{"id":1286,"date":"2026-07-12T07:01:25","date_gmt":"2026-07-12T07:01:25","guid":{"rendered":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/?p=1286"},"modified":"2026-07-12T13:24:36","modified_gmt":"2026-07-12T13:24:36","slug":"ijtaba-merajut-asa-di-tengah-kebuntuan-komunikasi-muslimat-nu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/?p=1286","title":{"rendered":"IJTABA: MERAJUT ASA DI TENGAH KEBUNTUAN KOMUNIKASI MUSLIMAT NU"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><strong>Dr. Zulfatun Mahmudah, S.Pd, M.I.Kom, CSRS<\/strong><\/p>\n<p>Di bawah naungan Pendopo Sipanji Purwokerto, semangat para perempuan tangguh terpahat dalam sejarah. Bangunan megah milik pemerintah daerah Banyumas itu, menjadi saksi bisu riuhnya dinamika partisipatif perempuan. Hari itu, Minggu 12 Juli 2026, ratusan anggota Muslimat NU Banyumas mengumandangkan terbentuknya sebuah ikatan baru.<\/p>\n<p>Angin pagi kala itu pun seolah ikut berbisik, membawa doa-doa panjang dari ranting-ranting desa. Di beranda pendopo yang teduh, nampak tak ada jarak antara senior dan yunior, antara perempuan kota dan desa. Di tempat itu, seolah hanya ada satu tarikan napas: bagaimana Muslimat NU Banyumas tetap tegak, tetap bergerak, dan tetap menjadi pelita bagi umat.<\/p>\n<p>Mereka terlihat bergandengan tangan, menciptakan sebuah wadah untuk terus berkiprah. Wadah itu diberi nama <strong><em>Ikatan Jam\u2019iyyah 17 Anak Cabang Muslimat NU<\/em><\/strong>. \u201cIJTABA\u201d, demikian mereka menyebutnya. Sekilas, wadah itu hanya sebuah ikatan, agar gagasan dan aktivitas mereka tersalurkan tepat sasaran.<\/p>\n<p>Namun, jika ditelisik lebih dalam, pembentukan wadah itu menggelitik pikiran publik. Mengapa IJTABA harus ada? Apakah eksistensi Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU Banyumas tidak cukup mewadahi? Bukankah Anak Cabang adalah bagian dari struktur PC, yang sah dalam konteks badan otonom NU?<\/p>\n<p>Berbagai narasi yang sengaja disampaikan di tengah agenda pengukuhan IJTABA, seolah menjawab pertanyaan kritis itu. Sebuah narasi yang tak pernah benar-benar terucap. Ia hadir dalam gestur, suasana, dan rangkaian peristiwa, yang berbicara lebih lantang daripada sekedar kata-kata.<\/p>\n<p><strong>IJTABA SEBAGAI RUANG NEGOSIASI<\/strong><\/p>\n<p>Gelaran acara pengukuhan yang tersusun rapi menegaskan, IJTABA bukan sekedar bentuk ikatan baru di tubuh Muslimat NU. IJTABA menjelma menjadi ruang negosiasi sekaligus resistensi, ketika pintu komunikasi terkunci (baca: <a href=\"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/?p=1264\">https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/?p=1264<\/a>). Masih segar dalam ingatan warga Banyumas, ketika konferensi cabang Muslimat NU (7\/6\/2026), menemui jalan buntu. Kebuntuan itu berkembng menjadi dinamika internal, hingga menciptakan fragmentasi di tingkat akar rumput (baca: <a href=\"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/?p=1242\">https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/?p=1242<\/a>).<\/p>\n<p>Dilihat dari perspektif manajemen organisasi, kondisi itu menjadi sinyal belum optimalnya mekanisme pengelolaan konflik di tubuh Muslimat NU. Robbins dan Judge (2019) menjelaskan, konflik merupakan fenomena yang wajar dalam organisasi.\u00a0 Meskipun demikian, konflik harus diselesaikan secara konstruktif agar tidak berujung pada friksi dan polarisasi organisasi.<\/p>\n<p>Schein &amp; Schein (2021) dalam bukunya <em>Organizational Culture and Leadership <\/em>menegaskan, budaya organisasi bertumpu pada nilai-nilai bersama dan rasa saling percaya. Ketika keduanya telah tiada, retakan dan gesekan menjadi takdir yang tak terelakan. Dalam situasi seperti itu, terbentuknya forum alternatif seringkali menjadi konsekuensi yang tak bisa dihindari.<\/p>\n<p>Sementara dari perspektif kepemimpinan, dinamika itu memperlihatkan belum adanya kepemimpinan inklusif di tubuh Muslimat NU. Teori <em>Leader\u2013Member Exchange<\/em> (LMX) menjelaskan, kualitas hubungan antara pemimpin dan anggota, menentukan tingkat kepercayaan, komitmen, serta rasa memiliki terhadap organisasi.<\/p>\n<p>Tantangan utama kepemimpinan, sesungguhnya bukan pada kemampuan mempertahankan legitimasi formal. \u00a0Membangun legitimasi sosial melalui komunikasi yang terbuka, partisipatif, dan berkeadilan, menjadi kunci kesuksesan kepemimpinan. Pertanyaannya, apakah upaya meraih legitimasi sosial dilakukan oleh jajaran pimpinan Muslimat di tingkat pusat dan wilayah, pasca kisruh konfercab Muslimat NU Banyumas?<\/p>\n<p>Atau justru suara-suara arus bawah yang terus menggema, dibungkam dan diabaikan? Hingga akhirnya, suara itu tumbuh menjadi kekuatan baru dalam membangun ruang yang lebih nyaman untuk berkembang. Kehadiran IJTABA pun seolah menjadi jawaban atas friksi yang tak kunjung ada solusi. Sebuah friksi yang tidak hanya melahirkan polarisasi organisasi, tapi juga keberanian untuk menciptakan ruang negosiasi.