{"id":110,"date":"2019-03-28T05:43:00","date_gmt":"2019-03-28T05:43:00","guid":{"rendered":"http:\/\/zulfatunmahmudah.id\/?p=110"},"modified":"2019-03-28T05:43:02","modified_gmt":"2019-03-28T05:43:02","slug":"memaknai-sebuah-emansipasi-tribun-kaltim-21-april-2015","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/?p=110","title":{"rendered":"Memaknai Sebuah Emansipasi (Tribun Kaltim, 21 April 2015)"},"content":{"rendered":"\n<p>21 April merupakan tanggal yang cukup penting bagi  kaum perempuan Indonesia. Tanggal tersebut diakui  sebagai hari peringatan kebangkitan kaum perempuan  melawan diskriminasi gender, dengan mengusung label<br> \u201cHari Kartini\u201d. Pertanyaan yang muncul kemudian  adalah bagaimana kaum perempuan memaknai  peringatan hari bersejarah tersebut?<br><\/p>\n\n\n\n<p> Sejumlah organisasi perempuan dan lembaga-lembaga baik swasta maupun pemerintah  kerap menandai momen penting itu dengan berpakaian kebaya. Bahkan siswi dari SD  hingga SMA ikut-ikutan kena imbasnya. Mereka pun diminta berkebaya pada tanggal  tersebut. Tidak hanya itu, berbagai kontes kebaya juga turut memeriahkan peringatan hari<br> Kartini. <\/p>\n\n\n\n<p><br> Jika berkebaya diorientasikan sebagai upaya pelestarian budaya, sebenarnya tidak ada  yang perlu dipermasalahkan. Persoalannya menjadi berbeda ketika sudah ada embelembel,  berkebaya identik dengan memperingati perjuangan Kartini. Di sisi lain, publik  perempuan sendiri tidak memiliki pemahaman yang komprehensif, mengapa Kartini begitu<br> dianggap berjasa bagi kaumnya, hingga kelahirannya perlu diperingati secara khusus.<\/p>\n\n\n\n<p><br>Kartini merupakan perempuan Jawa yang lahir di Jepara akhir abad ke 19, tepatnya tahun Pada saat itu, budaya pakaian Jawa dalam bentuk kebaya tentu saja masih sangat  kental. Tidak mengherankan jika Kartini tumbuh dewasa dengan selalu berpakaian kebaya.  Jika Kartini lahir di era sekarang, barangkali Kartini akan tampil berbusana blazer layaknya<br> para pemikir era modern.  <\/p>\n\n\n\n<p>Sangat disayangkan jika perjuangan agung Kartini sebatas diperingati dengan kebaya dan  segala kontesnya. Sementara pemikiran dan kepribadian Kartini jauh melewati batas  symbol pakaian yang dikenakan pada zamannya. Meski masa hidup Kartini terbilang  sangat singkat, namun berbagai pemikiran dan perjuangannya cukup menjadi teladan yang  luar biasa bagi kaum perempuan masa kini. Kartini wafat di usia sangat muda, 25 tahun,  tepatnya 17 September 1904. Apa sesungguhnya yang sudah dilakukan Kartini sepanjang  hidupnya? <\/p>\n\n\n\n<p><br><strong>Sebuah Teladan <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kita mengenal begitu banyak pahlawan perempuan sebelum era Kartini, seperti Nyi Ageng  Serang, Cut Nyak Dien, Cut Meutiah, dan lain-lain. Tentu saja, jasa mereka luar biasa tidak  hanya bagi  perempuan tapi bagi seluruh bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n<p>Ada satu hal yang membedakan Kartini dengan para  pejuang pendahulunya. Kartini tidak memanggul  senjata, tapi ia berjuang dengan menuangkan segala  pemikirannya lewat tulisan. Kartini tidak hanya berjuang  melawan colonial Belanda saat itu, namun juga  berjuang melawan adat istiadat bangsanya yang  banyak merugikan kaum perempuan. <\/p>\n\n\n\n<p><br> Pemikiran dan aspirasi Kartini tertuang dalam surat-surat  yang ditulis untuk sahabatnya di Belanda, khususnya Stella dan Ny. Abendanon.  Kumpulan surat-surat itulah yang akhirnya ditebitkan dalam sebuah buku yang tertulis  dalam berbagai bahasa.  Buku yang terbit pertama ditulis oleh J.H Abendanon dalam bahasa Belanda tahun 1911.  Door Duisternis tot Lict: Gedachten Over en Voor Het Javaansche van Raden Adjeng  Kartini (Dari Kegelapan Menjadi Terang: Pemikiran Tentang dan Untuk Bangsa Jawa oleh  Raden Adjeng Kartini), demikian judul bukunya.<\/p>\n\n\n\n<p><br>Dalam salah satu suratnya ia menyebutkan \u201cKami sebagai perempuan Jawa hanya boleh  mempunyai satu cita-cita, mengimpikan satu impian, ialah suatu hari kami akan dikawinkan  sesuai dengan pilihan orang tua\u201d. Surat tersebut ia tulis sebagai ungkapan kekecewaan  atas tradisi yang dianggap merugikan perempuan.  Sebagai anak Bupati, Kartini memang berkesempatan mengenyam pendidikan dasar  Hindia Belanda di Jepara. <\/p>\n\n\n\n<p>Namun berbeda dengan saudara laki-lakinya, usai pendidikan<br> dasar dia tidak dibolehkan melanjutkan pendidikan kejenjang lebih tinggi.<br> Kala itu, anak perempuan harus masuk fase pingitan begitu usianya mencapai 12 tahun,  sampai akhirnya siap dinikahkan di usia 14 tahun. Kartini menentang keras budaya pingit  terhadap anak perempuan.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Tidak hanya menentang budaya itu, Kartini juga mengajukan beasiswa untuk bisa sekolah  ke Belanda. Dalam surat yang ditulis ke Stella, Kartini mengatakan &#8220;\u2026ayahku tidak pernah  mengira, bahwa kesempatan yang diberikan kepada anak-anak gadisnya menimbulkan  keinginan dalam diriku yang bertentangan dengan adat istiadat Jawa bagi gadis sepertiku\u201d.