{"id":108,"date":"2019-03-28T05:18:52","date_gmt":"2019-03-28T05:18:52","guid":{"rendered":"http:\/\/zulfatunmahmudah.id\/?p=108"},"modified":"2019-03-28T05:18:55","modified_gmt":"2019-03-28T05:18:55","slug":"teknokrat-yang-humanis-pandangan-dan-harapan-dr-ir-h-harry-miarsono-sony","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/?p=108","title":{"rendered":"Teknokrat yang Humanis Pandangan dan Harapan  DR. Ir. H. Harry Miarsono (Sony)"},"content":{"rendered":"\n<h3>Sangatta Kota Tercinta<\/h3>\n\n\n\n<p><strong>KESEDIHAN<\/strong> tidak bisa\ndisembunyikan dari wajah Harry Miarsono,\nketika ia harus mengucapkan kata selamat jalan Sangatta.&nbsp; Meski demikian, sosok yang lebih akrab\ndipanggil Sony itu, perlahan dan runtut terus membacakan sambutan\nperpisahannya. Ia pun mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada satu\npersatu pejabat Kutai Timur, petinggi KPC, sahabat-sahabatnya di berbagai\norganisasi sosial, keagamaan, pemuda, olah raga, dan LSM,&nbsp; yang pernah dibinanya di Kutai Timur. <\/p>\n\n\n\n<p>Acara perpisahan yang dihadiri oleh segala komponen masyarakat itu menandai\nberakhirnya tugas Sony sebagai GM Divisi <em>External\nAffairs and Sustainable Development<\/em> di tambang batubara terbesar di dunia,\nPT Kaltim Prima Coal (KPC). Meski demikian, perpisahan itu tidak berarti\nmenandai lepasnya ikatan batin tokoh kelahiran Semarang, 1 Mei 1960 dengan\nSangatta. \u201cBagi saya, Sangatta sudah seperti rumah sendiri. Bahkan saya\nmenganggap rumah saya di Jakarta sebagai rumah kedua setelah Sangatta,\u201d\ndemikian yang dituturkannya. Sony juga menggambarkan kedekatan dirinya dengan\nkota yang kaya sumber daya alam ini, bagai pohon yang sudah menyatu dengan\nakarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena kedekatan itu pula, penerima beasiswa Fulbright saat meraih gelar <em>Doctor of Philosophy (Ph.D), <\/em>dari<em> University of Cincinnati, <\/em>Amerika\nSerikatitu bertekad akan kembali\nlagi ke Sangatta untuk mendedikasikan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang\ndimilikinya. \u201cPerpisahan ini hanyalah sementara, karena suatu hari nanti saya\ningin kembali ke Sangatta, untuk bersama masyarakat setempat membangun kota\ntercinta ini khususnya, dan Kutai Timur pada umumnya,\u201d tekad Sony penuh percaya\ndiri. <\/p>\n\n\n\n<p>Tekad ini semakin menandai kecintaan sosok yang rendah hati itu terhadap bumi Sangatta yang telah memberinya kesempatan berkarya dan berkembang bersama masyarakat. Ibarat pepatah, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, ia pun selalu menempatkan dirinya menjadi bagian dari masyarakat setempat, yang siap berkarya demi kesejahteraan daerah yang ditempatinya. Filosofi inilah yang menjiwai Sony hingga ia begitu dekat dengan Sangatta meski bukan kota kelahirannya.<\/p>\n\n\n\n<h4>Multi Talenta<\/h4>\n\n\n\n<p><strong>KESUKSESAN<\/strong> seseorang dalam\nmemimpin tidak terlepas dari ilmu pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman\nyang dimilikinya. Modal tersebut akan menjadi kekuatan yang sangat dahsyat\nmanakala dibarengi dengan kejujuran dan integritas pemimpin itu sendiri.\nSebagai seorang akademisi yang sudah banyak makan asam garam, Sony sangat\nmenyadari hal itu. Berbagai ilmu yang ia peroleh, baik yang berasal dari\npendidikan formal maupun non formal dimanfaatkannya, hingga ia dipercaya untuk\nmenjabat beberapa posisi penting dan strategis di berbagai perusahaan kelas\ndunia.<\/p>\n\n\n\n<p>Tahun 1998-2003, Sony dipercaya menjadi <em>Town\nManager <\/em>diPT Freeport Indonesia,\nyang salah satu tugasnya menangani perencanaan dan pengembangan Kuala Kencana\ndi Kabupaten Mimika, Papua sebagai salah satu bagian dari kawasan pertambangan\nPT Freeport Indonesia. <\/p>\n\n\n\n<p>Selama memegang jabatan tersebut, Sony juga harus mampu membuat perencanaan\ndan pengembangan tata kota yang baik, termasuk pemeliharaan dan operasional\nseluruh asset kota yang mencapai US$280 nilainya. Bagi peraih gelar <em>Master of Architecture <\/em>dari <em>University of Wisconsin-Milwaukee, <\/em>Amerika\nSerikattersebut mengembangkan tata\nkota tambang tidaklah mudah. Bahkan tugas berat itu menjadi tantangan\ntersendiri yang dijalankan penuh tanggungjawab. Sony pun mampu menyelesaikan\ntugas tersebut dengan baik. Tidak mengherankan jika ia dipercaya mengemban\njabatan tersebut hingga lima tahun lamanya sebelum ia memutuskan untuk mencari\npekerjaan di tempat lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak hanya itu, selama mengemban amanah sebagai <em>Town Manager, PT Freeport Indonesia,<\/em>&nbsp; Sony juga berhasil membuat master plan\npembangunan Kuala Kencana dan Kabupaten Mimika. Keseriusan dan kesuksesannya\nmengembangkan tata kota tersebut nampak jelas tertuang dalam bukunya yang\nberjudul <em>\u201cMembangun Mimika: Bagaimana\nMimika Menjadi Pemimpin Dalam Pembangunan Wilayah di Papua<\/em>\u201d.