{"id":106,"date":"2019-03-28T05:10:40","date_gmt":"2019-03-28T05:10:40","guid":{"rendered":"http:\/\/zulfatunmahmudah.id\/?p=106"},"modified":"2019-03-28T05:10:42","modified_gmt":"2019-03-28T05:10:42","slug":"kecerdasan-sosial-kunci-sukses-pemimpin-refleksi-ketokohan-kh-ubaidi-usman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/?p=106","title":{"rendered":"Kecerdasan Sosial Kunci Sukses Pemimpin (Refleksi Ketokohan KH Ubaidi Usman)"},"content":{"rendered":"\n<p>Pekerja keras dan cinta ilmu\npengetahuan. Ungkapan itu agaknya tepat untuk menggambarkan sosok ini. Tokoh\nyang lahir di desa kecil Sirau 1932 silam itu menghabiskan sebagian hidupnya\nuntuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan dunia pendidikan di daerah\nkelahirannya. Ia adalah KH. Ubaidi Usman yang akrab disapa Ubaidi. Meski lahir\ndi desa, pemikiran dan perhatiannya pada dunia pendidikan terbilang luar biasa\npada zamannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Hobby membaca dan belajar sudah\nditunjukkan Ubaidi sejak kecil. Ini dibuktikan dengan kerajinannya mengaji dan\nberguru pada para guru ngaji dan kyai kala itu. Menginjak usia remaja, putra\npasangan Usman dan Kasinah inipun memutuskan memperdalam ilmu agama di salah\nsatu pesantren yang terletak di Bendo, Pare, Kediri. Jarak yang cukup jauh\ntidak menyurutkan semangatnya. Dengan berbekal doa ayah ibunya, ia pun berhasil\nmenyelesaikan pendidikan di Pesantren tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Sekitar tahun 1949, Ubaidi\nberhasil menyelesaikan pendidikannya dan bertekad kembali ke daerah asal untuk\nmengabdikan ilmunya. Perjalanan pulang kampung pun dilakoninyadengan &nbsp;jalan kaki. Hampir satu bulan lamanya\nperjalanan ia tempuh. \u201cBapak pulang jalan kaki karena saat itu ada agresi\nmiliter Belanda kedua. Selama perjalanan Bapak sering ngumpet agar tidak\nditangkap Belanda,\u201d tutur Ubaidi kepada anak-anaknya. Cerita pengantar tidur\nyang selalu diulang itu, ia maksudkan agar anak-anaknya tidak mudah menyerah dalam\nmenuntut ilmu.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Merintis Lembaga Pendidikan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Tiba kembali di desa kelahirannya,\nUbaidi masih rajin mengaji kepada Kyai Mukri, yang kelak akan menjadi\nmertuanya. Selain berguru, ia juga turut membantu pengajian yang ditangani sang\nKyai. Kala itu, tepatnya tahun 50-an, Ubaidi beserta teman-teman\nseperjuangannya sudah mulai merintis Sekolah Arab. Desa Sirau pun menjadi\nmagnet bagi para pencari ilmu dari berbagai daerah.<\/p>\n\n\n\n<p>Ubaidi beserta teman-teman\nseperjuangannya terus berupaya mengembangkan lembaga pendidikan, hingga\nakhirnya terbentuklah Madrasah Wajib Belajar (MWB). Kesuksesan membentuk MWB\ntidak membuat Ubaidi berpuas diri. Tahun 1962, ia pun turut membidani lahirnya\nPendidikan Guru Agama (PGA) dan Madrasah Tsanawiyah dan \u2018Aliyah yang semuanya\nbernaung di bawah Yayasan Mu\u2019allimin.<\/p>\n\n\n\n<p>Keikhlasan Ubaidi mengurusi\nlembaga pendidikan membuat dirinya tidak pernah terpikir dengan status\nkepegawaiannya. Hingga akhirnya atas saran sejumlah pihak, ia pun mengikuti\nujian guru negeri. Tahun 1967 menjadi tonggak kiprah Ubaidi di dunia pendidikan\ndengan status PNS. Yayasan Mua\u2019allimin yang kala itu menaungi pendidikan dari\nTK,MI, MTs hingga MA maju pesat di bawah kepemimpinannya. Desa Sirau menjadi\nsalah satu referensi masyarakat yang ingin memburu ilmu, khususnya ilmu agama.