkena badai krisis di tahun 1982. <\/p>\n\n\n\n<p>The Daily Herald, sebuah koran\nternama di Chicago, pada 7 Oktober 1982 &nbsp;merilis berita dengan judul yang sangat\nmenohok <em>\u201c5 dead after taking tylenol\ncapsules filled with cyanide\u201d.<\/em> Tylenol adalah obat rasa nyeri yang\ndiproduksi oleh McNeil Consumer Product Company yang kemudian menjadi bagian\nanak perusahaan Johnson &amp; Johnson. Pemberitaan tersebut muncul terkait\ninsiden meninggalnya lima orang &nbsp;yang diindikasikan\nakibat konsumsi tylenol yang mengandung sianida. Tragedi lebih parah bahkan\ndilaporkan bahwa sebanyak 250 kematian dan penyakit di berbagai bagian Amerika\nSerikat dikaitkan dengan kapsul tersebut. <\/p>\n\n\n\n<p>Hasil pengujian Johnson &amp;\nJohnson menunjukkan bahwa tylenol yang terkontaminasi hanya di wilayah Chicago\ndengan jumlah tidak lebih dari 75 butir kapsul. Meski hanya sebagian kecil\nTylenol yang terkontaminasi sianida, namun pihak Johnson &amp; Johnson tetap menarik\nseluruh produknya secara nasional sebagai upaya merespon kondisi yang lebih\nburuk dan antisipasi ketakutan konsumen. Perusahaan mengambil risiko kerugian yang\ncukup besar dibanding membiarkan lebih banyak jatuh korban. &nbsp;Langkah lain yang diambil perusahaan adalah\nmembuat kemasan tylenol yang lebih aman meski harus menambah biaya. Johnson\n&amp; Johnson juga menunjukkan rasa tanggungjawabnya dengan menanggung biaya\npengobatan para korban keracunan. <\/p>\n\n\n\n<p>Krisis yang dialami oleh Johnson\n&amp; Johnson dipicu oleh faktor eksternal. &nbsp;Pemicu eksternal bisa terkait dengan persoalan\npolitik, sosial, atau bisa karena faktor cuaca.&nbsp;\nDalam kasus Tylenol, Johnson &amp; Johnson mampu membuktikan bahwa\npersoalan yang ada terjadi akibat sabotase pihak tertentu, bukan akibat\nkelalaian produksi ataupun <em>human error<\/em>.\nJohnson &amp; Johnson bisa dikatakan menjadi korban dalam kasus yang\ndihadapinya. Meski demikian, Johnson &amp; Johnson tetap fokus pada keselamatan\nkonsumen. Dengan langkah tersebut, Johnson &amp; Johnson mampu menunjukkan\nintegritas dirinya kepada stakeholder sehingga reputasinya tetap terjaga meski\ndihantam krisis.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain dipicu faktor eksternal,\nkrisis juga bisa dipicu oleh faktor internal, seperti kegagalan kerja dan\nkelalaian manusia. Krisis yang berasal dari faktor internal memiliki dampak\nlebih besar terhadap reputasi dan kecenderungannya adalah negatif. Mengatasi\nkrisis yang muncul akibat kelalaian sendiri lebih sulit dibanding krisis yang\nterjadi karena faktor eksternal. Hal ini juga berdampak pada sulitnya pemulihkan\nreputasi pasca krisis. Oleh karena itu, manajemen krisis akibat faktor internal\nlebih merupakan upaya meminimalkan dampak negatif dari krisis itu sendiri\ndibanding upaya meraih sesuatu yang positif. <\/p>\n\n\n\n<p>Pemulihan reputasi pasca krisis merupakan\nfase penting dalam siklus hidup risiko reputasi. Pada fase ini akan terlihat\nkebangkitan sebuah organisasi, bisa jadi akan lebih kuat dari kondisi\nsebelumnya atau sekedar berjuang memulihkan reputasinya. Krisis akan selalu\nmenyita waktu dan energi. Meski demikian, operasional organisasi atau\nperusahaan harus terus berjalan. Kayawan di level operasional harus tetap\nbekerja agar perusahaan tetap beroperasi meski dalam kondisi krisis. Disisi\nlain, para pemimpin perusahaan harus bisa memanfaatkan krisis yang muncul\nsebagai ajang pembelajaran bagaimana cara menangani krisis dengan tepat. <\/p>\n\n\n\n<p>Lantas kapan pembelajaran tersebut\ndimulai? Kesempatan untuk mengidentifikasi pelajaran apa yang bisa dipetik oleh\nsebuah organisasi dalam menangani krisis yang menerpa tidaklah panjang. Oleh\nkarena itu, pemimpin yang bertanggungjawab menangani krisis harus segera\nmemulai