&nbsp; Selain menjadi bukti kepiawaian dirinya dalam\nmenata sebuah kawasan kota, buku tersebut telah menandai kepedulian dan kecintaan\nbapak tiga anak ini terhadap pembangunan wilayah. <\/p>\n\n\n\n<p>Keberhasilannya membuat tata kota di Kuala Kencana secara fisik tidak\nmembuat sosok yang gemar menulis ini berpuas diri. Memang, menata sebuah kota\nyang lebih berpijak pada penataan secara fisik bisa jadi bukan hal sulit bagi\nseseorang yang sudah menekuni disiplin ilmu terkait. Namun, persoalannya jadi\nberbeda ketika pembangunan tersebut harus dikaitkan dengan pola pengembangan\nmasyarakat sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n<p>Tidak mengherankan jika Sony akhirnya banyak melakukan studi agar bisa\nmengkaitkan kedua model pembangunan tersebut. Kegemarannya melakukan studi\ntertentu tak terlepas dari sifatnya yang selalu ingin membuat perencanaan\nmatang yang dikaji secara ilmiah sebelum program digulirkan. Pengalamannya\nmenjabat <em>Executive Director <\/em>pada\nlembaga<em> Center for Architecture and Urban\nStudies<\/em> (CAUS) Jakarta pada tahun 1990-1994 berdampak signifikan terhadap\nkebiasaan dan pola pikir Sony dalam melaksanakan tugas.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada akhirnya berbagai studi dan pengalamannya selama di Papua, menjadi\nbekal yang sangat berarti dalam menunjang karir sosok yang gemar membaca itu.\nIni terbukti dari berbagai langkah dan terobosan yang ia ciptakan ketika\nbergabung dengan KPC, sebuah perusahaan tambang yang terletak di kabupaten\nKutai Timur, tepatnya di Sangatta, pada awal tahun 2003 hingga pertengahan\ntahun 2009.<\/p>\n\n\n\n<p>Beruntung, di perusahaan ini Sony dipercaya menempati posisi sebagai GM <em>External Affairs and Sustainable Development\n(ESD), <\/em>yang memungkinkan dirinya beserta staf yang dipimpinnya merumuskan\nprogram yang berbasis pada pembangunan yang berkelanjutan <em>(sustainable development)<\/em>. Studi tentang persepsi masyarakat\nsekitar tambang yang dilakukan bersama dengan Universitas Mulawarman, yang\nnotabenenya merupakan Perguruan Tinggi terkemuka dan terakui kredibilitasnya di\nwilayah Kalimantan Timur, menjadi dasar tersendiri dalam penyusunan program\nberbasis kebutuhan masyarakat itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Kesederhanaan dan pola pergaulannya yang tidak mengkotak-kotakkan\nmasyarakat perusahaan dan penduduk lokal juga nampak pada pendapatnya terkait\npenataan Swarga Bara, sebuah kawasan pemukiman dan perkantoran KPC, sebagai\nkota terbuka. \u201cPemisahan kawasan perusahaan menjadi area eksklusif yang tidak\nbisa dimasuki masyarakat luar, bisa menimbulkan persoalan sosial di kemudian\nhari,\u201d paparnya. <\/p>\n\n\n\n<p>Agaknya, Sony tidak terlalu mengalami kesulitan untuk menyampaikan pendapat\ndan harapannya. Sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Sangatta Baru (YSB), sebuah\nyayasan yang menjadi kepanjangan tangan perusahaan dalam merencanakan dan\nmembangun kota Swarga Bara, Sony memiliki tempat tersendiri untuk menyampaikan\nide-idenya. Perumahan karyawan pun berangsur-angsur diarahkan untuk lebih\nmembaur dengan masyarakat sekitar, dengan meninggalkan kesan eksklusifitas\ntertentu.&nbsp; Salah satunya adalah dengan\nmenyelenggarakan Hiburan Malam Minggu (HMM) di <em>town hall<\/em> yang menjadi ajang pertemuan antara warga Sangatta dan\nSwarga Bara.<\/p>\n\n\n\n<p>Alhasil, keberpihakannya kepada masyarakat membentuk karakter Sony sebagai\nsosok yang mampu memadukan dirinya tidak hanya sebagai \u2018<em>boss<\/em>\u2019 tetapi juga sebagai \u2018pemimpin\u2019, yang siap berbagi untuk\nkepentingan masyarakat.&nbsp; Tidak\nmengherankan, meski notabenenya sebagai karyawan perusahaan, ia terus berupaya\nmemutuskan segala sesuatu yang terbaik bagi perusahaan tempatnya bekerja dan\nmasyarakat sekitar sebagai tetangga yang baik bagi perusahaan.&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Mimpi-mimpi Sony semakin mudah direalisasikan manakala UU No 40 tahun 2007 yang mengatur keharusan perusahaan melaksanakan tanggungjawab sosial perusahaan (CSR) digulirkan pemerintah. Ide-ide pengembangan masyarakat sekitar tambang pun terus diterapkan bersama staf-stafnya di divisi yang dipimpinnya. Semua itu dilakukan dengan satu tujuan terciptanya kesejahteraan masyarakat sekitar tambang, yang berujung pada terciptanya <em>\u2018social license\u2019<\/em> bagi operasional perusahaan.<\/p>\n\n\n\n<h3>CSR dan Pemberdayaan Masyarakat<\/h3>\n\n\n\n<p><strong>BERBICARA<\/strong> tentang CSR,\ntidak bisa dilepaskan dari sosok Sony. Pemahamannya terhadap konsep\nkedermawanan sebuah perusahaan yang dikemas dalam bentuk tanggungjawab sosial\nperusahaan tidak diragukan lagi. Sebagai GM ESD, Sony dituntut mampu membuat\nmodel CSR yang diterapkan dalam bentuk program-program kemasyarakatan yang\ntepat sasaran. <\/p>\n\n\n\n<p>Bagi Sony yang telah\nberhasil meraih gelar S-2 <em>Master of\nCommunity Planning<\/em>, dari <em>University\nof Cincinnati<\/em> ini, membuat model\nCSR yang tepat tentu saja bukan hal baru. Bersama para\nstafnya, ia merumuskan apa yang disebut sebagai tujuh program unggulan. Ketujuh\nprogram tersebut mencakup pengembangan agribisnis, kesehatan dan sanitasi,\npendidikan dan pelatihan, pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah KUKM),\npeningkatan infrastruktur masyarakat, pelestarian alam dan budaya, dan\npenguatan kapasitas masyarakat desa. <\/p>\n\n\n\n<p>Program yang diorientasikan untuk kesejahteraan masyarakat sekitar tambang\nitu akhirnya terlaksana di beberapa kecamatan, seperti Sangatta Utara, Sangatta\nSelatan, Rantau Pulung dan Bengalon. Untuk memastikan berjalannya program, di\nsela-sela kesibukan kerja, tidak jarang Sony turun langsung ke tengah\nmasyarakat. Kebiasaan turun ke bawah itu, semakin