<br> Kartini sadar bahwa apa yang menjadi keinginannya sangat bertentangan dengan adat  kala itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Meski kedua perjuangan tersebut tidak terwujud, namun  Kartini mampu mengulur masa remajanya cukup  panjang hingga usia 24 tahun. Kartini yang dalam suratsuratnya  juga menentang poligami, akhirnya dinikahkan<br> dengan Bupati Rembang yang kala itu sudah beristri.  <\/p>\n\n\n\n<p>Sekilas, Kartini berubah dari aspirasi yang  diperjuangkannya. Namun dari salah satu surat yang ia  tulis, tergambarkan bahwa yang berubah adalah bukan  apa yang ia perjuangkan, melainkan cara yang ia pilih.  Diceritakan bahwa masyarakat kala itu sangat berharap Kartini memiliki kekuatan sebagai  pelindung. Menikah dengan Bupati Rembang, yang notabenenya sebagai penguasa, dinilai  sebagai salah satu jalan memberikan perlindungan kepada rakyat kecil sekaligus  mewujudkan idealismenya.<\/p>\n\n\n\n<p><br>Hal lainnya adalah, Kartini sangat menghormati ayahnya yang memang sudah banyak  memberi keleluasaan jauh di atas perempuan pada masanya, meski mendapat tekanan  berbagai kalangan saat itu.  Meski penuh idealisme, namun Kartini tetap mengedepankan ketaatan pada orang tua. Hal  ini tergambar dari surat yang berbunyi \u201c\u2026doa orang tua lebih kuat dan lebih dahulu  dikabulkan daripada doa anak-anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p><br>Pengambilan keputusan itu, mengindikasikan Kartini bukanlah perempuan yang egois. Ia  rela mengorbankan idealismenya demi menyelamatkan kepentingan yang lebih besar.  Agaknya sikap inilah yang justru perlu menjadi pembelajaran bagi perempuan di era  sekarang. Tuntutan emansipasi dan segudang gerakan feminisme yang dijalani<br> seyogyanya tidak perlu mengorbankan kepentingan yang lebih hakiki.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan rahasia lagi, betapa banyak perempuan yang  mengejar popularitas dengan dalih emansipasi. Tidak  jarang mereka mengorbankan tugas mulianya sebagai  ibu yang diharapkan mampu menyiapkan masa depan<br> yang lebih baik bagi anak-anaknya, demi sebuah kata  emansipasi.<br> Meski hidup di zaman feodal, Kartini tumbuh menjadi  perempuan yang sangat akrab dengan buku. Berbagai  buku dan majalah kala itu, yang diperoleh dari sahabat-sahabatnya di Belanda.<br> <\/p>\n\n\n\n<p>Kegemarannya membaca sejak kecil membentuk Kartini tumbuh dengan jiwa kritis. Ia  mengkritik sikap pejabat Belanda kepada pribumi, etika Jawa yang kerap membuat jurang  pemisah, dan laki-laki yang kala itu dianggapnya egoistik.  <\/p>\n\n\n\n<p>Pemikiran Kartini yang begitu jauh kedepan menimbulkan tanda tanya sebagian orang. Ia  menentang keras anggapan bahwa pemikiran dan aspirasinya akibat pengaruh teman-teman  Belanda. Dalam salah satu surat, Kartini menulis \u201cyang menumbuhkan idealisme dan  tekad dalam diriku untuk berjuang adalah Tuhan\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p><br> Surat-surat Kartini tak terhitung jumlahnya, yang ia tulis dalam empat tahun terakhir  sebelum wafat. Apa yang tertuang dalam tulisan ini hanyalah sekelumit dari curahan hati  Kartini tentang apa yang dihadapi kaum perempuan pada zamannya. Kartini bukan  sekedar simbol kebaya, Kartini juga tidak mengejar emansipasi secara membabibuta. Ia  mencoba mendudukkan hak perempuan secara proporsional, tanpa melepas fitrah<br> keperempuanannya.  <\/p>\n\n\n\n<p>Saatnya kaum perempuan memahami lebih jauh apa yang Kartini perjuangkan. Hingga  akhirnya Kartini tersenyum bangga melihat kesuksesan kaumnya, bukan menangis sedih  karena emansipasi yang tidak pada tempatnya. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>21 April merupakan tanggal yang cukup penting bagi kaum perempuan Indonesia. Tanggal tersebut diakui sebagai hari peringatan kebangkitan kaum perempuan melawan diskriminasi gender, dengan mengusung label \u201cHari Kartini\u201d. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana kaum perempuan memaknai peringatan hari bersejarah tersebut? Sejumlah organisasi perempuan dan lembaga-lembaga baik swasta maupun pemerintah kerap menandai momen penting itu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ngg_post_thumbnail":0},"categories":[3],"tags":[],"gutentor_comment":0,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/110"}],"collection":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=110"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/110\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":111,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/110\/revisions\/111"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=110"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=110"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=110"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}