proses identifikasi pembelajaran apa yang diperoleh setelah krisis\ntertangani. <\/p>\n\n\n\n<p>Langkah pertama yang harus\ndilakukan adalah melakukan penilaian terhadap prinsip-prinsip yang dianut oleh\nprusahaan meliputi kebijakan, kepemimpinan, struktur, prosedur, karyawan,\nbudaya dan pola hubungan yang tercipta. Terkait kebijakan diperlukan evaluasi\napakah kebijakan yang ada memudahkan di dalam situasi krisis. Selain itu,\nbagaimana seorang pemimpin mengambil keputusan dan tindakan di saat krisis. Dari\nsisi struktur kita perlu melihat bagaimana kondisi struktur saat berada dalam\ntekanan, apakah komunikasi antar tim bekerja dengan baik? Selain itu, penting\nuntuk memastikan apakah prosedur yang berlaku membantu dalam penanganan krisis\ndan orang-orang yang terlibat dalam penanganan krisis bekerja sesuai manual\nyang ada atau justru menciptakan pola kerja sendiri? Hal yang tidak kalah\npenting adalah melihat kerja karyawan saat krisis terjadi, apakah mereka mampu\nbekerja dalam tekanan? Selanjutnya penilaian terhadap budaya perusahaan dan\nhubungan perusahaan dengan para pemangku kepentingan juga mutlak harus\ndilakukan, apakah kedua hal tersebut membantu dalam merespon krisis yang\nterjadi. <\/p>\n\n\n\n<p>Langkah kedua adalah penilaian\nsetelah krisis terjadi. Penilaian dilakukan pada berbagai aspek spesifik dari\npenanganan krisis, seperti penilaian terhadap tim manajemen krisis. Penilaian\nbisa mencakup hal-hal sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<ul><li>Seberapa cepat tim dibentuk dan seperti apa\nefektifitasnya? Siapa yang memimpin tim dan apa hambatan yang muncul?<\/li><li>Apakah komposisi tim terdiri dari orang-orang yang\ntepat?<\/li><li>Bagaimana tujuan, strategi, dan pengambilan keputusan\ndalam tim tersebut?<\/li><li>Bagaimana pola kerjasama dan koordinasi dalam tim?<\/li><li>Apakah tim didukung oleh sumber daya yang memadai?<\/li><li>Apakah semua informasi yang masuk dan keluar dikelola\ndengan baik?<\/li><li>Apakah fasilitas yang tersedia mendukung kerja\norganisasi dan pengambilan keputusan?<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Proses tersebut di atas dapat\ndiulang sebanyak yang diperlukan pada tiap-tiap bagian dalam sebuah organisasi\nuntuk menilai kinerja mereka. Langkah terakhir yang harus dilakukan adalah\nmelakukan tinjauan hasil eksternal, yang mencakup hal-hal sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<ul><li>Apakah pemberitaan media bersifat positif? Apakah\nmobilisasi pihak ketiga berjalan sukses? <\/li><li>Bagaimana kecenderungan opini masyarakat yang\ntercermin melalui percakpan para pengguna media sosial?<\/li><li>Bagaimana survey pemangku kepentingan dijalankan dan\nbagaimana opini mereka terkait krisis yang dialami perusahaan?<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Dalam melakukan penilaian tersebut,\npendekatan yang digunakan harus fokus pada apa yang bisa dipelajari dari krisis\nyang terjadi bukan pada hal-hal yang melatar belakangi terjadinya krisis.\nSelain itu, proses ini juga harus dilakukan secepat mungkin begitu krisis\nselesai ditangani. Hal yang tidak kalah penting adalah penilaian harus\ndilakukan dengan semua pihak melalui penilaian dokumen, wawancara terstruktur,\ndan pengecekan informasi antar informan. <\/p>\n\n\n\n<p>Penilaian kinerja\ndan peningkatan kesiapan menghadapi krisis bisa dilakukan dengan berkaca pada\nkorporasi yang sukses melakukan hal tersebut, salah satunya adalah melalui\nstudi kasus <em>Heathrow Aiport<\/em>. Bandara\nyang terletak di London, Inggris ini merupakan salah satu bandara paling sibuk\ndi Eropa. Krisis terjadi pada Desember 2010 dipicu oleh kegagalan pihak bandara\nmenangani terhentinya operasional bandara akibat badai salju. Media massa\nbahkan menuduh bandara Heathrow telah menggagalkan