memposisikan Sony sebagai\norang yang paham CSR baik secara konsep maupun pelaksanaan di lapangan dengan\nsegudang problematikanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kebijakan tujuh program unggulan itupun menuai pro dan kontra, seiring\nbanyaknya persoalan yang dihadapinya ketika program dilaksanakan. Sebagian\npihak menganggap bahwa konsep itu terlalu mengambil peran pemerintah dan\nmembuka peluang ketidakmandirian masyarakat. <\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, pandangan Sony yang menganggap lebih baik memberi kail dari\npada memberi ikan, telah mengarahkan kebijaksanaan CSR tidak hanya bertumpu\npada pembangunan fisik semata. Berbagai pelatihan yang sifatnya memberikan\nketerampilan untuk bekal usaha masyarakat digalakkan. Program ini justru\ndinilai kurang memberikan dampak nyata akibat masih tertumpunya pola pikir\nmasyarakat terhadap hasil fisik ketimbang sebuah proses. <\/p>\n\n\n\n<p>Kontroversi tersebut tidak membuat Sony menyerah. Baginya menyiapkan\nketerampilan akan memberikan bekal tersendiri kepada masyarakat jika tambang\nsudah tutup dikemudian hari. Untuk mensukseskan program, Sony bahkan\nmengumandangkan diri bisa dihubungi masyarakat 24 jam. Akibat kebijaksanaan\nkomunikasi yang terlalu terbuka itu, praktis membuat waktu Sony tersita untuk\nurusan kerja dan masyarakat. Bahkan kondisi ini berimbas kepada para stafnya,\nyang terkadang harus terganggu di luar jam kerja.<\/p>\n\n\n\n<p>Meski menuai kontroversi dan ada sementara pihak yang mempertanyakan keberhasilan\ntujuh program unggulan yang digagasnya, program CSR KPC terbukti telah\nmenyentuh kebutuhan masyarakat yang paling mendasar. Bahkan berbagai\npenghargaan bidang CSR berhasil diperoleh perusahaan yang telah beroperasi\nsejak tahun 90-an itu.&nbsp; Beberapa penghargaan\nantara lain diberikan oleh Ikatan Akuntan Indonesia, Menko Kesra, Departemen\nSosial, Kementerian Perumahan Rakyat, Metro TV, Corporate Forum on Community\nDevelopment (CFCD), SGS Indonesia, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Memang benar, program CSR KPC bukan semata keberhasilan seorang Sony. Namun\ndemikian, tidak bisa dipungkiri keterlibatan tangan dingin sosok yang cukup\nmenuai kontroversi sepanjang memimpin Divisi ESD itu, turut berkontribusi\nterhadap keberhasilan CSR KPC.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Sony, kesuksesan CSR sebuah perusahaan akan berdampak positif dan\nsignifikan terhadap kinerja perusahaan tersebut. Untuk itu, ia berpendapat\n\u201cprogram kemasyarakatan harus diorientasikan untuk meningkatkan kesejahteraan\nmasyarakat sekitar tambang. Kesuksesan program ini sekaligus menandai hubungan\nbaik antara pihak perusahaan dengan tetangganya. Jika hubungan sudah tercipta\ndengan baik, maka <em>social license to\noperate <\/em>(ijin sosial untuk operasi) akan mudah didapat, yang akan berdampak\npada kelancaran proses produksi,\u201d demikian papar Sony terkait benang merah\nantara CSR, pemberdayaan masyarakat dan <em>social\nlicense. <\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Pemikiran dan langkah-langkahnya dalam mengembangkan CSR telah menempatkan\nSony sebagai salah satu sosok yang menjadi pusat perbincangan seputar CSR.&nbsp; Kesibukan Sony pun bertambah dengan banyaknya\npermintaan untuk menjadi pembicara di berbagai forum CSR baik dalam maupun luar\nnegeri.&nbsp; <em>Global CSR Forum, Singapore Asian Forum on CSR, Philippine, Asia\nPasific CSR Conference, Singapore, GCG Conference, Singapore, <\/em>dan <em>Evan Marcus CSR, Singapore<\/em> merupakan\nsebagain forum internasional yang pernah menghadirkan Sony sebagai pembicara\nseputar CSR, disamping forum-forum dalam negeri yang tak terhitung jumlahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, Sony juga memiliki pandangan tersendiri terhadap persoalan\npemberdayaan masyarakat. Dalam pandangannya, pemberdayaan masyarakat merupakan\nsuatu pendekatan pembangunan wilayah <em>(regional\ndevelopment)<\/em> yang memanfaatkan modal sosial <em>(social capital)<\/em> sebagai dasar utama dalam peningkatan ekonomi\nlokal.&nbsp; \u201cModal sosial perlu dibangun agar semakin kuat dan dapat mengubah\nperilaku masyarakat.&nbsp; Jika&nbsp;modal sosial sudah kuat, maka\nakan&nbsp;tercipta kebersamaan, kepedulian dan kemandirian yang pada akhirnya\ndapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang sekaligus menjadi tulang\npunggung ekonomi rakyat,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Lebih jauh Sony mengatakan kebijakan pemberdayaan masyarakat berorientasi kepada golongan ekonomi lemah, keadilan, transparansi dan tanggung jawab.\u00a0 Menurutnya, syarat utama untuk mewujudkan ekonomi rakyat berbasis\u00a0pada\u00a0pemberdayaan masyarakat adalah meningkatkan kelembagaan masyarakat yang mengakar dan mewakili kepentingan semua pihak, dan bukan kepentingan pribadi.\u00a0 Ia pun menambahkan, kelembagaan masyarakat yang kuat akan semakin meningkatkan kepercayaan diri (<em>self confidence)<\/em> masyarakat sehingga akan mampu bersaing dengan daerah lain.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Menatap Masa Depan Kutim<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sony memiliki pandangan yang lebih jauh dari sekedar persoalan CSR. Selama\nenam setengah tahun bersentuhan dengan masyarakat dan budaya daerah sekitar\ntambang, membuat Sony begitu peduli dengan pengembangan Kutai Timur ke depan.