<\/p>\n<p><strong>IJTABA DAN \u201c<em>STANDPOINT\u201d <\/em>PEREMPUAN<\/strong><\/p>\n<p>Berbicara polarisasi dalam konteks pengukuhan IJTABA, bisa menjadi sebuah kontroversi. Namun demikian, kontroversi itu dengan sendirinya akan tereliminasi, ketika publik melihat realitas di lapangan. Tanggal 12 Juli 2026, bukan hanya momen sakral bagi IJTABA. Tanggal tersebut juga dipilih PP Muslimat NU, sebagai momen pengukuhan PC Muslimat NU Banyumas.<\/p>\n<p>Langkah itu seolah mengirim pesan bahwa mereka memiliki legitimasi kuasa, meski arus bawah belum tentu mendukungnya. Jika itu yang terjadi, tentu saja patut disesalkan. Sebab, PP Muslimat sebagai lembaga tertinggi, sewajarnya memosisikan dirinya sebagai mediator atas semua friksi yang terjadi. Bukan justru unjuk kekuasaan, pihak mana yang harus dibesarkan dan diselamatkan, dan pihak mana yang harus ditekan dan disingkirkan.<\/p>\n<p>Multi tafsir atas sikap PP Muslimat NU bisa saja terjadi, bergantung dari sudut mana orang melihatnya. Namun demikian, ada satu kenyataan yang sulit diabaikan. Pihak yang terlibat dalam dua agenda besar itu, lahir di bawah langit organisasi yang sama, Muslimat NU. Di ruang publik, pemandangan itu berbicara lebih lantang dari sekedar kata-kata. Publik membacanya sebagai isyarat adanya jarak. Sebuah kerenggangan yang perlahan membelah persepsi terhadap soliditas di tubuh muslimat NU.<\/p>\n<p>Dari sanalah polarisasi menemukan panggungnya. Bukan semata karena perbedaan itu ada, melainkan karena perbedaan tersebut hadir dan disaksikan secara kasat mata. Tidak hanya tentang polarisasi. Kedua agenda itu juga menegaskan adanya dua kekuatan berbeda di tubuh Muslimat NU. \u00a0Satu kelompok menjadi ruang berlabuh arus bawah, sementara kelompok lainnya menjadi ruang legitimasi kuasa.<\/p>\n<p>Dilihat dari perspektif \u201c<em>power relations<\/em>\u201d, arus bawah seringkali merupakan kelompok yang terpinggirkan oleh sistem. Kelompok ini seringkali berada dalam posisi berseberangan dengan kekuasaan. Meski demikian, Harding dan Wood berpendapat <em>standpoint<\/em> kelompok yang terpinggirkan memiliki kekuatan tersendiri.<\/p>\n<p>Dikutip dari buku <em>\u201cCommunication theory\u201d<\/em> karya Griffin, keduanya menegaskan, kelompok terpinggirkan dinilai dapat menampilkan perspektif yang lebih menyeluruh, lebih tepat, atau lebih benar dibandingkan perspektif kelompok yang berada di posisi dominan (baca: kekuasaan).<\/p>\n<p>Mengaitkan teori <em>standpoint<\/em> dengan lahirnya IJTABA, barangkali masih terlalu dini. Wadah itu baru saja bertumbuh. Dibutuhkan jalan panjang untuk membuktikan arah gerakannya. Namun, ada satu hal yang perlu dicatat. \u00a0IJTABA lahir dari sebuah kesadaran bersama. Dari keyakinan bahwa pengabdian tidak boleh berhenti hanya karena friksi organisasi. Dari ikhtiar untuk tetap berkarya, di tengah dinamika yang ada.<\/p>\n<p>Terlepas dari berbagai dinamika yang mengiringinya, lahirnya IJTABA memiliki arti tersendiri. Peristiwa itu kembali mengukuhkan Purwokerto, sebagai kota yang memiliki jejak penting dalam sejarah Muslimat NU. Jika tahun 1946 Purwokerto menjadi ruang yang merekatkan persatuan perempuan NU, kini kota itu menjadi saksi soliditas organisasi yang tengah diuji.<\/p>\n<p>IJTABA seolah tengah menyampaikan pesan, berkhidmat bukan semata soal harkat dan martabat. Apalagi sekadar tentang tempat berpijak. Ia tumbuh di setiap ruang yang memberi harapan, dan lahir dari setiap ikhtiar tanpa pencitraan. Pada akhirnya, semua bermuara pada tujuan yang sama: menguatkan peran perempuan NU untuk terus melayani umat, merawat masyarakat, dan menebarkan maslahat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dr. Zulfatun Mahmudah, S.Pd, M.I.Kom, CSRS Di bawah naungan Pendopo Sipanji Purwokerto, semangat para perempuan tangguh terpahat dalam sejarah. Bangunan megah milik pemerintah daerah Banyumas itu, menjadi saksi bisu riuhnya dinamika partisipatif perempuan. Hari itu, Minggu 12 Juli 2026, ratusan anggota Muslimat NU Banyumas mengumandangkan terbentuknya sebuah ikatan baru. Angin pagi kala itu pun seolah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":1287,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ngg_post_thumbnail":0},"categories":[7],"tags":[],"gutentor_comment":0,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1286"}],"collection":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1286"}],"version-history":[{"count":13,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1286\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1300,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1286\/revisions\/1300"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1287"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1286"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1286"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1286"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}