Natal, karena umumnya\npenumpang yang dirugikan adalah orang-orang yang akan merayakan libur Natal. <\/p>\n\n\n\n<p>Heathrow melakukan\nreview internal dan eksternal terhadap kegiatan dan peristiwa yang terjadi\ndengan melibatkan beberapa stakeholders seperti maskapai penerbangan, <em>National Air Traffic Control Services<\/em>\n(NATS) dan Departemen Transport setempat. Review tersebut merekomendasikan\npihak bandara harus meningkatkan kemampuan menangani krisis. Sebuah strategi\nkunci diluncurkan Heathrow tidak lama setelah krisis terjadi. Heathrow membentuk\nsebuah tim yang dikenal the Heathrow <em>Airport Demand and Capacity Balancing Group<\/em> (HADACAB). <\/p>\n\n\n\n<p>Program dan tim baru tersebut bertugas menangani krisis secara lebih pro aktif, sekaligus membangun media center untuk memberikan pemahaman mengenai peristiwa badai salju. Program baru tersebut terus dilatih dan diperbaharui. Langkah ini mampu menyelamatkan Heathrow dari terjangan krisis. Bahkan sejumlah pihak menempatkan bandara Heathrow sebagai salah satu bandara dengan penanganan krisis yang baik. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Membangun Kembali Kepercayaan dan\nReputasi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Membangun kembali kepercayaan dan reputasi pasca krisis adalah langkah awal yang harus dilakukan oleh tim krisis manajemen. Sebab, krisis akan berimbas pada banyak hal, khususnya sikap dan penilaian para stakeholders terhadap organisasi. Hal ini jelas akan menimbulkan kerugian finansial. Tidak hanya stakeholders eksternal, para karyawan sendiri bisa jadi kehilangan kepercayaan terhadap perusahaan. Organisasi harus bisa meyakinkan bahwa kinerja organisasi masih bisa berjalan sesuai harapan. Ini adalah bagian penting dari pemulihan reputasi. Satu hal yang harus dipahami, reputasi bukan sebuah janji, kita dituntut bisa membuktikan bukan sekedar menceritakan tentang sebuah hal. Kita dituntut mampu menunjukkan langkah dan komitmen apa yang akan kita ambil pasca krisis. <\/p>\n\n\n\n<p>Dalam membangun kembali kepercayaan dan reputasi, bagian komunikasi memegang peranan penting. Mereka menjadi penyampai pesan kinerja baik yang sedang dilakukan organisasi baik kepada <em>stakeholders<\/em> eksternal maupun internal. Mereka juga dituntut mampu menyampaikan informasi yang tepat kepada pihak yang tepat. <\/p>\n\n\n\n<p>Kita bisa mengambil contoh langkah yang dilakukan Shell dalam membangun kembali kepercayaan dan reputasi. Tgl 9 Januari 2004 Shell mengumumkan pengurangan produksi hingga 20 persen. Pasar dan media menanggapi hal tersebut sebagai sesuatu yang bersifat negatif. Issue internal tersebut juga menimbulkan kekecewaan sekaligus menurunkan kebanggaan karyawan terhadap perusahaan tempat mereka bekerja.&nbsp; Krisis pun tidak bisa dihindarkan. <\/p>\n\n\n\n<p>Setelah dilakukan audit, ditemukan adanya kesalahan yang dilakukan oleh para pimpinan perusahaan. Shell mengambil langkah para pimpinan yang terlibat skandal diminta mengundurkan diri. Tidak hanya merubah struktur manajemen korporasi. Chief Executive yang baru juga menerapkan budaya perusahaan yang lebih sesuai dengan kondisi internal perusahaan. Program yang dikenal dengan \u201c<em>enterprise first<\/em>\u201d itu mendapat dukungan karyawan dan berhasil mengembalikan kepercayaan karyawan terhadap perusahaan. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Memulihkan Reputasi dengan Merubah\nOrganisasi <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Krisis memberikan kesempatan kepada pimpinan perusahaan untuk meningkatkan tujuan, strategi bahkan nilai perusahaan. Masa \u201cpenyembuhan\u201d dapat digunakan untuk menyusun kembali rencana jangka panjang perusahaan. Disinilah fungsi komunikasi memegang peranan penting, karena menempatkan krisis sebagai kesempatan bagi perusahaan untuk berubah dan meningkatkan diri bukan hal yang mudah. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Melihat krisis sebagai sebuah peluang tentu saja sangat susah, apalagi ketika badai tersebut sedang menerjang. Namun demikian, tidak satupun pemimpin organisasi yang menginginkan organisasinya hancur karena krisis. Para pemimpin yang memiliki visi jauh ke depan akan terus berupaya untuk melepaskan organisasinya dari kehancuran pasca kisis. Tentu saja, esensi dari upaya pemulihan pasca krisis sesungguhnya bukan untuk menormalkan kembali organisasi seperti bentuk semula. Pemulihan bisa jadi diarahkan untuk perubahan atau bahkan kemajuan ke bentuk yang baru. Pemulihan bisa juga sebuah upaya regenerasi organisasi menuju langkah jangka panjang yang lebih baik. <\/p>\n\n\n\n<p>Merubah\norganisasi untuk mengembalikan reputasi pasca krisis pernah dilakukan oleh\nBarclays, bank multinasional Inggris. Pada Juni 2012, Barclays diterpa krisis\nakibat adanya krisis ekonomi global dan skandal yang terjadi dalam perbankan.\nAkibat krisis tersebut CEO Barclays, Bob Dymond mengundurkan diri. Untuk\nmenyelamatkan Barclys, CEO baru, Antony Jenkins meluncurkan program dikenal\ndengan <em>\u201cTransform\u201d<\/em> yang merupakan\nsingkatan dari <em>\u2018Turnaround, Return\nAcceptable Numbers and maintain Forward Momentum\u2019<\/em>. Program tersebut memiliki sejumlah alur\nkerja, yang mencakup antara lain struktur, nilai, kontrol, kepatuhan, dan\nreputasi yang kesemuanya terkait dengan budaya kerja. <\/p>\n\n\n\n<p>Langkah yang diambil pihak Barclays merubaah struktur organisasi dan budaya kerja meruapakan salah satu cara memulihkan reputasi. Melalui program tersebut Barclays berhasil mengembalikan reputasi dan kepercayaan publik.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Melindungi Reputasi Saat Krisis<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Menurut\nCoombs, reputasi\nadalah aset berharga dan tidak\nberwujud yang menarik pelanggan, menghasilkan bunga investasi, meningkatkan\nkinerja keuangan, menarik karyawan terbaik dan menciptakan\nkeunggulan kompetitif. Membangun reputasi membutuhkan waktu yang\nsangat lama. Di sisi lain, ketika&nbsp; krisis\nterjadi, reputasi akan sangat mudah terkikis. Dalam kondisi krisis, para <em>stakeholder <\/em>akan melihat bagaimana\nrespon organisasi terhadap krisis yang ada dan seperti apa tanggungjawabnya.\nOleh karena itu, selain menyelesaikan krisis, organisasi juga harus bisa memastikan\nagar reputasi sebagai asset yang paling berharga tetap bisa terlindungi. Salah\nsatu caranya adalah dengan strategi komunikasi yang tepat. <\/p>\n\n\n\n<p>Berbagai teori\nmanajemen krisis dan riset PR fokus pada persoalan bagaimana komunikasi bisa\ndigunakan sebagai alat melindungi reputasi di saat krisis terjadi. Salah\nsatunya adalah \u201c<em>apologia theory<\/em>\u201d. Teori\nini membahas tentang bagaimana individu dan organisasi mempertahankan diri atas\ntuduhan melakukan kesalahan. Ketika pesan muncul menyerang perilaku organisasi,\nmengkritik tindakan mereka, dan mengungkapkan beberapa tuduhan, maka pesan\ntersebut&nbsp; tidak bisa dibiarkan tanpa\nkontrol karena bisa berdampak negatif dan mempengaruhi persepsi <em>stakeholder<\/em>. Oleh karena itu, individu\nataupun organisasi harus segera mengambil tindakan untuk menanggapi tuduhan\ntersebut. <\/p>\n\n\n\n<p>Teori ini\nmemberikan pengetahuan bagaimana individu dan organisasi dapat mempertahankan\nreputasi mereka. Teori ini merujuk pada bentuk dan pesan-pesan tertentu yang\nterjadi setelah krisis ataupun tuduhan kesalahan baik yang dilakukan oleh\nindividu, kelompok, maupun organisasi. Menurut Seeger dan Sellnow dalam Ndlela\n(2019, p. 100) <em>apology<\/em> dipahami\nsebagai ungkapan penyesalan atas terjadinya