\nSebagai pakar &nbsp;bidang pengembangan\nwilayah, dia sangat berharap daerah ini bisa dikembangkan lebih optimal.&nbsp;\n\u201cKutai Timur sangat kaya akan sumber daya alam (SDA), namun pengelolaannya\nmasih bisa lebih dioptimalkan.&nbsp; Potensi pengembangan Kutai Timur sungguh\nluar biasa dibanding daerah-daerah lain di Indonesia.&nbsp; Sungguh beruntunglah masyarakat di daerah\ndengan kekayaan SDA ini,\u201d demikian kesannya terhadap daerah yang begitu\ndicintainya. <\/p>\n\n\n\n<p>Dalam pandangannya, kabupaten yang memiliki wilayah terpencar-pencar itu\nharus bisa menerapkan model pembangunan berkelanjutan yang terpadu <em>(integrated sustainable development)<\/em>,\nyang menitik beratkan pada pengelolaan sumber daya alam baik yang tidak\nterbarukan <em>(non-renewable resources)<\/em>\nseperti pertambangan maupun yang terbarukan <em>(renewable\nresources)<\/em> seperti perikanan, pertanian dan perkebunan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cYang paling penting dalam model pembangunan berkelanjutan yang terpadu adalah\ntersedianya sumber daya yang memadai baik sumber daya alam, sumber daya\nmanusia, maupun teknologi.&nbsp; Model ini akan memaksimalkan tiga aspek\nsekaligus yaitu aspek ekonomi, sosial dan lingkungan, dimana ketiganya saling\nberkaitan satu sama lain,\u201d ungkap Sony.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Sony, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, agar pembangunan di\nKutai Timur memberi nilai <em>(added value)<\/em>\ntambah terhadap kemajuan daerah ini, sekaligus kesejahteraan rakyatnya.\nKoordinasi antar instansi yang terkait dengan pengelolaan SDA seperti\npertambangan dan energi, kehutanan, perkebunan, perikanan, pertanian dan tata\nruang atau pertanahan sangat penting agar pengelolaan SDA tepat sasaran dan\ntidak tumpang tindih. Di matanya saat ini masih banyak terjadi tumpang tindih\npenggunaan lahan yang berpotensi konflik dan menghambat laju pembangunan.&nbsp;\n<\/p>\n\n\n\n<p>Sony berharap informasi antar instansi terbuka dan transparan. Dengan\ntransparansi ini diharapkan ada suatu informasi terpadu dan setiap warga negara\ntermasuk investor dapat mempunyai akses ke informasi terkait. \u201cSaat ini\npenyebaran informasi masih dibatasi dan dikuasai oleh pihak-pihak tertentu yang\nmempunyai kepentingan.&nbsp; Padahal setiap orang memiliki hak yang sama untuk\nmendapatkan informasi,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Berbicara tentang investor, Kutai\nTimur merupakan daerah yang sangat bergantung dengan investor dalam menjalankan\nproses pembangunannya. Sony pun mencoba berteori bahwa pengembangan wilayah,\nsuatu daerah akan maju jika ada interaksi dengan daerah lain sehingga terjadi\nperdagangan. Oleh karena itu, sudah sepantasnya jika masyarakat Kutai Timur\nmenggelar karpet merah untuk para investor, karena merekalah yang akan membantu\nmengembangkan wilayah ini. <\/p>\n\n\n\n<p>Mengecewakan investor, menurut Sony tindakan yang kurang bijak. Sebab,\nmereka bisa pergi ke daerah lain jika sudah kecewa. Tidak menutup kemungkinan,\npenanganan investor yang tidak baik, bahkan akan begitu mudah terdengar oleh\ninvestor lain di seluruh dunia. \u201cKemajuan teknologi dan informasi membuat dunia\nini begitu kecil, sehingga informasi di belahan bumi manapun akan begitu cepat\ntersebar,\u201d tutur sosok yang sudah begitu akrab dengan dunia maya ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan model pembangunan tersebut, mungkinkah Kutai Timur menjadi pelopor\ndalam pembangunan? Dengan tenang Sony menjawab, tidak ada yang tidak mungkin\njika kita bisa mengelola pembangunan dengan baik. \u201cPengelolaan pembangunan dan\npemerintahan secara efisien, kunci utama untuk mencapai hal tersebut,\u201d katanya.\nSony menambahkan, untuk mewujudkan efisiensi itu, salah satunya adalah dengan\nmembentuk manajemen proyek terpadu yang mengelola proyek-proyek fisik secara\nterpadu. Pada akhirnya dengan adanya efisiensi diharapkan tidak terjadi lagi\nkebocoran-kebocoran.&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Lebih jauh, Sony juga menyinggung tentang efisiensi tata kota Sangatta.\nDalam pandangannya, pembangunan kota ini juga perlu dikelola secara\nefisien.&nbsp; Ia mengatakan \u201csaat ini Sangatta berkembang dengan tanpa\nkendali.&nbsp; Saya merasakan bahwa masyarakat membangun tanpa ada koordinasi\nsehingga kota tidak tertata dan terpantau dengan baik.&nbsp; &nbsp;Banyak bangunan yang dibangun tanpa IMB.&nbsp; Penggunaan lahan juga tidak bisa optimal\nkarena tidak ada sistem manajemen lahan.&nbsp;Hal ini sebagai akibat tidak\nditerapkannya peraturan bangunan dengan baik, bahkan terkesan tidak ada sistem\nmonitoring pembangunan yang diterapkan.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Namun, hal yang lebih mendasar dari segala perencanaan pembangunan itu menurut Sony adalah pengembangan infrastruktur. \u201cKita tidak akan bisa berbicara pembangunan yang efisien, kesejahteraan masyarakat yang memadai, jika jalan, air bersih dan listrik sebagai kebutuhan utama masyarakat belum terpenuhi,\u201d tegasnya. Sosok yang pernah sukses mengembangkan kota Kuala Kencana dan Mimika di Papua itupun berharap dengan model pembangunan tersebut, Kutai Timur ke depan menjadi bumi impian tidak hanya bagi penduduk lokalnya, namun bagi siapa saja yang hadir di bumi ini.