<\/p>\n\n\n\n<p>Mimpi Ubaidi mengembangkan lembaga\npendidikan yang diasuhnya tidak pernah pudar. Dalam sebuah pidato pelepasan\nsiswa MTs dan MA, Ubaidi pernah menyampaikan keinginanya untuk membentuk\nPerguruan Tinggi guna menampung lulusan MA yang dipimpinnya. \u201cBapak Ibu para\nwali murid, saya mengajak bapak ibu untuk membangun lembaga pendidikan yang\nlebih tinggi agar anak anak kita bisa kuliah disini. Rencana ini bisa terwujud\njika kita mau kerja keras sama-sama,\u201d tegasnya dalam gaya orasi yang\nberapi-api. Sayang impian besar itu tidak terwujud hingga \u201cpahlawan tanpa tanda\njasa\u201d itu menghembuskan nafas terakhirnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sang tokoh tidak hanya mewariskan\nlembaga pendidikan formal. Untuk menampung siswa yang berasal dari luar daerah,\nUbaidi sempat membangun asrama yang akhirnya berubah menjadi Pesantren Darul \u2018Ulum\nSirau. &nbsp;Meski sosok Ubaidi telah tiada,\nnamun warisan besarnya masih terpelihara di tangan putra putrinya, termasuk MA\nMua\u2019allimin yang sejak tahun 2012 berubah nama menjadi MA Ma\u2019arif I Sirau.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Sosok Dibalik Kesuksesan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDibalik pria sukses selalu ada\nwanita tangguh yang mendampinginya\u201d. Pepatah itu laksana doa bagi sosok Ubaidi.\nKesuksesannya memimpin lembaga pendidikan di Sirau tidak terlepas dari peran\nperempuan tangguh yang mendampingi hidupnya dalam suka dan duka. Perempuan itu\nadalah Hj. Nur Sa\u2019idah, gadis kembang desa Sirau yang lahir tahun 1932. Putri bungsu\npasangan Kyai dan Nyai Mukri ini merupakan hadiah terindah yang diperoleh\nUbaidi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDulu ketika bapak rajin ngaji ke\nmbah Mukri, ibumu masih sering ketidur dipangkuan ayahnya yang lagi ngajar\nngaji,\u201d kenang Ubaidi yang diselipkan dalam cerita pengantar tidur kepada\nanak-anaknya. \u201cMbah Mukri itu terkesan sama Bapak yang rajin dan pintar ngaji.\nMakanya disuruh nikah sama ibu,\u201d kelakar Ubaidi mengenang masa lalunya.\nAkhirnya mereka pun menikah tahun 1955. Dari pernikahan itu, Ubaidi dan Sa\u2019idah\ndikaruniai enam putri dan dua putra.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai putri tokoh besar kala\nitu, Sa\u2019idah lahir dan besar dalam gelimang harta dan sarat penghormatan. Latar\nbelakang hidupnya tidak membuat Sa\u2019idah enggan mengikuti pola hidup sang suami\nyang menghabiskan hidupnya untuk berjuang. Ubaidi yang kala menikah dengan\nSa\u2019idah masih harus fokus merintis pendidikan, tidak segan-segan menyisihkan\nsebagian pendapatannya untuk kelancaran operasional sekolah. Salah satunya\nadalah konsumsi guru yang tiap hari harus ia tanggung sendiri karena memang\ntidak ada dana dari sekolah.<\/p>\n\n\n\n<p>Ubaidi tidak hanya memiliki\nkecerdasan intelektual. Ia juga memiliki kecerdasan sosial yang luar biasa.