sesuatu (<em>regret<\/em>) dan penyesalan atas kesalahan yang telah dilakukan (<em>remorse<\/em>) sekaligus permintaan\npengampunan. Melalui komunikasi apologi seseorang atupun organisasi akan\nmenjelaskan apa yang sebenarnya terjadi sekaligus memperbaiki citra ataupun\nreputasi yang rusak. <\/p>\n\n\n\n<p>Ware dan Linkugel\ndalam Ndlela (2019, p. 101) membagi teori ini dalam empat kategori, yaitu d<em>enial,\nbolstering, differentiation, dan&nbsp;\ntranscendence. <\/em>Denial\ndimaksudkan sebagai strategi menolak dan menyangkal segala tuduhan, dan\nmenganggap tuduhan tersebut tidak ada dasar pijakannya. Melalui strategi <em>bolstering,<\/em>\norganisasi berusaha mengingatkan kembali hal-hal positif yang telah mereka\nlakukan sebelumnya untuk mengurangi persepsi negatif terhadap organisasi. <em>Differentiation\n<\/em>adalah strategi yang diatur untuk memecah memecah sebuah kontek dalam dua\narti yang berbeda. Sedangkan <em>transcendence<\/em> merupakan strategi dengan\nmengaburkan fokus dari efek kecil ke arah hal positif yang lebih besar.<\/p>\n\n\n\n<p>Teori apologi menjadi\ndasar pengembangan teori komunikasi krisis yang lain seperti &nbsp;<em>\u201cimage repair theory<\/em> (IRT) yang dikemukakan oleh William Benoit dan <em>situational crisis communication theory<\/em> (SCCT) yang digagas\noleh W. Thimothy Coombs. Kedua teori ini memiliki kesamaan prinsip, bagaimana\norganisasi menaruh perhatian pada stakeholder sekaligus melindungi reputasi\nsaat krisis terjadi. <\/p>\n\n\n\n<p>Melalui IRT, Benoit mengembangkan strategi\nyang bisa digunakan organisasi untuk mengurangi, memperbaiki, atau bahkan\nmenghindari kerusakan reputasi akibat krisis. Ada beberapa strategi yang dipakai dalam teori ini,\nyaitu <em>denial, evasion of responsibility,\nreducing the offensiveness, corrective action, <\/em>dan <em>mortification. <\/em><em><\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Sebagaimana dalam\nteori <em>apology<\/em>, dalam IRT<em> denial <\/em>juga dimaksudkan sebagai\nstrategi penyangkalan terhadap tuduhan yang ditujukan ke perusahaan, baik\ndengan cara menolak bertanggungjawab maupun dengan mereposisi bahwa kesalahan\ndilakukan pihak lain. Pada <em>evasion of\nresponsibility<\/em> ada beberapa strategi yang bisa dijalankan, seperti\nmelakukan pembelaan bahwa tindakan yang diambil akibat pancingan pihak lain,\nperusahaan tidak memiliki informasi yang cukup terkait kasus yang terjadi,\nkasus yang muncul akibat sebuah kecelakaan, atau memberikan i\u2019tikad baik untuk\nmemperbaiki. Strategi <em>reducing the\noffensiveness<\/em> dilakukan dengan menjelaskan beberapa hal, seperti perusahaan\nsudah berbuat yang terbaik, krisis tersebut hanya sandungan kecil, ada masalah\nlain yang lebih besar dibanding kasus ini, menuduh pihak lain yang meniup\npeluit sebagai pihak yang bertanggungjawab, atau pihak perusahaan melakukan\nganti rugi terhadap korban dari kasus yang muncul. Cara lainnya adalah <em>corrective action<\/em> dan <em>mortification<\/em> dimana perusahaan langsung\nbertindak menyelesaikan masalah dan meminta maaf atas peristiwa yang sudah\nterjadi. <\/p>\n\n\n\n<p>Dari strategi\ntersebut, Benoit ingin menggambarkan apa yang harusnya dikatakan oleh\norganisasi saat krisis dan bagaimana cara mengatakannya ketika harus membela\ndiri terhadap tuduhan melakukan kesalahan. <\/p>\n\n\n\n<p>Selain IRT, seperti\ndisebutkan sebelumnya, teori lain yang diorientasikan untuk perbaikan reputasi\nadalah <em>situational crisis ommunicationtheory<\/em> (SCCT) yang digagas\noleh W. Timothy Coombs. Teori ini mengidentifikasi bagaimana hubungan krisis\ndan reputasi dapat dipengaruhi oleh respon dari pemangku kepentingan, dapat\ndipahami pula bagaimana publik akan merespon upaya penanggulangan. &nbsp;Premis yang dibangun dalam teori ini adalah\nkrisis merupakan kejadian negatif yang tak terduga, sehingga <em>stakeholder <\/em>akan mebuat atribusi terkait\ntanggungjawab krisis. Atribusi tersebut akan mempengaruhi <em>stakeholder <\/em>dalam berinteraksi dengan organisasi dalam situasi\nkrisis. SCCT Coombs didasarkan pada asumsi bahwa cara terbaik untuk melindungi\nreputasi organisasi dalam krisis adalah dengan memilih strategi respons krisis\nyang paling sesuai dengan ancaman reputasi yang disebabkan oleh krisis.