<\/p>\n\n\n\n<h3>Cinta Pendidikan<\/h3>\n\n\n\n<p><strong>DUNIA<\/strong> pendidikan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan Sony.\nBaginya, menuntut ilmu adalah suatu keharusan. Oleh karenanya, selepas\npendidikan S-1 bidang arsitektur di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta tahun\n1986, Sony masih terus melanjutkan studinya hingga jenjang doktoral.&nbsp; Untuk mengabdikan ilmunya, ia pun memilih\nberkarya di jalur akademik.&nbsp; Tahun\n1990-1992, Sony menjadi pengajar tetap di Universitas Diponegoro, Semarang dan\npengajar paroh waktu di Universitas Mercu Buana dan Universitas Persada\nIndonesia, Jakarta antara tahun 1988-1994.<\/p>\n\n\n\n<p>Kecintaannya terhadap dunia pendidikan, tidak hilang\nmeski ia harus tinggal di kota kecil Sangatta. Sony selalu berupaya\nmeluangkan waktunya demi kemajuan lembaga pendidikan yang ada di Sangatta,\nseperti Yayasan Pendidikan Prima Swarga Bara (YPPSB). Seringnya terlibat dalam\nberbagai kegiatan sekolah tersebut, membuat penerima beasiswa <em>Fulbright<\/em> untuk jenjang PhD (S-3) di\nAmerika Serikat itu begitu popular namanya. <\/p>\n\n\n\n<p>Popularitas tersebut dibuktikan ketika Sony menang mutlak pada pemilihan\nketua komite sekolah. Pemilih yang merupakan gabungan ribuan orang tua dan wali\nmurid siswa TK, SD, dan SMP&nbsp; di bawah\nnaungan YPPSB, seolah sepakat memilih Sony menjadi corong perantara orang tua\nmurid dengan pihak sekolah, dengan mendudukannya pada jabatan Ketua Komite\nSekolah YPPSB. Peristiwa tersebut menandai begitu kuatnya harapan orang tua\nkepada sosok yang satu ini untuk turut memajukan lembaga pendidikan yang ada.<\/p>\n\n\n\n<p>Pentingnya pendidikan bagi putra ke enam dari pasangan HR. Soemitro dan\nalmarhumah Soenarti itu, nampak dalam gayanya dalam mendidik putra putrinya.\nKepada anak-anaknya ia selalu menekankan pentingnya ilmu pengetahuan yang\nmerupakan modal utama dalam meraih masa depan. \u201cSaya tidak ingin membekali\nanak-anak dengan harta yang kapan saja bisa habis. Bekal ilmu pengetahuan akan\nlebih langgeng sekaligus mampu membuat mereka lebih mandiri dalam menghadapi\nkerasnya kehidupan. Untuk itu, saya lebih suka berinvestasi melalui pendidikan\nketimbang harta kekayaan,\u201d tuturnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena prinsip itulah, Sony tidak segan mengeluarkan biaya besar untuk\npendidikan putra putrinya. Angkasa Putra Miarsono (18 tahun) putra pertamanya,\nsaat ini tengah kuliah tingkat dua di TAFE, Sydney, Australia.&nbsp; Sedangkan Samudra Perkasa Miarsono (16 tahun)\nputra keduanya tekun menuntut ilmu di Ryde Secondary Collage, Sydney, Australia\nkelas 11. Sementara putri semata wayangnya, Melati Bunga Miarsono (9 tahun)\nmasih menuntut ilmu di SD IGM Palembang, tempat Sony bekerja saat ini sebagai\nSenior GM External Affairs di PT Barasentosa Lestari, sebuah perusahaan tambang\nbatu bara.<\/p>\n\n\n\n<p>Model pendidikan yang diterapkan kepada anak-anaknya, tidak terlepas dari\npola asuh dan pola didik kedua orang tuanya. Sony terbiasa dididik disiplin\ndari kecil. Tidak mengherankan jika bocah kecil yang kerap menjadi juara kelas\nitu, mampu mengukir prestasi cemerlang sejak duduk dibangku Sekolah Dasar.&nbsp; Prestasi yang sangat membanggakan bagi kedua\norangtuanya adalah terpilihnya Sony kecil sebagai siswa teladan tahun 1975.<\/p>\n\n\n\n<p>Beranjak remaja, prestasi Sony semakin membanggakan. Tahun 1979 ketika\nmasih berada di bangku SMA, Sony terpilih mengikuti program pertukaran pelajar <em>(exchange student)<\/em> AFS di Amerika\nSerikat.&nbsp; Kesempatan itu merupakan kali\npertama penerbangannya keluar negeri. Prestasi demi prestasi yang diraihnya\nsejak kecil, bukanlah diperoleh secara kebetulan. Lebih tepatnya, semua itu\ndiperoleh <em>\u2018by design\u2019<\/em>, dengan kerja\nkeras, kedisiplinan, dan ketekunan, serta kecintaannya terhadap dunia\npendidikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Cinta pendidikan dan senang berbagi ilmu pengetahuan, agaknya dua ungkapan\nyang paling pas untuk menggambarkan kecintaan laki-laki yang jauh dari kesan\nglamour itu, terhadap dunia pendidikan. Hobby <em>\u2018sharing\u2019<\/em> pengetahuan yang dilakukannya disela-sela jam kerja,\nmerupakan satu hal yang tidak bisa dilepaskan dari kebiasaannya. Bagi ratusan\nstaf yang pernah menjadi bawahan mantan GM ESD, KPC itu, bukan hal aneh jika\nsetiap akhir pekan menerima email pembelajaran dari <em>boss<\/em>nya. Dengan setia, Sony menyebarkan berbagai pengetahuan\nsingkat baik terkait psikologi, manajemen, leadership, maupun sekedar ungkapan\nbijak yang syarat makna. Kini, pesan elektronik itu tidak pernah muncul lagi di\nakhir pekan, seiring kepergian pengirimnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Apakah hanya melalui media itu Sony berbagi ilmu? Jawabannya tentu saja\ntidak. Sosok lulusan terbaik di Jurusan Arsitektur UGM tahun 1986 itu, cukup\npaham, bagaimana cara berbagi pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya.\nBerbagai media pun ia manfaatkan demi satu tujuan, ilmu yang berguna. Karena\nitu pula, sosok yang senang berorganisasi ini tidak sampai hati menolak\nberbagai permintaan untuk menjadi pembina di berbagai organisasi, meski harus\ndijalankan di sela-sela kesibukan kerjanya. <\/p>\n\n\n\n<p>Catat saja keterlibatan Sony di Yasayan Sangatta Baru (YSB), Koperasi\nKaryawan KPC, Komite Sekolah YPPSB, Periska, Dewan Riset Daerah (DRD), Himpunan Karya Tani Indonesia (HKTI), FKPPI,\nYayasan Pembina Muslim Daarussalaam, Persatuan Sepakbola KPC, Badan\nPembina Olah Raga (BAPOR) KPC, KNPI, Persikutim, dan Kagama yang\nkesemuanya bermuara di kota Sangatta. Melalui organisasi ini pula Sony mencoba\nberbagi pengetahuannya bagaimana manajerial yang pas dalam menjalankan roda\norganisasi. <\/p>\n\n\n\n<p>Keterlibatannya di berbagai organisasi sosial tersebut semata-mata\nmerupakan bentuk kecintaan dan kepeduliaanya terhadap pemberdayaan sosial,\nwalaupun tidak tanpa konsekuensi.&nbsp; Baginya,\nsetiap tindakan dan keputusan akan membawa konsekuensi tersendiri, terlepas dari\nbenar atau salah pilihan tersebut. \u201dYang terpenting bagi saya adalah, tindakan\ntersebut diambil berdasarkan keputusan matang, maka segala konsekuensi yang\ntimbul termasuk hilangnya waktu untuk keluarga menjadi konsekuensi yang harus\nditerima dan dihadapi dengan bijak, ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Itu sebabnya, Sony selalu mempertimbangkan segala sesuatunya dengan matang, termasuk jika ia ingin beralih profesi suatu hari nanti. Suatu ketika, sempat terlintas di benak Sony untuk menjadi teknokrat yang dekat dengan rakyat, bukan lagi sebagai profesional yang terikat dengan segala kebijakan yang berlaku di sebuah perusahaan. Ia berharap, alih profesi tersebut lebih memungkinkan untuk mengabdikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya sekaligus mengimplementasikan ide-ide pengembangan masyarakat yang terus menggelayuti pemikirannya. Tentunya, hal ini perlu ruang yang tepat, waktu dan proses, serta dukungan sekelilingnya<\/p>\n\n\n\n<p>Tentang Poligami dan Gender<\/p>\n\n\n\n<p><strong>KETIKA<\/strong> poligami tengah\nmarak dilakukan oleh sejumlah tokoh nasional hingga kyai kondang, pertanyaan\nmenggelitik pun sempat mendarat kepada Sony. \u201dAkankah bapak melakukan\npoligami\u201d? Nada pertanyaan itu wajar diarahkan kepadanya.&nbsp; Sebab, dilihat dari segi jabatan dan finansial\nyang dimiliki saat ini, sangat memungkinkan jika ia memang menghendakinya. <\/p>\n\n\n\n<p>Menanggapi hal tersebut, jawaban diplomatis ia lontarkan. \u201dSaya sangat\nmenghomati harkat dan martabat perempuan, dan saya tidak sampai hati kalau\nharus menyakiti hatinya,\u201d tegasnya.&nbsp; Ia\nmelanjutkan \u201dandai saja posisi dibalik, perempuan yang melakukan poliandri,\nsaya kira laki-laki juga akan merasakan rasa sakit yang sama. Oleh karena itu,\nsaya tidak ingin mengambil jalan poligami, karena saya tidak ingin menyakiti\nhati istri saya,\u201d tegas Sony.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketidaksetujuan sosok yang hingga kini tetap setia dengan istri\ntercintanya, Maya Saadah, bukan semata persoalan menghormati persaan perempuan.\nSebagai seorang ayah, Sony tidak ingin dirinya menjadi model yang kelak ditiru\noleh anak-anaknya. \u201dSaya tidak ingin anak laki-laki saya memadu istrinya, atau\nsebelaiknya anak perempuan saya dimadu suaminya, hanya karena mereka mencontoh\ntindakan saya,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sosok yang mempersunting gadis kelahiran Serang, 4 April 1968 itu, juga\ntahu persis bagaimana harus berterima kasih kepada istrinya yang telah\nmendukung kesuksesan pendidikan dan karirnya. Maya Saadah yang mengakhiri masa\nlajangnya tahun 1990 menjadi sosok penting dibalik kesuksesan suaminya.\nKesetiaan itu pula yang membuat Maya, panggilan akrab Maya Saadah, suatu ketika\nmengorbankan kepentingan studinya demi mendukung kesuksesan pendidikan S-3\nsuaminya di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika itu, Maya yang lulusan Akademi Sekretaris di Jakarta, tengah tekun\nmenuntut ilmu jurusan Bahasa Inggris di Universitas Atma Jaya, Jakarta. Ia\ntinggalkan studi itu, dan memutuskan untuk bersama-sama suaminya hijrah\nsementara waktu ke Negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Pengorbanan yang tulus\nseorang istri dan ibu dari kedua anaknya saat itu tidaklah sia-sia. Suaminya\nberhasil menyelesaikan studinya tepat waktu.<\/p>\n\n\n\n<p>Penghargaan Sony terhadap perempuan bukan semata karena\nkeciantaan dirinya kepada istri tercintanya, atau sebaliknya kesetiaan dan\nketulusan istrinya dalam mendampingi hidupnya. Hal yang lebih mendasar adalah\npemahaman sosok yang pernah menjadi pembicara persoalan kesetaraan jender di <em>Australian National University<\/em> (ANU) itu\nsendiri terhadap konsep kesetaraan gender. \u201dPersoalan kesetaraan gender saat\nini, menjadi salah satu faktor munculnya kemiskinan di sejumlah negara. Bahkan\njika terjadi suatu kemiskinan, perempuan akan menjadi kelompok yang paling\nterkena imbasnya,\u201d kata sosok pemerhati masalah perempuan itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Pemahaman itulah yang mendasari sikap Sony untuk terus memperjuangkan hak\nperempuan agar bisa berdiri sejajar dengan laki-laki. Pengakuan Sony atas kesetaraan\nitu nampak jelas dari peluang berkarir bagi perempuan yang kerap ia berikan.\nSelama memegang jabatan tertentu, Sony tidak segan mengangkat staf perempuan,\nbahkan untuk posisi yang cukup strategis sekalipun, seperti manajer. Ini bisa\ndilihat ketika dirinya menjabat GM ESD di KPC.