\nMasih jelas dalam ingatan banyak orang ketika ia harus merelakan rumahnya untuk\nmenampung para siswa yang berasal dai luar daerah. Kala itu, asrama atau\npesantren belum terbangun karena minimnya dana yayasan. Terhadap semua langkah\nsuaminya, Sa\u2019idah terus mendukung sebagai bagian dari pengabdiannya sebagai\nistri. Ubaidi menghargai pengabdian itu dengan memberikan pengajaran khusus\nhingga Sa\u2019idah mampu menjadi da\u2019iyah kondang dan pemimpin organisasi, seperti\nMuslimat NU. <\/p>\n\n\n\n<p>Meski tidak lahir di era modern,\nUbaidi paham benar apa arti kesetaraan dan emansipasi. Tidak mengherankan jika\nsampai akhir hayatnya Ubaidi selalu memberikan kesempatan pada istrinya untuk\ntampil di berbagai panggung dakwah. Sikap ubaidi tersebut juga ditunjukkan pada\npara putrinya melalui pesan-pesan yang disampaikan di tengah obrolan santai.\n\u201cAnak-anakku meski kalian perempuan, Bapak tidak ingin kalian hanya menjadi ibu\nrumah tangga yang diam di rumah. Kalian harus tetap punya profesi yang bisa\ndibanggakan,\u201d demikian pesan yang disampaikan pada anak-anak perempuannya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Sayang Keluarga<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kesibukan dan perhatian Ubaidi\npada dunia pendidikan tidak membuat dirinya jauh dari anak-anaknya. Bagi Ubaidi\nkedekatan dengan anak tetap menjadi prioritas utama. Ia tidak pernah capek\nmenyempatkan ngajar ngaji hingga membantu mengerjakan PR anak-anaknya di\nsela-sela kesibukan kerja. <\/p>\n\n\n\n<p>Tidak hany itu, tiap hari Ubaidi\nselalu menceritakan dongeng pengantar tidur bagi anak-anaknya. Dari mulai\ndongeng \u201cKancil Nyuri Mentimun\u201d sampai kisah-kisah para nabi menjadi santapan\nharian yang disuguhkan kepada putra putrinya. Tentu saja, suguhan kisah masa\nlalu Ubaidi tidak pernah ketinggalan diceritakan meski sifatnya pengulangan\nyang kadang sudah sangat dihafal oleh anak-anaknya. Disela-sela dongeng dan\ncerita itulah Ubaidi menyelipkan ajaran moral tentang kehidupan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kini ayah dan tokoh besar itu\ntelah tiada, namun cerita dan perjuangannya tidak akan pernah dilupakan oleh\norang-orang yang mengasihinya. Ubaidi pergi bukan meninggalkan harta, melainkan\nmeninggalkan warisan ilmu pengetahuan dan lembaga pendidikan yang dirintisnya\nsejak muda. Sang tokoh, KH Ubaidi Usman berpulang ke rahmatulloh tahun 2006,\ntidak lama setelah kepergian istri tercintanya, Hj. Nur Sa\u2019idah menghadap Sang\nPencipta.<\/p>\n\n\n\n<p>(Disarikan dari\nberbagai dokumen dan wawancara sejumlah saksi sejarah)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pekerja keras dan cinta ilmu pengetahuan. Ungkapan itu agaknya tepat untuk menggambarkan sosok ini. Tokoh yang lahir di desa kecil Sirau 1932 silam itu menghabiskan sebagian hidupnya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan dunia pendidikan di daerah kelahirannya. Ia adalah KH. Ubaidi Usman yang akrab disapa Ubaidi. Meski lahir di desa, pemikiran dan perhatiannya pada dunia [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ngg_post_thumbnail":0},"categories":[5],"tags":[],"gutentor_comment":0,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/106"}],"collection":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=106"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/106\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":107,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/106\/revisions\/107"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=106"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=106"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/zulfatunmahmudah.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=106"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}