<\/p>\n\n\n\n<p>Coombs\nmembagi strategi respon krisis pada empat bentuk, yaitu d<em>enial, diminishing, rebuilding<\/em>, dan&nbsp;\nb<em>olstering.<\/em> Bentuk-bentuk\ntersebut diambil berdasar perspektif stakeholder yang tercermin dalam kata dan\ntindakan yang dirancang untuk memberi manfaat bagi para stakeholder. Strategi <em>denial <\/em>misalnya, dilakukan untuk\nmenghadapi <em>stakeholder<\/em> yang mengklaim\ntelah terjadi krisis. Sedangkan strategi <em>diminishing<\/em>\ndigunakan untuk\nmeminimalkan tanggung jawab organisasi terhadap krisis,\ndengan tujuan meminimalkan potensi kerusakan reputasi di mata\npara pemangku kepentingan. Melalui strategi <em>rebuilding <\/em>organisasi mencoba untuk membangun\nkembali reputasi. Sedangkan strategi <em>bolstering <\/em>ditujukan untuk mengingatkan para pemangku\nkepentingan tentang suatu kerja baik organisasi masa lalu. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Teori ini juga menjelaskan ada tiga varibel yang bisa digunakan untuk mengevaluasi ancaman reputasi akibat krisis. Ketiga variable tersebut adalah tipe krisis, sejarah krisis, dan reputasi sebelum terjadi krisis. Dalam buku <em>Ongoing Crisis Communication<\/em> (1999, p.126), Coombs mengklasifikasikan tipe krisis dalam lima kelompok, yaitu krisis yang disebabkan oleh rumor, <em>natural disaster<\/em>, <em>malevolence<\/em>, <em>accident<\/em>, dan <em>misdeed<\/em>. Pengkategorian tersebut didasarkan pada persepsi atas tanggungjawab organisasi terhadap krisis. Terkait dengan sejarah krisis, penting untuk dicermati apakah organisasi tersebut mempunyai pengalaman situasi krisis yang sama di masa lalu atau tidak. Sedangkan reputasi organisasi sebelumnya terkait dengan persepsi publik terhadap organisasi dalam memperlakukan korban pada situasi sebelumnya. Jika organisasi tidak memperlakukan publik dengan baik pada situasi sebelumnya, bisa dipastikan organisasi tersebut memiliki <em>prior relational reputation<\/em> yang buruk.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Strategi Memperbaiki\nReputasi Pasca Krisis<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Berbagai\nteori tersebut di atas, baik teori apology, IRT maupun SCCT memberi perhatian\nkhusus terhadap hubungan dengan <em>stakeholder\n<\/em>dan bagaimana organisasi dapat meminimalkan kerusakan reputasinya, melalui\nstrategi pesan yang dipilihnya. Tidak bisa dihindari, krisis akan mempengaruhi\nsikap dan pandangan <em>stakeholder<\/em> terhadap\norganisasi. <a>Meraih kembali kepercayaan <em>stakeholder <\/em>harus menjadi prioritas\npenting dalam proses pemulihan pasca krisis. <\/a>Oleh arena itu, cara apapun\nyang dipilih oleh sebuah organisasi tujuan mendasarnya adalah upaya\nmengembalikan persepsi publik terhadap suatu organisasi sebagaimana ketika\nsebelum terjadi krisis atau justru lebih baik dari sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n<p>Persepsi\n<em>stakeholder <\/em>sendiri turut dibentuk\ndan dipengaruhi oleh narasi yang diciptakan oleh media. Melalui berita yang\nditulisnya, media akan dengan mudah mempengaruhi opini publik. Ketika krisis\nterjadi, berbagai pertanyaan mungkin saja muncul dalam benak masyarakat. Apakah\nkrisis itu akibat kelalaian? Siapa yang bersalah dan harus bertanggungjawab?