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi Sony, perempuan memiliki keunggulan tersendiri yang tidak dimiliki\nkaum laki-laki, yaitu dalam hal ketelitiannya. Faktor ketelitian itu pula yang\nmenurut John Naisbit dan Patricia Aburdene dalam bukunya Megatrends 2000, yang\nmemungkinkan perempuan menjadi pemimpin di masa mendatang.<\/p>\n\n\n\n<p>Perhatiannya terhadap persoalan perempuan membuat Sony tanpa berpikir\npanjang menerima tawaran menjadi pembina organisasi persatuan istri karyawan\nKPC (Periska) selama enam tahun. Di matanya, organisasi ini memiliki peranan\npenting dan berkontribusi terhadap produktivitas para suami, yang berujung pada\npencapaian produktivitas perusahaan. <\/p>\n\n\n\n<p>Eksistensi perempuan yang kadang diedentikkan sebagai <em>\u2019orang wingking\u2019 <\/em>menurut Sony juga bukan zamannya lagi saat ini.\nOleh karena itu, Sony berkeinginan membuat program pemberdayaan perempuan, jika\nsuatu hari nanti berkesempatan menjadi seorang pemimpin dalam arti yang lebih\nluas. Saat ini, ketika dirinya masih terikat dengan profesinya sebagai bagian sebuah\nperusahaan, tentunya mewujudkan keinginan tersebut bukan hal mudah. Lebih\nlanjut Sony berpendapat, jika perempuan memiliki kesempatan berkarya yang sama\ndengan laki-laki, diharapkan mereka memiliki <em>\u2019bargaining position\u2019<\/em> (posisi tawar) yang memadai.<\/p>\n\n\n\n<p>Mengapa <em>bargaining position<\/em> menjadi begitu penting? Jika dikaitkan dengan persoalan poligami misalnya, perempuan sering berada pada posisi lemah yang kadang tidak bisa menolak keinginan suami. Akibatnya dominasi suami begitu kuat terhadap istrinya. Namun demikian, <em>bargaining position<\/em> dan pemberdayaan perempuan dalam arti yang lebih luas, tidak hanya penting dalam persoalan poligami. Dalam kontek yang lebih luas pemberdayaan perempuan diharapkan membawa dampak yang lebih serius, yaitu terangkatnya harkat dan martabat perempuan itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Sony di Mata Sahabat<\/p>\n\n\n\n<p><strong>SELAMA<\/strong> kebersamaannya\ndi kota tercinta Sangatta, aktivitas Sony di berbagai bidang telah mengukir\npersahabatan tersendiri. Berbagai kesan pun muncul, dari persahabatan yang\ndijalin sosok yang supel dalam bergaul itu. Beberapa komentar bahkan sempat\nterekam dalam sebuah video shooting saat Sony akan meninggalkan kota ini. Tentu\nsaja, tidak semua kesan para sahabat bisa dituliskan dalam paparan singkat ini.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Louise Gerda Pessireron, Manajer <em>Project\nManagement and Evaluation<\/em>, KPC <\/strong>mengaku terkesan dengan\nkepribadian Sony, yang menjadi atasan sekaligus sahabat bertukar pikiran. \u201dPak\nSony orangnya cukup terbuka, dan mengedepankan&nbsp; tim kerja. Beliau juga\n&nbsp;mau menerima masukan meski dari bawahannya. Dalam pergaulan, pak Sony\ncukup supel dan mau berteman dengan segala lapisan. Terkait pengembangan\nmasyarakat, beliau memiliki pandangan tersendiri yang berpihak pada kepentingan\nmasyarakat. Pendek kata, pak Sony bisa dianggap sebagai \u2019soko guru\u2019,\u201d demikian\ntutur perempuan yang cukup lama mengenal sosok Sony. <\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, <strong>DR. Nora Suzuki\nMokodompit, Direktur Pusat Studi dan Kajian Bahasa Universitas 17 Agustus 1945<\/strong>,\nSamarinda melihat Sony sebagai sosok yang visioner dan peduli pada pendidikan\nyang berkualitas. \u201dSelama kebersamaan di Sangatta, saya mengenal pak Sony\nsebagai pribadi yang sederhana dan apa adanya. Beliau juga ramah, religius, dan\npekerja keras,\u201d kenang Nora terhadap sahabatnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kesan lain juga datang dari pengusaha kecil. <strong>Hamka Darasa, dari Usaha Kecil&nbsp;\nMenengah Bengalon<\/strong> misalnya, menilai kontribusi Sony terhadap\npeningkatan kesejahteraan masyarakat yang berbasis bisnis kerakyatan cukup\nbesar. Beliau juga memiliki loyalitas dan sifat kekeluargaan terhadap\nmasyarakat kecil. Pendek kata, beliau sosok yang peduli dengan pemberdayaan\nmasyarakat kecil. \u201dPanggilan pak Sony, sangat cocok untuk beliau. Jika\ndiibaratkan merk elektronik, Sony adalah merk yang cukup handal dan sudah\nsenior di bidangnya. Dimata saya, pak Sony juga sudah cukup senior dan handal,\u201d\ndemikian Hamka membuat perumpamaan sekaligus apresiasi terhadap sosok yang\ndianggap telah berjasa dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat kecil. \u201dKami\njuga bisa merasakan program vital pembangunan baik makro maupun mikro yang\ndigagasnya,\u201d imbuhnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagaimana sosok Sony di mata <strong>Letkol Inf\nMukhtar, Komandan Kodim 0909\/Sangatta<\/strong> \u201dBagi saya, pak Sony sosok yang baik,\ndan keluarganya cukup harmonis.&nbsp; Beliau\nmerupakan sosok pemimpin yang cukup luas pergaulannya dan tidak banyak\nmengeluh.&nbsp; Selain itu, dalam hal\nkeagamaan, sosok yang satu ini bisa dikatakan taat beribadah. Pendek kata pola\nhidup beliau cukup teratur,\u201d demikian kesan Letkol Muhtar. Lebih lanjut, ia\nmendoakan semoga kesuksesan selalu menyertai Sony dalam meraih segala cita-cita\nyang diinginkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Berbicara sosok pak Sony, tidak lepas dari pembicaraan kejujuran dan\nintegritas seseorang. Kalimat singkat itulah yang keluar dari bibir mungil <strong>DR. dr. Inggriani Gandha, <em>Executive Director, <\/em>International SOS\nIndonesia.