{"id":231,"date":"2019-04-27T23:20:27","date_gmt":"2019-04-27T23:20:27","guid":{"rendered":"http:\/\/zulfatunmahmudah.id\/?p=231"},"modified":"2019-04-27T23:20:29","modified_gmt":"2019-04-27T23:20:29","slug":"pekerja-perempuan-di-tambang-memaknai-emansipasi-tanpa-retorika","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/?p=231","title":{"rendered":"Pekerja Perempuan di Tambang MEMAKNAI EMANSIPASI TANPA RETORIKA"},"content":{"rendered":"\n<p>\u201cAku tidak paham makna\nemansipasi. Aku kerja dan berkarya demi masa depan anak-anak, bukan untuk\nsebuah emansipasi\u201d. Kalimat sederhana namun penuh makna itu, disampaikan\nUmandia (49), perempuan yang sudah 26 tahun bekerja sebagai operator alat berat\ndi tambang PT Kaltim Prima Coal (KPC).<\/p>\n\n\n\n<p>Umandia hanyalah satu dari\nratusan operator yang fokus pada tugasnya sebagai pekerja tambang. KPC\nmempekerjakan perempuan sebagai operator alat berat sejak tahun 1992. Kini\njumlah mereka mencapai 128 orang. Mereka bekerja tanpa disibukkan oleh konsep emansipasi\ndan segala hal yang terkait tuntutan akan sebuah kesetaraan. <\/p>\n\n\n\n<p>Sebagian operator perempuan\nmemberikan makna emansipasi dengan konsep yang cukup sederhana. \u201cMenurut saya,\nemansipasi adalah perempuan bisa mengerjakan pekerjaa laki-laki\u201c, ungkap\nKarticha (28), operator peraih penghargaan <em>the\nbest top gun operator Asia<\/em>. Perempuan yang sudah 12 tahun mengoperasikan\nalat berat di tambang itu juga menegaskan \u201cAku bisa mengerjakan pekerjaan\nlaki-laki bukan berarti berorientasi demi emansipasi. Sebagai <em>single parent, <\/em>aku bertanggungjawab\npenuh untuk kehidupan dan masa depan anakku\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Pemikiran tentang emansipasi para operator perempuan di tambang, barangkali jauh berbeda dengan pemikiran para aktifis gerakan perempuan yang sibuk menyuarakan tentang kesetaraan gender. Para operator perempuan tidak bersuara lantang bahwa mereka melakukan emansipasi. Namun apa yang mereka kerjakan di dunia kerja yang sangat keras itu, lebih dari sebuah emansipasi.\u00a0 Dengan kata lain, perempuan pekerja tambang memaknai \u201cemansipasi tanpa retorika\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Emansipasi\nMutlak<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pembicaraan emansipasi\nsejatinya terkait erat dengan persoalan kesetaraan hak dan kewajiban. Namun\nrealitanya banyak perempuan yang lebih suka bersuara lantang untuk kesetaraan\nhak. Lantas bagaimana dengan kesetaraan kewajiban? Barangkali hal yang satu ini\nsedikit kurang diperbincangkan karena orientasi perjuangan lebih focus pada\nkesamaan hak.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika menengok operator\nperempuan di tambang, sebagai perempuan saya sangat bangga dengan eksistensi\nmereka. Operator perempuan melaksanakan semua pekerjaan tambang sebagaimana\nyang dikerjakan laki-laki. Mereka memiliki kewajiban yang sama persis dengan\nlaki-laki yang berprofesi sebagai operator dalam segala sisi. Dilihat dari\nseragam yang dikenakan, baik operator laki-laki meupun perempuan sama-sama\nmengenakan helm, rompy, celana jeans, dan sepatu safety yang cukup berat.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari sisi alat yang\ndikendarai, tidak ada keistimewaan perempuan boleh memilih armada tambang yang\nberukuran kecil. Mengemudikan dump truck dengan kapasitas angkut 360 ton juga\ndilakukan oleh perempuan. Tidak hanya itu, perempuan juga harus bisa kerja\ndalam shift malam. Ketika giliran tersebut tiba, operator perempuan akan\nterjaga sepanjang malam di atas kabin alat berat di tengah hutan yang sunyi. <\/p>\n\n\n\n<p>Tidak berlebihan jika dikatakan\noperator perempuan melaksanakan \u201cemansipasi mutlak\u201d. Konsep kesetaraan gender\nsangat mudah ditemukan di dunia tambang. Padahal, sejumlah pendapat mengatakan\nbahwa tambang adalah dunia kerja maskulin yang lebih cocok untuk laki-laki\ndisbanding perempuan. Pendapat ini tidaklah salah, karena dunia kerja tambang\nmemang terbilang cukup keras.