\nApakah komunikasi yang dilakukan organisasi bisa dipercaya dan tulus? Berbagai\npertanyaan tersebut dilatarbelakangi pemikiran negatif terhadap organisasi yang\ndianggapnya menyembunyikan informasi dan tidak tulus dalam melakukan\nkomunikasi. Krisis berdampak pada lunturnya kepercayaan publik terhadap organisasi.\n<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh\nkarena itu komunikasi pasca krisis harus diorientasikan untuk mempengaruhi\nopini publik, meyakinkan publik agar bisa menerima perspektif organisasi\nterkait krisis yang terjadi, sekaligus&nbsp;&nbsp;\nmemperbaiki hubungan dengan mereka. Sebelum melakukan komunikasi,\norganisasi harus memahami <em>stakeholder<\/em>\nmana yang memiliki kesan negatif dan sejauh mana mereka memahami krisis yang\nada. Dengan pemahaman tersebut, organisasi bisa menyampaikan pesan yang sesuai\nuntuk menutupi kesenjangan informasi dan mengoreksi ketidakbenaran informasi\nyang beredar, sekaligus melakukan permohonan maaf jika diperlukan.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut\nSturges dalam Ndlela (2019, p.105) tujuan akhir dari komunikasi krisis adalah\nmengatasi perkembangan opini publik yang diharapkan sama atau justru lebih positif\ndari sebelum terjadinya krisis. Untuk mencapai hal tersebut organisasi bisa\nmemilih kombinasi dari beberapa strategi penanganan reputasi pasca krisis. Coombs\nmenawarkan empat strategi, yaitu <em>denial response, diminishing response,<\/em><em> rebuilding response, <\/em>dan<em>&nbsp; bolstering strategies. <\/em>Strategi ini tidak\nberbeda jauh dengan strategi yang disampaikan Benoit dalam <em>image repair\ntheory<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui\n<em>denial response<\/em>, organisasi bisa\nmenegaskan tidak terjadi krisis. Hal lain adalah organisasi menyalahkan\nkelompok lain sebagai penyebab terjadinya krisis. Sedangkan<em> diminishing response <\/em>dimaksudkan sebagai upaya organisasi\nmeminimalkan tanggung jawab terhadap krisis dengan alasan tidak ada niat buruk\nmaupun kesengajaan, dan semua terjadi di luar batas kemampuan organisasi.\nStrategi <em>rebuilding response <\/em>diterapkan\nketika organisasi memilih langkah memberikan ganti rugi dan bertanggungjawab\nsekaligus memohon maaf kepada para korban krisis. Pada <em>bolstering\nstrategies, <\/em>organisasi mencoba mengingatkan stakeholder tentang perbuatan\nbaik yang pernah dilakukan sekaligus menjelaskan bahwa organisasi juga menjadi\nkorban krisis. <\/p>\n\n\n\n<p>Dalam\nmelakukan komunikasi krisis, organisasi harus melihat berbagai faktor sebelum\nmemutuskan strategi mana yang dianggap paling efektif dalam pemulihan reputasi\npasca krisis. Faktor-faktor tersebut terkait dengan sifat krisis, persepsi\nstakeholder, dampak krisis terhadap reputasi, dan juga stakeholder itu sendiri.\nDengan pemilihan strategi yang tepat, organisasi bisa meraih kepercayaan\nkembali dari para <em>stakeholder<\/em>nya. <\/p>\n\n\n\n<p>Kesuksesan\nmeraih kembali reputasi pasca krisis, telah ditunjukkan oleh Air Asia. Maskapai\nini pernah diterjang krisis hebat ketika salah satu pesawatnya, QZ 8501\nmengalami kecelakaan pada Desember 2014. Pesawat jenis airbus 320-200 itu\nterbang dari Surabaya menuju Singapura dengan membawa 162 penumpang. Seluruh\npenumpang dan awak pesawat dinyatakan tewas dalam tragedi tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Maskapai\nsebagai badan usaha yang sangat bergantung pada kepercayaan <em>stakeholder<\/em>nya,\ndalam hal ini penumpang dituntut mampu menangani krisis dengan baik. Dalam\nkasus ini, Air Asia menerapkan strategi <em>rebuilding response<\/em> dengan\nmengedepankan sikap permohonan maaf, tanggungjawab dan kesanggupan mengganti\nrugi kepada korban. Strategi tersebut dibuktikan dengan beberapa langkah yang\ndiambil oleh CEO Air Asia Group, Tony Fernandes. <\/p>\n\n\n\n<p>Dalam\nakun twitternya Fernandes menulis \u201cMy heart is filled with sadness for all the\nfamilies involved in QZ 8501. On behalf of Air Asia my condolences to all. Word\ncannot express how sorry I am\u201d sesaat setelah pesawat dinyatakan hilang.