<\/strong> Di matanya, Sony sosok yang lugas dan apa adanya. \u201dPak Sony itu\njujur banget, dan gak berbelit-belit orangnya. Jadi saya sangat nyaman\nberkomunikasi dengan beliau. Dalam membuat suatu program ukurannya cukup jelas,\ndan beliau akan mengawal program tersebut hingga tuntas dilaksanakan. Karena\nbeliau sosok yang komunikatif, maka saya tidak perlu mengeluarkan energi banyak\nuntuk berdebat, ataupun sekedar mengikuti jalan pikirannya. Bahkan bisa\ndikatakan segala keputusan yang disampaikan, tidak perlu penafsiran karena\norangnya memang nggak neko-neko,\u201d itulah pemaparan lugas dari sahabatnya yang\nmengenal Sony sejak tujuh tahun silam.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi <strong>HM<\/strong> <strong>Suwito, S.Sos, tokoh masyarakat Jawa <\/strong>dan\n<strong>mantan Kepala Desa &nbsp;Sangatta Selatan<\/strong>, Sony digambarkan sebagai\nsosok yang bijaksana dan <em>accountable<\/em>\ndalam menjalankan tugas. Terhadap pemerintah daerah, Sony dinilai cukup\naspiratif. Sosoknya yang sabar dan rendah hati membuat beliau mudah menjalin\nhubungan dengan berbagai lapisan masyarakat. \u201dSecara pribadi, saya mengakui\nbahwa beliau sosok yang baik,\u201d ungkap Suwito.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak jauh berbeda dengan komentar banyak pihak, <strong>Ir Ismunandar, MM Sekretaris Badan Pelaksana Forum Multi- Stakeholder CSR<\/strong>\nKabupaten Kutai Timur juga mengatakan Sony sebagai sosok yang rendah hati.\n\u201dBeliau memiliki jenjang pendidikan yang tinggi hingga mencapai gelar doktor.\nDari segi posisi, beliau memiliki jabatan cukup tinggi sebagai seorang GM.\nNamun demikian, beliau masih tetap mau bertemu dan melayani seluruh lapisan\nmasyarakat, bahkan sampai ke tingkat desa,\u201d demikian pengakuan Ismunandar yang\ncukup banyak menjalin kerjasama dengan Sony selama di Sangatta.&nbsp; Selain itu, ia mengenal Sony sebagai sosok\nyang cepat tanggap dan peduli dengan permasalahan yang ada di tengah\nmasyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Kesan sosok rendah hati agaknya menjadi pendapat umum yang berkembang di\nkalangan sahabat-sahabat Sony. Ini terbukti dari banyaknya komentar senada yang\ndiarahkan untuk sosok yang satu ini. <strong>Alwin Rondonuwu<\/strong><strong>, tokoh masyarakat Sulawesi Utara <\/strong>yang\nsaat ini menjabat <strong>Manajer Koperasi\nKaryawan Kaltim Prima Coal (K3PC) <\/strong>misalnya, menilai Sony juga sebagai sosok\nyang rendah hati dan fleksibel dalam pergaulan. \u201dBeliau mau menerima masukan\ndari siapa saja. Sebagai seorang pemimpin, beliau merupakan sosok yang\nprofesional sekaligus visioner,\u201d ungkapnya. Sony dinilai memiliki visi yang jelas\ndari setiap program yang digagasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, <strong>Ketua Persekutuan\nDayak Kalimantan Timur<\/strong> <strong>(PDKT) Cabang\nKutai Timur<\/strong>, <strong>Bayau Lung<\/strong> menilai\nSony sudah berbuat sesuatu untuk masyarakat dan suku yang tinggal di pedalaman.\n\u201dBeliau itu orangnya baik dan terbuka sekali dengan segala lapisan masyarakat,\u201d\nungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Berbagai kesan yang muncul dari berbagai kalangan terhadap Sony, setidaknya\nmemberikan sedikit gambaran bagaimana keseharian, kepribadian, integritas,\nsekaligus tipe kepemimpinannya. Sikapnya yang terbuka, rendah hati, bersahabat,\ndan menghargai orang lain lebih disebabkan oleh tingginya penghargaan dirinya\nterhadap nilai-nilai kemanusian, bukan semata didasari sebuah keinginan\nmemperbanyak teman.<\/p>\n\n\n\n<p>Sikap ini semakin mematangkan karakter Sony sebagai profesional yang tidak\nhanya peduli dengan pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi rakyat,\ntetapi juga mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap gerak\nlangkahnya. Pendek kata, Sony tidak sekedar sebagai seorang profesional. Lebih\ndari itu, ia adalah sosok <strong><em>teknokrat yang humanis<\/em><\/strong><em>, <\/em>yang siap bergandengan dengan siapa\nsaja demi mencapai kesejahteraan bersama. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sangatta Kota Tercinta KESEDIHAN tidak bisa disembunyikan dari wajah Harry Miarsono, ketika ia harus mengucapkan kata selamat jalan Sangatta.&nbsp; Meski demikian, sosok yang lebih akrab dipanggil Sony itu, perlahan dan runtut terus membacakan sambutan perpisahannya. Ia pun mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada satu persatu pejabat Kutai Timur, petinggi KPC, sahabat-sahabatnya di berbagai organisasi sosial, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ngg_post_thumbnail":0},"categories":[5],"tags":[],"gutentor_comment":0,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/108"}],"collection":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=108"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/108\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":109,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/108\/revisions\/109"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=108"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=108"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=108"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}