<\/p>\n\n\n\n<p>Tambang umumnya jauh dari kota\nbahkan umumnya terletak di hutan belantara. Armada pendukung pekerjaan\nberukuran sangat besar dengan aturan keselamatan kerja yang sangat ketat. Debu\ndan lumpur adalah pemandangan harian yang akan mereka temui. Kondisi tersebut\nsejatinya sangat tidak cocok dengan karakter perempuan yang dikenal lembut dan\nbahkan terkadang terkesan lemah. Namun realitanya, sejumlah perempuan berhasil\nmenaklukkan dunia keras tersebut dengan sangat baik.<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka tidak perlu berteriak\nemansipasi untuk bisa bekerja di tambang hingga puluhan tahun lamanya. Bahkan\nhasil riset terhadap operator perempuan di tambang KPC membuktikan bahwa sejak\nawal perempuan bekerja di tambang tahun 1992, belum pernah ada <em>lost time injury<\/em> (LTI) yang melibatkan\nperempuan. Sebagian mereka bahkan menjadi <em>the\nbest operator<\/em> hingga ke level Asia.<\/p>\n\n\n\n<p>Perempuan yang dikenal teliti\ndan hati-hati berdampak sangat signifikan terhadap kesuksesan kerja di tambang.\nIni terbukti dari data pelanggaran disiplin yang sangat kecil yang melibatkan\nperempuan. Dengan realita tersebut, masihkah dikatakan bahwa tambang adalah\ndunia kerja maskulin? Atau masih wajarkah kalau dikatakan bahwa perempuan\nadalah kaum lemah yang hanya bisa mengandalkan tubuh dan penampilan agar bisa\neksis? <\/p>\n\n\n\n<p>Sejumlah perempuan tambang mengaku sangat tidak setuju kalau tambang dikatakan sebagai dunia kerja laki-laki. Shierly (50) perempuan yang mahir mengoperasikan backhoe dan shovel itu dengan keras menentang anggapan tersebut. \u201cSaya tidak setuju kalau tambang dibilang dunia kerja laki-laki. Buktinya saya mampu bekerja di sini selama 26 tahun\u201d paparnya. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Asset\nBerharga<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Hasil riset membuktikan bahwa\nperempuan mampu menunjukkan hasil kerja yang luar biasa. Artinya, perempuan\nadalah asset yang begitu berharga bagi sebuah korporasi, khususnya perusahaan\ntambang. Kedisplinan, ketelitian, dan ketekunan mereka berdapkan signifikan\nterhadap keselamatan operasi tambang. Dengan demikian, potensi terjadi kerugian\nbaik finansial maupun jiwa bisa diperkecil. Dampaknya adalah penghematan biaya\noperasional bisa ditingkatkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Melihat hal tersebut, tentunya\ntidak ada alasan bagi industri pertambangan untuk tidak mempekerjakan perempuan\ndi tambang. Memberi kesempatan yang sama bagi laki-laki dan perempuan untuk\nbekerja di tambang adalah bagian dari upaya menciptakan kesetaraan gender dalam\nsemua lini kehidupan. Tentu saja, industri pertambangan juga harus mau dan\nmampu membuat payung regulasi yang jelas agar hak-hak perempuan juga\nterlindungi dengan baik. Dengan jaminan tersebut, potensi perempuan akan lebih\nmaksimal untuk mendukung penambangan yang mengacu pada penerapan <em>\u201cgood mining practice\u201d. <\/em>(Disarikan dari\nriset \u201cPerempuan Pekerja Tambang\u201d- bagian 1)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cAku tidak paham makna emansipasi. Aku kerja dan berkarya demi masa depan anak-anak, bukan untuk sebuah emansipasi\u201d. Kalimat sederhana namun penuh makna itu, disampaikan Umandia (49), perempuan yang sudah 26 tahun bekerja sebagai operator alat berat di tambang PT Kaltim Prima Coal (KPC). Umandia hanyalah satu dari ratusan operator yang fokus pada tugasnya sebagai pekerja [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ngg_post_thumbnail":0},"categories":[6],"tags":[],"gutentor_comment":0,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/231"}],"collection":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=231"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/231\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":232,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/231\/revisions\/232"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=231"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=231"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=231"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}