\nMelalui awak media, Fernandes juga memohon maaf dan berjanji akan\nbertanggungjawab dengan semua kasus tersebut.Dalam kejadian itu, Nampak jelas\nbahwa pihak Air Asia memanfaatkan media dengan baik sebagai salah satu sarana\nkomunikasi dengan publik. Langkah tersebut sekaligus membatasi beredarnya\ninformasi yang tidak benar dari sumber yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Fernandes membuktikan ucapannya\nuntuk bertanggungjawab atas kejadian tersebut dengan melakukan berbagai langkah\nnyata. Reaksi pertama yang dilakukan adalah mengadakan konferensi pers.&nbsp; Seperti diberitakan liputan6.com (<a href=\"https:\/\/www.liputan6.com\/bisnis\/read\/2156996\/aksi-heroik-tony-fernandes-kuatkan-keluarga-korban-airasia\">https:\/\/www.liputan6.com\/bisnis\/read\/2156996\/aksi-heroik-tony-fernandes-kuatkan-keluarga-korban-airasia<\/a>), selang beberapa jam dari kejadian,\nFernandes langsung terbang ke Surabaya untuk menemui keluarga korban. Pihak Air\nAsia juga tidak mengingkari janjinya terkait asuransi dan santunan terhadap\nkorban. Langkah yang tidak kalah pentingnya adalah empati yang diberikan Air\nAsia terhadap keluarga korban. Air Asia secara khusus menyediakan psikolog dan\ntokoh agama untuk mendampingi keluarga korban yang tengah mengalami masalah\nkejiwaan akibat kehilangan orang-orang yang dicintainya. <\/p>\n\n\n\n<p>Seluruh langkah yang diambil Air\nAsia, terbukti mendapat apresiasi dari para keluarga korban. Liputan6.com\n(6\/1\/2015) menulis bahwa sejumlah keluarga korban bahkan mengaku tidak takut\nterbang dengan Air Asia. Para ahli mengatakan, respon yang diberikan Air Asia\npada tragedi tersebut merupakan contoh yang baik dalam komunikasi krisis. Melalui\nkomunikasi krisis yang dilakukan, Air Asia terbukti mampu mengembalikan kepercayaan\nstakeholder pasca krisis terjadi.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tulisan ini disarikan dari buku:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol><li>Griffin, A. (2014).\n<em>Crisis, Issues and Reputation Management<\/em>,\nBab 15 <em>Recovering from reputation damage<\/em>,\nhalaman 240-251. <\/li><li>Ndlela, M. N. (2019). &nbsp;<em>Crisis Communication A Stakeholder Approach<\/em>,\nBab 5 A <em>Stakeholder approach in managing reputation<\/em>,\nSub bab<em>Protecting of reputation\nduring a Crisis dan Post-crisis strategies for repair of reputation, <\/em>halaman 99-106.<\/li><\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Reputasi menurut The Penguin English Dictionary dalam Griffin (2014, p. 2) adalah keseluruhan kualitas ataupun karakter yang dilihat, dinilai dan diakui oleh pihak lain. Sedangkan krisis menurut Publicly Available Specification (PAS 200) adalah suatu kondisi yang tidak normal, tidak stabil, dan bersifat kompleks yang mengancam reputasi dan keberadaan sebuah organisasi (Griffin, 2014, p. 32). Oleh [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ngg_post_thumbnail":0},"categories":[7],"tags":[],"gutentor_comment":0,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/254"}],"collection":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=254"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/254\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":256,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/254\/revisions\/256"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=254"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=254"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=254"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}